Kanon Vulcan Sukses Sapu 50 Drone di Korea Selatan, Pakar: Sebaiknya Gunakan Amunisi Airburst

Komando Pertahanan Angkatan Udara Korea Selatan (Republic of Korea Air Force – ROKAF) sukses mencatatkan tonggak sejarah baru dalam taktik peperangan modern pertahanan udara jarak pendek (Short-Range Air Defense/SHORAD). Pada Selasa, 23 Juni 2026, militer Korea Selatan menggelar latihan tempur skala besar pertamanya untuk menghadapi simulasi serangan kawanan (swarm) 50 unit drone musuh secara simultan yang dilaksanakan di medan latihan lepas Pantai Barat.
Baca juga: Hancurkan Drone Kamikaze, Beretta Luncurkan LIVET: Sistem Kubah Otomatis Berbasis Shotgun
Langkah taktis ini diambil oleh Seoul sebagai bentuk percepatan penguatan benteng pertahanan dalam negeri guna mengantisipasi ancaman infiltrasi pesawat tanpa awak Korea Utara, sekaligus merespons taktik pertempuran berbasis drone yang kian masif dan mematikan sebagaimana yang terjadi dalam konflik Rusia-Ukraina saat ini.
Dalam simulasi tempur yang berlangsung sengit tersebut, Angkatan Udara Korea Selatan menerapkan konsep pertahanan berlapis (layered defense system). Lapis pertahanan pertama yang menjadi ujung tombak dalam menghalau kawanan drone ini mengandalkan delapan unit kanon sistem M167 VADS (Vulcan Air Defense System) kaliber 20 mm model tarik (towed mount).
Meskipun berstatus sebagai alutsista uzur, kanon Vulcan tersebut berhasil merontokkan sebanyak 44 unit drone dari jarak satu kilometer sebelum kawanan drone tersebut sempat mendekati objek vital. Sementara itu, enam sisa drone yang berhasil lolos dari hujan peluru kanon langsung dieksekusi di zona perimeter dalam (close-range) menggunakan kombinasi satu unit sistem senjata laser portabel canggih terintegrasi dan lima personel penembak jitu yang dipersenjatai dengan senapan sebar (shotgun) taktis Benelli M4.
https://t.co/AOhsybUJ5t
韓国の空軍が50機のドローンの群れを迎撃する訓練をしています pic.twitter.com/7QMTrw7W2n— おちりぷりん (@Southwood_) June 24, 2026
Secara spesifikasi teknis, kanon M167 VADS mengandalkan senapan mesin gatling enam laras putar berbasis M61 Vulcan kaliber 20×102 mm yang ditenagai oleh motor listrik. Kanon ini memiliki kecepatan tembak (rate of fire) yang luar biasa tinggi, yakni mampu memuntahkan antara 1.000 hingga 3.000 butir peluru per menit dengan jangkauan tembak efektif hingga 1,2 kilometer.
Tingginya volume tembakan yang dihasilkan dari peluru penembus perisai dan peledak tinggi (High-Explosive Incendiary) ini dirancang untuk menciptakan “dinding peluru” di udara. Kendati rekaman video dramatis saat para prajurit membombardir kluster drone tersebut menuai banyak pujian dari publik internasional di platform media sosial X, latihan ini tetap memicu diskusi dan evaluasi kritis yang sangat mendalam di kalangan pengamat militer internasional mengenai efektivitas amunisi yang digunakan.
M167 VADS uses a 20 mm Vulcan cannon to provide rapid-fire short-range air defense against low-flying aircraft and helicopters supporting ground forces. pic.twitter.com/U1HsNoN9Mr
— Military Mechanics (@MilitaryMechs) May 20, 2026
Berdasarkan analisis rekaman video yang viral, para pakar artileri menyoroti bahwa target drone dalam latihan tersebut cenderung diam di tempat atau bergerak sangat lambat (stationary/slow-moving targets). Namun faktanya, berondongan pertama (first volley) dari delapan pucuk kanon rotari raksasa tersebut ternyata hanya mampu menyapu sekitar 20 persen dari total kawanan drone yang ada. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa penggunaan amunisi konvensional dengan peranti penyala benturan (impact-fuzed rounds)—di mana peluru harus menabrak fisik drone secara langsung agar bisa meledak—bukanlah jawaban yang efektif untuk misi Counter-UAS (C-UAS).
Jika dalam kondisi latihan dengan target statis saja efektivitasnya terbatas, dapat dibayangkan betapa merosotnya probabilitas perkenaan di medan tempur riil, di mana kawanan drone kamikaze taktis akan menukik tajam (nose dive) dari berbagai arah dengan kecepatan melebihi 300 kilometer per jam.
Houthi rebels putting their M167 Vulcan VADS technical to use near Marib, Yemen pic.twitter.com/iTpYG7xu9U
— Hugo Kaaman (@HKaaman) July 23, 2020
Oleh karena itu, pengamat menyimpulkan bahwa kunci utama dalam menghadapi ancaman kawanan drone modern bukanlah sekadar mengandalkan volume tembakan yang masif, melainkan modernisasi teknologi amunisi menuju sistem ledakan udara (airburst). Dengan amunisi airburst yang terprogram (programmable ammunition), proyektil dikonfigurasi secara digital untuk meledak tepat beberapa meter sebelum menyentuh lintasan terbang drone, lalu menyebarkan awan pecahan material (shrapnel cloud) padat yang mampu mencabik beberapa komponen elektronik drone sekaligus dalam sekali rentetan pendek.
Kendala fisik kaliber 20 mm pada M167 Vulcan yang terlalu kecil untuk disisipi modul elektronik fuzing pintar disinyalir menjadi alasan mengapa tren global kini bergeser ke kanon pertahanan udara kaliber lebih besar, seperti 30 mm atau 35 mm, demi efisiensi ruang proyektil.
Keberhasilan latihan ROKAF pada 23 Juni kemarin pada akhirnya menjadi evaluasi berharga bahwa integrasi sensor radar modern di semenanjung Korea harus segera dibarengi dengan adopsi amunisi pintar agar sistem pertahanan titik mereka tidak kedodoran menghadapi dinamika perang asimetris masa depan. (Gilang Perdana)
Menghitung Harga Sebuah Presisi: Di Balik Mahalnya Amunisi Pintar (Airburst) 35mm AHEAD Rheinmetall


