Incar Pasar Australia, IAI Israel Tawarkan Drone Bawah Laut ‘BlueWhale’ untuk Intai Koridor Utara dan Laut Cina Selatan

Upaya Australia menutup celah kekosongan kapabilitas tempur bawah laut sebelum hadirnya kapal selam nuklir dimanfaatkan secara agresif oleh industri pertahanan global. Perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan asal Israel, Israel Aerospace Industries (IAI), dilaporkan tengah gencar mempromosikan drone bawah laut otonom (Unmanned Underwater Vehicle/UUV) kelas berat mereka, BlueWhale (ELI-3325), untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy/RAN).

Baca juga: Israel Luncurkan ‘BlueWhale’: Kapal Selam Tanpa Awak Pengumpul Data Intelijen

Penawaran ini hadir di tengah tenggat waktu pengadaan kapal selam nuklir AUKUS yang masih memakan waktu puluhan tahun. Australia membutuhkan solusi cepat guna memantau pergerakan armada tempur asing di kawasan Pasifik dan pendekatan utara Australia (northern approaches) yang berbatasan langsung dengan alur laut kepulauan Indonesia, hingga menerobos ke Laut Cina Selatan.

Secara teknis, BlueWhale merupakan drone bawah laut berukuran raksasa dengan panjang 10,9 meter, bobot 5,5 ton, serta mampu menyelam hingga kedalaman 300 meter. Didukung sistem daya baterai berefisiensi tinggi, BlueWhale sanggup beroperasi secara senyap di laut lepas selama 10 hingga 30 hari tanpa perlu muncul ke permukaan.

Untuk mendukung misi intelijen, pengawasan, dan perburuan kapal selam (Anti-Submarine Warfare), BlueWhale dibekali mast lipat kedap air yang mengusung radar AESA, kamera optronik EO/IR, serta sistem intelijen sinyal (SIGINT/COMINT). Sementara di bawah air, drone ini mengandalkan Flank Array Sonar (FAS), Synthetic Aperture Sonar (SAS) untuk pemetaan ranjau, serta Towed Array Sonar (TAS) yang dikembangkan bersama Atlas Elektronik (anak perusahaan Thyssenkrupp Marine Systems/TKMS asal Jerman).

Inilah Tampilan ‘BlueWhale’ – Kapal Selam Tanpa Awak Pengumpul Data Intelijen Israel

Keandalan BlueWhale bukan sekadar konsep di atas kertas. Drone ini telah membuktikan kemampuannya dalam latihan militer gabungan NATO (REPMUS dan Dynamic Messenger) di Portugal. Bahkan, AL Jerman (Deutsche Marine) telah merampungkan evaluasi operasional menyeluruh terhadap BlueWhale di Laut Baltik, hingga berlanjut pada pengiriman resmi unit sistem ini ke Pangkalan Angkatan Laut Eckernförde, Jerman.

Masuknya IAI dengan BlueWhale memicu dinamika menarik sekaligus kontroversi di dalam negeri Australia. Canberra sebelumnya telah mengucurkan dana lebih dari 1 miliar dolar AS untuk membiayai proyek Extra Large Autonomous Undersea Vehicle (XL-UAV) bernama Ghost Shark. Proyek ini dikembangkan secara lokal di Australia oleh perusahaan teknologi pertahanan Amerika Serikat, Anduril Australia, bersama Kementerian Pertahanan Australia.

Kehadiran tawaran BlueWhale dari Israel lantas menimbulkan pertanyaan: apakah langkah ini akan memberangus atau mengerdilkan produk dalam negeri seperti Ghost Shark?

Para pengamat menilai, alih-alih mematikan produk lokal, Canberra kemungkinan besar memandang kedua platform ini sebagai kombinasi pelengkap. Ghost Shark dirancang dari awal sebagai platform XL-UAV berukuran sangat besar yang difokuskan untuk membawa beban tempur berat (payload flexibility) dan penjelajahan jarak sangat jauh. Sementara itu, BlueWhale unggul pada kedewasaan sistem sensor ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) and perburuan kapal selam berbasis sonar yang sudah teruji di standar NATO.

Kapal Selam Tanpa Awak Israel ‘BlueWhale’ Ikut dalam Latihan Militer NATO di Portugal

Meski demikian, jika pemerintah Australia memutuskan untuk membeli BlueWhale dalam jumlah besar, porsi anggaran pertahanan nasional yang seharusnya mengalir penuh untuk membesarkan ekosistem industri pertahanan lokal melalui Ghost Shark berpotensi terbagi. Bagi publik Australia, keputusan ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana Canberra konsisten membangun kemandirian industri pertahanan dalam negeri di tengah desakan ancaman geopolitik kawasan yang kian memanas (Bayu Pamungkas)

Anduril Australia Buka Fasilitas Produksi “Ghost Shark” di Sydney, Bakal Jadi ‘Loyal Wingman’ Kapal Selam Nuklir

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *