Pertama Kali di Palagan Iran: Helikopter Serang AH-64 Apache US Army Jatuh di Selat Hormuz

Sebuah helikopter serang jenis AH-64 Apache yang dioperasikan oleh Angkatan Darat AS (US Army) dilaporkan jatuh di perairan dekat Selat Hormuz pada Senin, 8 Juni 2026. Insiden mendebarkan ini pertama kali diungkap ke publik melalui laporan investigasi eksklusif harian The New York Times, yang mengutip informasi dari dua pejabat pertahanan jajaran atas yang mengetahui langsung peristiwa tersebut.

Baca juga: AH-64E Apache Kini Dipasangi Perangkat Proteksi Anti Rudal MANPADS Berbasis Laser

Dalam operasi penyelamatan kilat yang segera diluncurkan pasca-kejadian, kedua kru penerbang (flight crew) dilaporkan berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat tanpa luka-luka yang berarti. Kendati demikian, peristiwa ini langsung memicu alarm kewaspadaan tertinggi di Markas Komando Sentral AS (CENTCOM) mengingat Selat Hormuz merupakan koridor maritim paling sensitif dunia yang saat ini tengah berada dalam kondisi siaga tempur satu.

Hingga laporan ini diturunkan, teka-teki mengenai penyebab pasti jatuhnya Apache masih diselimuti misteri dan investigasi ketat. Sumber internal Pentagon yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa tim investigator tengah mendalami tiga probabilitas utama, yakni apakah helikopter tersebut jatuh karena terkena hantaman proyektil atau rudal pertahanan udara Iran, akibat kegagalan mekanis murni di tengah penerbangan, atau adanya hambatan operasional tak terduga lainnya di permukaan laut.

Konfirmasi awal mengenai keselamatan para kru justru datang langsung dari Presiden AS Donald Trump saat diwawancarai awak media di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York, setelah dirinya menghadiri pertandingan final NBA. Donald Trump menegaskan bahwa kedua pilot berada dalam kondisi baik dan pihak Gedung Putih bersama Pentagon akan segera menerbitkan dokumen laporan resmi terkait kronologi dan penyebab jatuhnya alutsista tersebut dalam waktu dekat.

Jatuhnya AH-64 Apache ini menandai tonggak kerugian baru yang cukup signifikan bagi komando militer AS dalam konfrontasi asimetris melawan Iran yang telah pecah sejak akhir Februari lalu. Berbeda dengan platform pesawat otonom di mana Iran terhitung sangat sukses merontokkan sekitar 30 unit drone intai otonom MQ-9 Reaper, serta jatuhnya beberapa jet tempur seperti F-15E Strike Eagle akibat kombinasi tembakan musuh dan insiden friendly fire, peristiwa di Selat Hormuz ini merupakan kehilangan unit helikopter serang berawak jenis Apache yang pertama kalinya sepanjang konflik berlangsung.

Buntut Perang Lawan Iran: Armada UCAV MQ-9 Reaper AS Banyak Rontok, Pentagon Kelabakan Cari Pengganti

Dalam beberapa bulan terakhir, armada AH-64 Apache milik US Army memang dikerahkan secara agresif dan mengemban misi yang sangat berbahaya di garis depan Selat Hormuz serta Teluk Persia. Sebagai bagian dari pelaksanaan “Project Freedom”—sebuah operasi militer terintegrasi yang dipimpin oleh Laksamana Brad Cooper untuk mengawal kapal-kapal dagang internasional dari blokade sepihak Iran—helikopter Apache yang dipersenjatai rudal AGM-114 Hellfire dan kanon otomatis 30mm ini dipaksa terbang dengan profil sangat rendah mendekati pulau-pulau yang dikuasai oleh Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Tugas utama armada Apache US Army adalah melakukan pengintaian udara taktis, menghalau pergerakan kawanan kapal cepat (fast attack craft) Iran, serta mencegat laju drone kamikaze yang kerap mengancam jalur pelayaran komersial. Agresivitas ruang patroli AS yang kian menempel ketat wilayah teritorial Iran inilah yang dinilai para analis militer membuat potensi gesekan bersenjata di udara menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari lagi. (Gilang Perdana)

Alami Overheat, Helikopter Serang AH-64E Apache Guardian Mendarat Darurat di Sawah Berlumpur

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *