Miliki Sudut Ski Jump Terendah di Dunia: Struktur Ramp ITS Garibaldi Justru Ideal untuk Drone Bayraktar TB3

Tiba di Indonesia, pelayaran kapal induk ITS Garibaldi di perairan Selat Malaka menjadi sorotan utama publik pertahanan Tanah Air. Di luar teka-teki nama resmi yang kelak akan disandangkan—baik KRI Gajah Mada maupun KRI Sriwijaya—terdapat aspek teknis arsitektur kapal yang sangat menarik untuk dibahas.

Baca juga: Masih Terpasang di ITS Garibaldi, Ini Keunggulan CIWS Breda Dardo di Kapal Induk KRI Gajah Mada

Yang dimaksud adalah keberadaan struktur ski jump di bagian busur (bow) dek penerbangannya. Dibandingkan dengan jajaran kapal induk berkemampuan ski jump lainnya di dunia, ITS Garibaldi memegang rekor dengan sudut kemiringan ski jump paling landai, yakni hanya sebesar 6,5 derajat.

Spesifikasi sudut 6,5 derajat pada ITS Garibaldi secara signifikan lebih rendah jika dibandingkan dengan kapal induk ski jump global lainnya. Sebagai komparasi, kapal induk serbu amfibi TCG Anadolu milik Turki mengusung sudut kemiringan sekitar 12 derajat, sementara HTMS Chakri Naruebet milik Angkatan Laut Thailand dirancang dengan sudut 12 derajat.

Di kelas yang lebih besar, kapal induk INS Vikrant dan INS Vikramaditya milik India menggunakan sudut kemiringan 14 derajat, sedangkan kapal induk berat Admiral Kuznetsov milik Rusia mengusung kelengkungan ramp hingga 14,3 derajat.

Desain landai pada Garibaldi sengaja dirancang oleh Fincantieri semata-mata untuk mengoptimalkan peluncuran pesawat STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) ringan seperti AV-8B Harrier II, tanpa dibebani kebutuhan untuk meluncurkan jet tempur konvensional berbobot berat.

Lepas Landas via Ski-Jump dengan Payload Penuh, Rafale-M Tampil Memukau di India

Karakteristik desain ini menegaskan bahwa ITS Garibaldi tidak pernah dirancang untuk mendukung sistem operasi STOBAR (Short Take-Off But Arrested Recovery). Tanpa adanya kabel penangkap (arresting gear) serta keterbatasan panjang dek pendaratan, kapal induk ini secara teknis mustahil untuk didarati oleh jet tempur tempur berat berbasis kapal induk seperti MiG-29K, Sukhoi Su-33, maupun Shenyang J-15 Cina. Keterbatasan operasional ini disebabkan oleh kebutuhan kecepatan pendekatan (approach speed) dan jarak pengereman jet tempur konvensional yang jauh melebihi dimensi dek ITS Garibaldi.

Tandingi Rafale-M, F/A-18 Super Hornet dengan Dua Rudal Harpoon Sukses dalam Uji Take-off Ski Jump

Namun, di balik keterbatasan untuk jet tempur berat konvensional, kelandaian sudut ski jump 6,5 derajat pada Garibaldi justru menyimpan keunggulan taktis yang sangat cocok untuk era perang modern berbasis Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV).

Profil ramp yang tidak terlalu curam meminimalkan gaya gravitasi (G-force) mendadak serta beban struktural berlebih pada rangka airframe drone saat melakukan dorongan lepas landas. Karakteristik ini dinilai sangat ideal untuk mendukung pengoperasian sistem drone tempur maritim seperti Bayraktar TB3 buatan Baykar Turki—yang rencananya akan diakuisisi oleh Indonesia.

Rangka bentang sayap lipat serta rasio daya dorong terhadap bobot (thrust-to-weight ratio) pada Bayraktar TB3 dapat meluncur secara mulus melewati sudut 6,5 derajat Garibaldi tanpa risiko stall aerodinamis, menjadikannya platform kapal induk pengangkut drone (drone carrier) yang sangat efisien dan siap tempur bagi TNI AL. (Gilang Perdana)

“Lamantin” Project 11430E: Kapal Induk Bertenaga Nuklir Impian Putin, Berbobot 90.000 Ton Masih Adopsi Ski-Jump

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *