Dibekali Rudal Mistral 3, Helikopter Serang Tiger Perancis Catat Efektivitas 100% Rontokkan Drone Kamikaze Shahed

Masih segar dalam pembahasan di artikel sebelumnya, mengenai peran helikopter ringan Fennec milik Angkatan Udara Perancis yang sukses memburu drone kamikaze di langit Uni Emirat Arab (UEA) bermodalkan kanon pod. Melanjutkan kesuksesan taktik perang asimetris, Perancis kini kembali menorehkan prestasi gemilang di panggung Timur Tengah.

Baca juga: Buru Drone Iran di UEA, Helikopter Fennec Perancis Dipasangi Kanon 20mm: Opsi Menarik untuk TNI AD?

Kali ini, giliran helikopter serang kelas berat mereka, Eurocopter (sekarang Airbus Helicopters) Tiger, yang unjuk gigi dengan mencatatkan rekor efektivitas luar biasa hingga 100 persen dalam menyapu bersih ancaman drone kamikaze Shahed buatan Iran.

Berdasarkan laporan surat kabar terkemuka Le Parisien yang mengutip pernyataan resmi dari Angkatan Bersenjata Perancis dan Direktorat Jenderal Persenjataan (DGA), helikopter serang Tiger sengaja diterjunkan ke Timur Tengah sejak Maret 2026. Misi utama dari pengerahan ini adalah untuk melindungi pasukan Perancis serta pasukan koalisi sekutu dari gelombang serangan udara asimetris yang dilancarkan oleh kelompok militan menggunakan armada drone murah berdaya ledak tinggi.

Sepanjang dua bulan masa penugasan intensif tersebut, setiap kali kru helikopter Tiger diperintahkan untuk melakukan intersepsi, mereka selalu berhasil mendeteksi, mengunci, dan menghancurkan target tanpa ada satu pun drone musuh yang lolos.

Operasi pembersihan langit ini melibatkan armada helikopter yang ditarik langsung dari Skadron Regimen Helikopter Tempur ke-1 dan ke-5 milik Penerbangan Angkatan Darat Perancis. Pihak militer Perancis mengungkapkan bahwa kunci dari performa sempurna helikopter Tiger dalam menjinakkan drone Shahed terletak pada kombinasi tiga pilar utama: kelincahan manuver (exceptional maneuverability), sistem sensor elektro-optik yang sangat canggih, serta kedahsyatan kanon otomatis kaliber 30 mm miliknya. Berbeda dengan jet tempur supersonik konvensional yang kerap kesulitan mengunci target lambat, helikopter memiliki keunggulan taktis bawaan karena mampu membayangi drone yang terbang rendah dan lambat dalam durasi yang lebih lama, lalu mengeksekusinya dari jarak tembak paling optimal.

Selain mengandalkan kanon internal 30 mm dan roket tanpa pemandu kaliber 68 mm, dalam palagan konflik di Teluk Persia ini, Perancis juga melengkapi helikopter Tiger dengan rudal pertahanan udara jarak pendek Mistral. Langkah Perancis untuk terus memodernisasi armada Tiger dengan mengintegrasikan varian rudal Mistral 3, dinilai terbukti ampuh dalam mendongkrak kemampuan helikopter dalam mendeteksi sekaligus melumpuhkan berbagai target ancaman udara dari jarak yang lebih aman.

Namun, pencapaian fantastis di medan tempur ini memicu kontras yang cukup ironis di panggung global. Di saat Perancis sukses membuktikan kedahsyatan Tiger sebagai pemburu drone kamikaze, negara pengguna lain seperti Australia dan Jerman justru telah mengambil keputusan bulat untuk mempensiunkan dini helikopter serang bermesin ganda ini dari kedinasan mereka.

Keputusan drastis kedua negara tersebut dipicu oleh berbagai masalah klasik yang mendera program helikopter Tiger selama bertahun-tahun, mulai dari tingkat kesiapan operasional (operational availability) yang sangat rendah, birokrasi rantai pasok yang berbelit-belit, masalah keandalan mekanis, hingga penundaan panjang pada program modernisasi. Australia sendiri memilih untuk mengganti armada Tiger mereka dengan Helikopter AH-64E Apache buatan Amerika Serikat, sedangkan Jerman berencana mengalihkan tugas tersebut ke helikopter taktis Airbus H145M yang dipersenjatai dengan sistem rudal dan senapan terintegrasi.

Bahkan di internal militer Perancis sendiri—di mana tingkat kesiapan helikopter Tiger terhitung sedikit lebih baik dari negara lain—masalah ketersediaan unit siap terbang tetap menjadi momok yang memusingkan bagi para komandan di lapangan. Sepanjang masa operasionalnya, rata-rata hanya sekitar 30 hingga 40 persen saja dari total armada helikopter Tiger Perancis yang berada dalam kondisi siap tempur di satu waktu. Kendala teknis ini secara signifikan membatasi ruang gerak penggunaan helikopter ini dalam berbagai misi proyeksi kekuatan di luar negeri.

Kendati dihadapkan pada keterbatasan performa mekanis tersebut, Kementerian Pertahanan Perancis tampaknya enggan menyerah pada platform ini dan memilih untuk terus mengucurkan investasi besar demi mendongkrak keandalan serta efektivitas tempurnya di masa depan.

Saat ini, armada helikopter Tiger milik Paris tengah mengantre untuk mendapatkan paket upgrade mutakhir ke standar Mk.2+ dan Mk.3. Melalui paket modernisasi ini, helikopter Tiger nantinya akan dipersenjatai dengan rudal anti-tank baru buatan dalam negeri Perancis (untuk mendepak rudal Hellfire buatan AS), pengadopsian roket berpemandu presisi sekelas APKWS, peningkatan sistem sensor optik generasi baru, serta serangkaian perbaikan mekanis yang dirancang khusus untuk meningkatkan kesiapan armada sekaligus memangkas beban perawatan yang tinggi di hanggar. (Bayu Pamungkas)

Apache Mulai Tiba Akhir Tahun, Australia Pertimbangkan Nasib Akhir dari Helikopter Serang Tiger ARH

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *