Adopsi Taktik Ukraina, Korsel Pasang ‘Terowongan’ Jaring Anti-Drone Pada Platform Pendarat Amfibi

Di tengah maraknya penggunaan drone kamikaze (FPV) dan drone pembom dalam konflik modern, perlindungan terhadap pergerakan konvoi dan logistik di medan terbuka menjadi kebutuhan yang sangat krusial namun sering kali dipecahkan dengan cara yang sangat sederhana. Salah satu taktik paling praktis yang kini masif digunakan adalah pemasangan jaring anti-drone (anti-drone net).

Baca juga: Lindungi Aset Strategis, Rusia Adopsi Sistem Jaring Anti Drone Lepas Pasang di Dermaga Kapal Selam Nuklir Pasifik

Dalam latihan logistik amfibi gabungan bertajuk Combined Joint Sustainment Training (CJST) 2026 atau Combined Joint Logistics Over-the-Shore (CJLOTS) 26 bersama militer Amerika Serikat di Pantai Dogu, Pohang, unit Korps Marinir Korea Selatan menerapkan inovasi proteksi pasif berbasis jaring ini yang diadaptasi langsung dari pengalaman Perang Rusia-Ukraina.

Pasukan Korea Selatan terlihat merangkai jaring anti-drone menggunakan kerangka melengkung hingga membentuk terowongan pelindung (anti-drone tunnel) di atas platform terapung Improved Navy Lighterage System (INLS)—sebuah sistem ponton modular yang berfungsi mengangkut kargo, kendaraan tempur Humvee, hingga personel dari kapal ke garis pantai.

Konsep terowongan berbasis jaring penjerat ini sejatinya telah dibuktikan efektivitasnya secara luas di medan perang Ukraina. Selama konflik berlangsung, baik pasukan Ukraina maupun Rusia secara masif membentangkan jaring-jaring ini di sepanjang lorong pepohonan (tree lines), rute pasokan logistik utama (Supply Line), hingga di atas parit pertahanan guna melunasi ancaman drone FPV yang terus mengintai.

Secara teknis, perisai jaring ini bekerja dengan dua mekanisme sederhana namun fatal bagi drone: menjerat baling-baling drone hingga melumpuhkannya sebelum menyentuh objek vital, atau memicu ledakan hulu ledak kamikaze pada jarak aman (stand-off distance) sehingga energi ledakan terdispersi di luar dan tidak merusak kendaraan atau personel di dalam lorong.

Mengingat platform pemindah logistik di laut bergerak lambat dan sangat rentan menjadi sasaran empuk UAV musuh saat proses pendaratan (beach stabbing), aplikasi jaring penjerat ini menjadi solusi berbiaya murah (cost-effective) namun berdampak besar bagi keselamatan operasi amfibi.

Tren “Cope Cage” Merambah ke Laut: Kapal Patroli Grachonok Class Rusia Kini Dipasangi Jaring Anti Drone

Secara struktural, jaring pelindung yang dipasang oleh militer Korea Selatan di atas platform INLS menutup bagian atas dan samping jalur pergerakan kendaraan di atas ponton. Arsitektur ini cukup efektif untuk memblokir drone pembom yang menjatuhkan amunisi dari atas maupun serangan FPV dari arah samping.

Kendati demikian, analisis pengamat militer mencatat bahwa desain terowongan yang ditampilkan pada latihan tersebut masih memiliki celah teknis di mana bagian depan dan belakang struktur masih terbuka lebar demi mempermudah akses keluar-masuk kendaraan (loading/unloading). Celah ini berpotensi dimanfaatkan oleh operator drone musuh yang berpengalaman untuk memandu FPV masuk dari lorong depan atau belakang, sehingga disarankan adanya penambahan elemen jaring fleksibel atau sistem tirai jaring modular yang dapat dibuka-tutup dengan cepat.

Tangkal Serangan Drone Kamikaze, Rusia Perkenalkan “Pautina”, Sistem Jaring Baja Raksasa Modular

Langkah pengujian terowongan jaring anti-drone di atas platform laut ini semakin mempertegas komitmen Korea Selatan dalam memperkuat jaringan pertahanan udara jarak ultra-dekat (VSHORAD) dan proteksi pasif bagi unit logistiknya dari ancaman drone Korea Utara. Sebelumnya, militer Korea Selatan juga sempat menyedot perhatian publik dengan menggelar latihan penembakan massal yang melibatkan delapan kanon Vulcan 20 mm secara sejajar untuk menghancurkan puluhan target drone FPV statis.

Kombinasi antara daya tembak kanon konvensional dengan perisai jaring fisik terbukti menjadi strategi adaptif yang pragmatis dalam menghadapi dominasi ancaman nirnirawak di era perang modern. (Gilang Perdana)

Kanon Vulcan Sukses Sapu 50 Drone di Korea Selatan, Pakar: Sebaiknya Gunakan Amunisi Airburst

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *