Cegah Ancaman Drone, Australia Integrasikan Sensor Pasif Pandion Sentinel Pada Ranpur IFV AS21 Redback

Industri pertahanan Australia bersama manufaktur alutsista asal Korea Selatan mengantisipasi ancaman wahana tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) di medan tempur modern. Hanwha Defence Australia kini berkolaborasi erat dengan perusahaan teknologi sensor domestik, Visionary Machines, untuk menguji coba integrasi sistem deteksi pasif Pandion Sentinel ke dalam platform Kendaraan Tempur Infanteri (Infantry Fighting Vehicle/IFV) AS21 Redback.

Baca juga: Korea Selatan Kirim Redback ke Australia, Inilah Varian Tercanggih dari Ranpur K-21

Langkah taktis ini dirancang guna memberikan lapisan perlindungan ekstra dan meningkatkan kewaspadaan situasional (situational awareness) bagi satuan kavaleri terdepan Angkatan Darat Australia (Australian Army) dari intaian serta serangan mendadak drone tempur lawan.

Eksperimen integrasi teknologi pasif ini berfokus pada pengadopsian perangkat Pandion Sentinel buatan Visionary Machines. Berbeda dari sistem radar penjejak konvensional yang memancarkan sinyal radio frekuensi tinggi, Pandion Sentinel beroperasi secara 100 persen pasif dengan mengandalkan larik optik multispektral.

Perangkat ini menggabungkan sensor Visual (RGB), Near-Infrared (NIR), Shortwave Infrared (SWIR), hingga Longwave Infrared (LWIR). Melalui pemrosesan citra optik canggih, sistem ini mampu mendeteksi, melacak, dan mengklasifikasikan drone mikro hingga sedang (Kelompok 1 hingga Kelompok 3) dari jarak aman lebih dari 1 kilometer tanpa memancarkan emisi gelombang elektromagnetik yang dapat melacak lokasi atau membocorkan posisi ranpur kepada lawan.

Pengembangan bersama ini menyusul penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Hanwha Defence Australia, Hanwha Systems, dan Visionary Machines pada ajang pameran kedirgantaraan Avalon International Airshow pada Maret 2025 lalu. Kedua pihak secara intensif menguji keandalan sensor optik pasif berdaya rendah di bawah 250 Watt tersebut agar dapat langsung bertukar data intelijen sasaran (target tracking) ke sistem kendali komando (Command and Control/C2) ranpur.

Kehadiran sensor ini sangat vital untuk memangkas waktu respons kru ranpur dari ancaman loitering munition (drone kamikaze) maupun drone pengintai yang memandu tembakan artileri musuh.

Hanwha Kalahkan Rheinmetall, Australia Pilih IFV “Redback” Sebagai Pemenang Tender Land 400 Phase 3

Platform AS21 Redback sendiri menyajikan basis ranpur berlapis baja berat yang ideal untuk instalasi perangkat deteksi ini. Versi standar Australia dibekali persenjataan utama berupa meriam otomatis Mk44S Bushmaster II berkaliber 30 mm yang sanggup menembakkan amunisi programmable proximity, peluncur rudal anti-tank terpandu Spike LR2, serta sistem perlindungan aktif (Active Protection System/APS) Iron Fist.

Penggunaan roda rantai komposit karet (composite rubber tracks) pada Redback juga secara signifikan meredam getaran mekanis dan kebisingan akustik, sehingga sangat mendukung performa stabilitas penginderaan sensor optik Pandion Sentinel saat ranpur melaju di medan off-road.

Proyek uji coba sensor anti-drone pasif ini berjalan beriringan dengan program pengadaan alutsista darat bernilai fantastis milik Australia, yakni proyek LAND 400 Phase 3. Dalam program strategis tersebut, Pemerintah Australia secara resmi telah menandatangani kontrak akuisisi sebanyak 129 unit Ranpur Infanteri AS21 Redback untuk memodernisasi armada kendaraan tempur Angkatan Darat Australia.

Seluruh unit Redback tersebut diproduksi secara lokal di fasilitas manufaktur Hanwha Armoured Vehicle Centre of Excellence (HAVCOE) yang berlokasi di Geelong, Victoria, dengan jadwal pengiriman unit pertama dimulai pada tahun 2027 dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada 2028.

Integrasi Pandion Sentinel pada AS21 Redback diproyeksikan akan diperlihatkan lebih detail kepada publik dalam ajang pameran pertahanan darat internasional Land Forces 2026 di Perth.

Meski uji coba saat ini baru berfokus pada tahap penginderaan dan penjejakan (detection and tracking) ketimbang mata rantai penindakan (engagement effector) secara penuh, keberhasilan pengembangan lokal ini berpotensi menjadikan armada Redback Australia sebagai salah satu ranpur infanteri paling siap menghadapi era perang drone asimetris di masa depan. (Bayu Pamungkas)

Bertarung di Negeri Kanguru, Ranpur IFV Lynx KF41 dan Redback Tampil dalam Demo Statis

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *