Borong Ranpur Amfibi AAV (LVTP-7) Eks USMC, Italia Amankan Paket FMS Senilai 30 Juta Dolar

Pemerintah Amerika Serikat secara resmi telah menyetujui potensi penjualan militer asing (Foreign Military Sales – FMS) kepada Pemerintah Italia berupa kendaraan pendarat amfibi operasional serta peralatan terkait dengan perkiraan nilai total mencapai US30,6 juta.

Baca juga: LVTP-7: Ranpur APC Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI-AL

Langkah modernisasi ini mencakup rencana pembelian tiga unit kendaraan amfibi varian pos komando (Assault Amphibious Vehicles Command Variant / AAVC-7A1) dan empat unit varian pemulihan teknis (Assault Amphibious Vehicles Recovery Variant / AAVR-7A1). Seluruh unit ranpur legendaris ini nantinya akan ditransfer langsung dari sisa stok kedinasan Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) yang saat ini tengah memasuki masa pensiun. Paket pengadaan tersebut juga sudah mencakup serangkaian peralatan pendukung, jaring kamuflase hamburan radar, serta dukungan logistik komprehensif guna mendongkrak kemampuan proyeksi kekuatan maritim Italia di kawasan Mediterania.

Keputusan Italia untuk menampung ranpur bekas pakai dari AS ini kian memperpanjang daftar panjang negara di dunia yang menaruh minat tinggi pada platform keluarga AAV7 atau LVTP-7. Tercatat, sekutu dekat AS di berbagai belahan dunia seperti Korea Selatan, Taiwan, Brasil, Spanyol, Thailand, hingga Filipina telah lama mengandalkan ranpur ini sebagai tulang punggung kavaleri amfibi mereka.

Tidak hanya itu, gelombang pensiunnya armada AAV7 dari USMC yang digantikan oleh ranpur roda ban Amphibious Combat Vehicle (ACV) 8×8 belakangan ini justru memicu lonjakan permintaan baru di pasar sekunder. Beberapa negara Eropa Timur seperti Rumania yang mengajukan pembelian 21 unit AAV7, serta Yunani yang mengincar paket masif berisi 76 unit varian AAV7A1, membuktikan bahwa platform beroda rantai ini masih dinilai sangat relevan dan mumpuni untuk memenuhi doktrin pertempuran pesisir modern.

Presiden SBY saat menjajal pendaratan LVTP-7 di kawasan pantai Lampung

Melihat tren global dan rekam jejak pengadaan tersebut, Indonesia idealnya sangat layak dan logis untuk ikut serta melirik peluang akuisisi sisa stok armada AAV7 eks USMC ini. Pasalnya, Korps Marinir TNI AL sendiri sudah memiliki modal pengalaman (familiarization) yang sangat matang dalam mengoperasikan ranpur jenis ini melalui hibah 10 unit KAAV (LVTP-7A1) dari Korea Selatan yang tiba pada pertengahan era 2000-an silam.

Masalah utamanya, jumlah armada penyerbu amfibi berat berkapasitas angkut besar yang dimiliki Indonesia saat ini masih sangat terbatas dan jauh dari kata ideal untuk memenuhi kebutuhan penegakan kedaulatan di negara kepulauan seluas ini. Dengan memanfaatkan skema FMS untuk menyerap unit bekas pakai milik Amerika Serikat seperti yang dilakukan Italia, Korps Marinir TNI AL berpeluang besar untuk melakukan force multiplier atau penggandaan jumlah armada secara instan dengan biaya yang jauh lebih ekonomis ketimbang membeli platform amfibi baru dari pabrikan luar negeri.

Konfigurasi posisi awak dan personel di kabin LVTP-7

Dari segi spesifikasi teknis, kendaraan amfibi berat keluarga AAV7/LVTP-7 ini memiliki dimensi yang masif dengan berat tempur mencapai 29 ton, panjang 7,9 meter, dan lebar 3,2 meter. Dapur pacunya disokong oleh mesin diesel Cummins VT400 berkapasitas 525 horsepower yang mampu digenjot hingga kecepatan maksimal 72 km/jam di jalan raya.

Keunikan utama dari ranpur ini terletak pada sistem propulsinya di air yang tidak hanya mengandalkan putaran rantai (tracks), melainkan menggunakan dua jet air (waterjets) berkekuatan tinggi yang terintegrasi di bagian buritan. Sistem waterjets ini memungkinkan armada kavaleri meluncur dengan kecepatan hingga 13 km/jam di permukaan laut, serta memiliki kemampuan luar biasa untuk menerjang ombak besar dan zona pecah gelombang saat melakukan pendaratan amfibi langsung dari kapal permukaan.

Keunggulan operasional terbesar terlerak pada kapasitas angkutnya yang sangat luar biasa dan sulit ditandingi oleh ranpur amfibi modern lainnya. Kompartemen internalnya yang super luas mampu menampung hingga 21 personel pasukan pendarat bersenjata lengkap, atau setara dengan tiga regu infanteri, di luar tiga kru penyerbu (komandan, pengemudi, dan penembak).

Perlindungan bagi pasukan di dalamnya ditopang oleh lambung aluminium kelas militer yang bisa ditingkatkan dengan lapisan baja modular tambahan (Enhanced Applique Armor Kits/EAAK) guna menahan serbuan proyektil kaliber 14,5 mm dan serpihan artileri. Urusan daya gempur juga tidak bisa diremehkan, karena varian standarnya dibekali kubah senjata Upgunned Weapon Station (UGWS) yang mengombinasikan senapan mesin berat Browning M2 kaliber 12,7 mm dan peluncur granat otomatis Mk 19 kaliber 40 mm, menjadikannya platform pemukul yang mematikan di garis depan pesisir pantai. (Gilang Perdana)

Korps Marinir Uji Instalasi Pemasangan Rantai (Tracklink) pada Ranpur Amfibi LVTP-7

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *