Sudah Miliki NASAMS, Australia Pertimbangkan “MRIC SkyHunter” Varian Iron Dome untuk Hanud Jarak Menengah

Departemen Pertahanan Australia tengah mengevaluasi kebutuhan pertahanan udara (hanud) jarak menengah melalui program Project LAND 6504 senilai Aus$10 miliar. Langkah strategis ini diambil untuk menutup celah ancaman dari gempuran rudal jelajah, drone, hingga rudal balistik yang dapat menargetkan fasilitas militer penting.
Salah satu kandidat terkuat yang menarik perhatian Canberra adalah Medium Range Intercept Capability (MRIC)—sistem pertahanan udara yang digunakan Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) yang diadopsi dari teknologi Iron Dome milik Israel.
Ketertarikan Australia pada varian Iron Dome ini menimbulkan pertanyaan menarik di kalangan pengamat alutsista. Pasalnya, Angkatan Darat Australia saat ini sudah mengoperasikan resimen sistem pertahanan udara NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System) yang mengusung rudal AMRAAM.
Secara hierarki doktrin militer, NASAMS dan MRIC berada di kelas yang sama, yakni sistem pertahanan udara berbasis darat jarak menengah (medium-range ground-based air defence). Alasan utama Canberra melirik MRIC berakar pada faktor efisiensi biaya dan volume tembakan untuk menangkis taktik saturation attack (serangan jenuh). Di era modern, ancaman dominan seperti drone kamikaze dan rudal jelajah dapat diluncurkan secara masif dengan biaya murah.
Di Tangan Korps Marinir AS, Rudal Hanud Tamir Iron Dome Disebut “MRIC SkyHunter”
MRIC menawarkan solusi penangkalan berbiaya rendah melalui penggunaan rudal pencegat SkyHunter—yang memiliki tingkat kesamaan desain hingga 95–99% dengan rudal Tamir buatan Rafael—dengan kisaran harga US$180.000 hingga US$314.000 per unit.
Jika dibedah secara mendalam, arsitektur teknis sistem MRIC memadukan sejumlah subsistem canggih berstandar militer Amerika Serikat dan Israel. Sistem ini mengandalkan radar aktif AN/TPS-80 G/ATOR (Active Electronically Scanned Array) untuk pemindaian udara dan pelacakan sasaran, yang diintegrasikan dengan pusat komando Common Aviation Command and Control System (CAC2S) guna menyelaraskan data penjejakan dengan jaringan penerbangan militer.
Korps Marinir AS (USMC) Borong Tiga Baterai Sistem Hanud Iron Dome, Termasuk 1.840 Rudal Tamir
Dari sisi penangkalan, rudal SkyHunter dirancang dengan panjang bodi sekitar 3 meter, diameter 160 mm, serta bobot total 90 kg. Amunisi ini mampu melesat hingga kecepatan maksimal Mach 2.2 (setara dengan sekitar 755 meter per detik pada permukaan laut standar). Dilengkapi sensor elektro-optik, sirip kemudi aerodinamis untuk manuver presisi tinggi, serta hulu ledak fragmentasi berpemicu proksimitas (proximity-fuzed), rudal ini mampu mengeksekusi pencegatan secara efektif tanpa harus menghantam target secara langsung (direct hit).
Selain itu, setiap peluncur darat MRIC dirancang memuat 20 tabung rudal SkyHunter siap tembak, di mana konfigurasi standar empat peluncur mampu menyediakan 80 amunisi siap luncur untuk merespons gelombang serangan udara dengan envelope jarak libas nominal antara 4 hingga 70 kilometer.
Perusahaan Teknologi AS Ondas Incar “Otak” di Balik Sistem Hanud Iron Dome Senilai US$200 Juta
Meski menawarkan densitas tembakan dan efisiensi tinggi untuk melibas drone serta rudal jelajah, sistem MRIC tetap memiliki keterbatasan doktriner. Program LAND 6504 Australia mensyaratkan kemampuan intersepsi rudal balistik pada fase terminal—sebuah domain yang secara alami berada di luar pencegatan Iron Dome atau MRIC yang dioptimalkan untuk roket jarak pendek, artileri, mortir, dan sasaran sub-sonik hingga trans-sonik. Oleh karena itu, jika MRIC terpilih, Australia dipastikan harus mengombinasikannya dengan sistem pertahanan rudal balistik terpisah seperti Patriot atau L-SAM.
Tantangan krusial lainnya terletak pada integrasi sistem radar, di mana Australia mewajibkan seluruh calon kandidat hanud untuk diintegrasikan dengan radar produk dalam negeri buatan CEA Technologies, menggantikan sensor bawaan seperti AN/TPS-80. Integrasi ini menuntut penyesuaian antarmuka penjejakan, kalkulasi penembakan, dan otorisasi luncur yang kompleks.
Proses seleksi final Project LAND 6504 dijadwalkan rampung pada Desember 2027, dengan uji coba penembakan langsung (live firing) pada latihan Talisman Sabre 2029 sebelum mencapai operasional penuh di pertengahan dekade 2030-an. (Gilang Perdana)


