Hancurkan Drone Kamikaze, Beretta Luncurkan LIVET: Sistem Kubah Otomatis Berbasis Shotgun

Beretta Defense Technologies (BDT) bersiap menggebrak panggung industri pertahanan global dengan rencana peluncuran sistem senjata kendali jarak jauh (Remote Controlled Weapon Station/RCWS) terbarunya bernama LIVET dalam ajang Eurosatory 2026 di Paris bulan depan.

Baca juga: Hadapi Perang Era Baru, Militer Vietnam Rakit Enam Senapan Serbu AK-47 Jadi Senjata Anti Drone

Platform inovatif ini dirancang khusus untuk mengemban misi kontra-drone dengan mengintegrasikan delapan unit sistem senapan sebar (shotgun) Benelli Drone Guardian ke dalam satu kubah otomatis tunggal. Kehadiran LIVET merupakan hasil kolaborasi strategis antara Beretta dengan perusahaan teknologi asal Italia, DUALEE, yang berhasil melakukan industrialisasi skala besar terhadap metode interseptor berbasis shotgun.

Pendekatan kinetik ini sengaja dipilih karena drone taktis berukuran kecil, lincah, dan bergerak cepat seperti drone kamikaze (FPV) atau drone intai komersial terbukti sangat sulit dibidik secara akurat oleh proyektil tunggal dari senapan serbu atau senapan mesin konvensional di bawah tekanan pertempuran yang tinggi.

Fondasi kekuatan mekanis dari sistem LIVET bertumpu pada karakteristik unggulan Benelli Drone Guardian, yang sejatinya merupakan sejenis shotgun semi-otomatis yang menembakkan amunisi sebar pecah-udara (programmable air-burst ammunition). Dengan menembakkan pola proyektil yang menyebar dan meledak secara otomatis pada jarak kalkulasi tertentu di udara, probabilitas perontokan drone (probability of kill) meningkat secara drastis pada setiap tarikan picu dibandingkan senjata proyektil tunggal.

Keunggulan mutlak ini kemudian ditingkatkan ke level berikutnya oleh Beretta melalui penyematan fitur pelacakan otomatis (auto-tracking). Berkat integrasi sensor dan perangkat lunak canggih dari DUALEE, kubah senjata ini mampu mendeteksi, mengunci, dan mempertahankan solusi pembidikan pada target drone yang bermanuver secara otonom tanpa mengharuskan operator membidik secara manual melalui kamera, sehingga memangkas waktu reaksi antara deteksi dan eksekusi hingga ke titik minimum.

Konfigurasi pemasangan delapan laras Benelli Drone Guardian sekaligus pada satu platform LIVET tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan daya hancur yang masif, melainkan juga demi menciptakan redundansi kapabilitas dan kapasitas keterlibatan tempur yang tinggi di lapangan. Jika salah satu laras mengalami kendala mekanis (malfunction) atau kehabisan amunisi di tengah pertempuran, tujuh laras lainnya dipastikan tetap beroperasi penuh untuk menumpas ancaman, bahkan platform ini diklaim potensial untuk melumpuhkan lebih dari satu target sekaligus saat menghadapi serangan serbuan kawanan drone (drone raid).

Pangkas Biaya Hingga 1.000 Kali Lipat, Rusia Kembangkan Algoritma AI untuk Sistem Hanud Anti Drone

Beretta merancang arsitektur LIVET dengan konsep modular, yang memungkinkan sistem senjata ini diadaptasikan secara fleksibel ke berbagai konteks operasional di lapangan, mulai dari dipasang sebagai perimeter pertahanan statis di sekitar instalasi militer dan infrastruktur kritis, hingga diintegrasikan di atas sasis kendaraan taktis bergerak (mobile chassis).

Langkah agresif BDT dalam merilis LIVET ini diambil untuk merebut pangsa pasar global yang tumbuh sangat masif pasca-demonstrasi perang di Ukraina, yang membuktikan bahwa drone murah mampu menghancurkan alutsista bernilai jutaan dolar. Dalam arsitektur pertahanan berlapis, LIVET memposisikan diri secara eksplisit pada lapisan kinetik keras (hard kinetic layer) yang bertugas memastikan drone musuh hancur secara fisik sebelum sempat menyelesaikan misinya. (Gilang Perdana)

Rusia Luncurkan Kanon Kontra Drone ZAK-30 Citadel dengan Amunisi Airburst

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *