Di Luar Nalar: Pilot F-15E Selamat dari Dua Kali Ejection dalam Hitungan Minggu pada Operasi Epic Fury

Konflik dengan Iran yang berkecamuk dalam Operasi Epic Fury menorehkan kisah bertahan hidup (survival) yang hampir mustahil dalam sejarah penerbangan militer modern. Laporan terbaru yang dihimpun oleh media intelijen pertahanan High Tide menyingkap bahwa seorang pilot jet tempur F-15E Strike Eagle Angkatan Udara AS (USAF) berhasil selamat setelah harus melontarkan diri (ejection) sebanyak dua kali berturut-turut hanya dalam rentang waktu beberapa minggu.

Baca juga: Kehilangan Pipa Bahan Bakar, KC-135 yang Rusak Parah Akibat Serangan Iran Tiba di Inggris

Demi alasan keamanan operasional (operational security) dan privasi, identitas resmi sang penerbang tidak dipublikasikan ke hadapan publik. Peristiwa langka yang oleh kalangan internal militer disebut sebagai keberuntungan “satu banding sejuta” ini tidak hanya menguji batas ketahanan fisik dan mental sang penerbang, tetapi juga menyingkap tabir keretakan koordinasi di tubuh pasukan koalisi serta besarnya kerugian aset udara AS akibat sengitnya perang elektronika dan pertahanan udara di kawasan Timur Tengah.

Petaka pertama yang dialami sang pilot terjadi pada fase awal kekacauan Operasi Epic Fury, tepatnya pada tanggal 1 Maret. Dalam insiden fatal yang dipicu oleh salah identifikasi atau kendala komunikasi, sebuah jet tempur F/A-18 Hornet milik Angkatan Udara Kuwait salah mengenali kawan sebagai lawan (friendly fire) dan secara tragis menembak jatuh tiga unit F-15E Strike Eagle AS sekaligus di ruang udara Kuwait.

Informasi yang dilansir High Tide menyebutkan bahwa dalam insiden mematikan di awal bulan Maret tersebut, seluruh kru dari ketiga jet tempur Strike Eagle, termasuk pilot yang dimaksud, berhasil mengaktifkan kursi lontar mereka tepat waktu dan dievakuasi dalam kondisi selamat di wilayah bersahabat.

Namun, alih-alih beristirahat pasca trauma insiden friendly fire yang mengguncang hubungan koalisi tersebut, sang pilot justru kembali diterjunkan ke garis depan hanya beberapa minggu kemudian.

Ujian hidup dan mati berikutnya datang pada tanggal 3 April, ketika pilot yang sama tengah menerbangkan F-15E Strike Eagle dalam misi penetrasi jauh di atas wilayah udara Iran bagian tengah. Kali ini, jet tempurnya tidak mampu menghindar ketika disengat oleh rudal sistem pertahanan udara (SAM) buatan Cina yang dioperasikan oleh militer Iran.

Akibat hantaman telak tersebut, sang pilot kembali terpaksa menarik tuas ejeksi bersama WSO (Weapons Systems Officer) yang duduk di kokpit belakang. Drama tidak berhenti di situ; setelah mendarat di daratan Iran, sang WSO harus melakukan prosedur evasion (menghindar dari kepungan musuh) di wilayah terisolasi untuk mencegah dirinya ditawan, hingga akhirnya berhasil diselamatkan melalui operasi infiltrasi kilat berisiko tinggi yang digelar oleh pasukan elite SEAL Team 6.

Keberhasilan sang pilot melewati dua kali insiden ejection dalam waktu yang sangat berdekatan ini langsung menjadi sorotan para ahli aviasi, yang sebagian besar memuji performa andal dari sistem kursi lontar legendaris ACES II (Advanced Concept Ejection Seat). Melakukan pelontaran dari pesawat jet tempur supersonik merupakan prosedur ekstrem yang memberikan tekanan gravitasi luar biasa pada tubuh manusia, dan mengalaminya dua kali dalam sebulan tanpa cedera fatal adalah sebuah keajaiban medis dan teknologi.

Terlepas dari ketangguhan mental sang pilot, laporan High Tide ini menjadi alarm keras bagi Pentagon mengenai tingginya tingkat kerentanan armada udara mereka di palagan Iran, terutama dengan kombinasi sistem rudal anti-pesawat buatan Cina yang mematikan serta rapuhnya manajemen ruang udara koalisi di lapangan. (Gilang Perdana)

Boeing Tampilkan F-15 Advanced Eagle dengan Built-in IRST di Depan Kaca Kokpit

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *