Satu ‘Klub’ dengan Indonesia, Armenia Resmi Pamerkan SPH CAESAR 6×6 Perancis

Peta kekuatan artileri di wilayah Kaukasus resmi memasuki babak baru setelah sistem artileri gerak sendiri (Self-Propelled Howitzer) CAESAR 155mm pasokan Perancis terlihat untuk pertama kalinya di depan publik Armenia. Kehadiran alutsista ini terekam dalam gladi resik parade peringatan Hari Republik yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Mei mendatang di pusat kota Yerevan.

Baca juga: TRF-1 CAESAR : Generasi Ketiga Self Propelled Howitzer TNI AD

Langkah tersebut bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan sinyal konkret pergeseran arah kebijakan pertahanan Armenia yang kini mulai meninggalkan ketergantungan pada inventaris persenjataan asal Rusia.

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, sebelumnya telah menyatakan bahwa pemerintahannya akan memamerkan berbagai peralatan militer baru yang diperoleh selama masa jabatannya pada acara 28 Mei tersebut. Mengutip kantor berita negara Armenpress, Pashinyan menyebut pameran alutsista ini sebagai bentuk “laporan kepada warga” mengenai reformasi pertahanan yang dijalankannya.

Munculnya CAESAR menjadi simbol paling nyata dari reorientasi hubungan pertahanan Yerevan setelah jatuhnya wilayah Nagorno-Karabakh ke tangan Azerbaijan pada tahun 2023 silam.

Ditinjau dari sejarah penggunanya, Armenia kini mencatatkan diri sebagai anggota terbaru dari klub eksklusif negara pengguna CAESAR, bersanding dengan Perancis, Denmark, Maroko, Arab Saudi, Ukraina, dan tentu saja Indonesia. Namun, yang paling krusial, Armenia menjadi negara pecahan Uni Soviet pertama yang mengadopsi sistem SPH beroda ban (wheeled) standar NATO ini. Keputusan ini diambil setelah Armenia merasa kecewa terhadap Rusia dan organisasi CSTO yang dianggap tidak memberikan bantuan militer berarti saat krisis Nagorno-Karabakh pecah, yang kemudian memicu Yerevan untuk membekukan partisipasinya dalam kegiatan CSTO.

Secara teknis, CAESAR (Camion Équipé d’un Système d’ARtillerie) buatan Nexter (KNDS) menawarkan kombinasi mematikan antara mobilitas strategis dan daya pukul tinggi. Meriam kaliber 155mm/52-caliber miliknya mampu menghantam target hingga jarak lebih dari 40 kilometer dengan munisi standar, dan bisa menjangkau lebih jauh dengan munisi pendorong roket.

Karena dipasang pada sasis truk, CAESAR memiliki keunggulan mobilitas yang memungkinkannya digelar dengan cepat melalui jaringan jalan raya maupun diangkut dengan pesawat angkut militer sekelas C-130 Hercules—sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan di medan pegunungan Kaukasus.

Keunggulan taktis CAESAR terletak pada kemampuan shoot-and-scoot. Sistem ini mampu melepaskan tembakan dan segera berpindah posisi sebelum radar lawan sempat melacak koordinat untuk melakukan tembakan balasan (counter-battery fire). Efektivitas sistem ini telah teruji dalam berbagai palagan, mulai dari Afghanistan, Mali, Irak, hingga yang terbaru di Ukraina, di mana CAESAR menjadi salah satu simbol dukungan artileri Barat yang paling efektif melawan pasukan Rusia.

Langkah Perancis memasok CAESAR ke Armenia mengandung makna politik yang sangat dalam. Dengan memberikan senjata yang sama dengan yang dikirim ke Ukraina, Paris mengirimkan pesan kuat mengenai komitmennya dalam membangun kapasitas pertahanan Armenia di tengah tekanan Rusia dan Azerbaijan.

Meski jumlah pasti unit yang dikirim belum diungkap secara publik, kehadiran CAESAR di jalanan Yerevan menandai langkah awal Armenia dalam transisi menuju ekosistem logistik, pelatihan, dan standar kaliber Barat yang akan mengubah wajah militer negara tersebut di masa depan.

Bagi publik di Tanah Air, kemunculan CAESAR di Armenia tentu terasa familiar mengingat Indonesia merupakan salah satu operator utama sistem artileri ini di kawasan Asia Tenggara. TNI AD saat ini mengoperasikan total 55 unit CAESAR 155mm yang memperkuat jajaran Korps Artileri Medan (Armed). Pengadaan alutsista ini dilakukan dalam dua fase, di mana batch pertama terdiri dari 37 unit yang tiba mulai tahun 2014, disusul oleh batch kedua sebanyak 18 unit pada tahun 2017.

Seluruh unit tersebut kini terbagi ke dalam beberapa Batalyon Artileri Medan (Yonarmed), seperti Yonarmed 12/Angicipi Yudha di Ngawi dan Yonarmed 9/Pasopati di Purwakarta. Keberadaan CAESAR di Indonesia tidak hanya meningkatkan daya gempur artileri nasional dengan standar kaliber NATO, tetapi juga memperkuat kerja sama strategis pertahanan antara Jakarta dan Paris yang sudah terjalin erat selama satu dekade terakhir. (Gilang Perdana)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *