Australia Bekali Kapal Selam Otonom Ghost Shark dengan Drone Kamikaze dan Ranjau Laut

Kapal selam tanpa awak berukuran ekstra besar (Extra Large Autonomous Underwater Vehicle/XL-AUV) milik Angkatan Laut Australia (RAN), Ghost Shark, kembali mencatatkan perkembangan signifikan dalam peta teknologi militer internasional. Setelah sukses menjalani serangkaian uji coba awal, platform bawah laut otonom hasil kolaborasi dengan Anduril Australia ini kini resmi dibekali kapabilitas tempur ofensif.
Baca juga: Anduril Australia Bangun “Ghost Shark” – Kapal Selam Tanpa Awak Seukuran Bus Sekolah
Kapabilitas tempur ofensif yang dimaksud berupa integrasi peluncuran drone kamikaze udara, penyebaran ranjau laut, hingga pengiriman pasokan logistik rahasia bagi pasukan khusus (special forces). Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy, mengumumkan peningkatan kemampuan tempur Ghost Shark langsung dari fasilitas produksi Anduril di Sydney.
Langkah ini menandai transformasi peran Ghost Shark dari yang semula berfokus pada misi pengumpulan intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), kini berevolusi menjadi platform serang multi-domain, perang ranjau ofensif, serta dukungan logistik terselubung di kawasan perairan yang dikuasai musuh. Integrasi baru ini menjadi bagian vital dari strategi sepuluh tahun Canberra senilai 5,8 miliar dolar Australia untuk menghadirkan armada tempur bawah laut otonom berbiaya terjangkau namun berdaya tempur masif.
Dalam konfigurasi tempur ofensif, setiap unit Ghost Shark dirancang mampu membawa hingga 12 unit ranjau laut secara bersamaan. Kemampuan ini memungkinkan armada XL-AUV untuk menggelar ladang ranjau secara diam-diam guna memblokir alur pelayaran atau pergerakan kapal perang lawan di selat-selat strategis.
#Australia unveils #GhostShark submarine drone’s ‘teeth’ https://t.co/rvos7a3NV5
— ShanghaiEye🚀official (@ShanghaiEye) October 19, 2026
Australia just revealed three previously undisclosed payloads for Anduril’s Ghost Shark autonomous submarine. One of them is another Anduril product.
Including:
• Deploying up to 12 sea mines in a mission.
• Leaving supply caches on the seabed.
• Launching ALTIUS aerial drones for reconnaissance or strike.
The ALTIUS payload is pretty interesting. An underwater vehicle carrying aerial drones could give the Australian Navy a way to reach beyond what the submarine itself can see or strike, without exposing any of their personnel.
The supply caches caught my attention too. Moving equipment into position ahead of time could give forces another way to get what they need when ordinary resupply is limited.
These are all different payload options for the same platform. The Navy could change what payloads Ghost Shark carries to suit the job, and add new capabilities as they’re developed.
Some of the newly disclosed maritime payloads are heading to an allied exercise in San Diego this week.
Obviously, there’s still some testing and integration ahead, but we have a much clearer picture of the missions Australia is building Ghost Shark to perform.
https://t.co/24LqnxFtcM— Anduril Observer (@AndurilObserver) October 19, 2026
Australia Tunjuk RWM Italia untuk Pasok Ranjau Laut Pintar, Diklaim yang Tercanggih di Dunia
Jika sepuluh unit Ghost Shark dikerahkan dalam satu gelombang operasi, armada ini mampu menyebar hingga 120 ranjau laut tanpa mempertaruhkan nyawa awak kapal selam konvensional. Selain perang ranjau, Ghost Shark juga dibekali kemampuan meluncurkan kawanan drone kamikaze udara jenis Altius.
Drone dengan hulu ledak seberat 4 kg ini dapat diluncurkan dari posisi bawah laut untuk menyerang dan melumpuhkan radar kapal perang, antena komunikasi, sensor elektro-optik, hingga kapal-kapal permukaan berukuran kecil pada jarak berkisar antara 160 km hingga lebih dari 440 km.
Sementara untuk kategori payload ketiga, Ghost Shark dapat menyusup ke wilayah perbatasan musuh untuk menempatkan pasokan logistik bawah laut yang nantinya dapat diambil oleh tim pasukan khusus, tanpa memerlukan keberadaan kapal pengangkut berawak di lokasi riskan.
Dari segi desain teknis, Ghost Shark mengusung sistem penggerak listrik dengan struktur lambung free-flooding yang dilengkapi kompartemen kedap air terpisah untuk modul elektronik, sistem propulsi, dan ruang payload. Kapal selam tanpa awak ini dikendalikan oleh perangkat lunak otonom berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Lattice buatan Anduril, yang memungkinkan navigasi dan eksekusi misi secara mandiri di tengah keterbatasan sinyal komunikasi radio di dalam air.
AL Australia Pamerkan Speartooth LUUV: Drone Bawah Laut yang Mirip Paus Pembunuh
Modul payload yang dapat dibongkar-pasang (interchangeable) memberikan fleksibilitas tinggi bagi operator untuk mengubah konfigurasi misi sesuai kebutuhan taktis di lapangan. Australia juga membangun ekosistem pertempuran bawah laut terpadu dengan membentuk unit Maritime Autonomous Systems Unit.
Unit ini mengintegrasikan peran Ghost Shark dengan kendaraan bawah laut otonom kelas menengah Speartooth buatan C2 Robotics dan kapal permukaan otonom tenaga surya/angin Bluebottle buatan Ocius. Dalam doktrin operasinya, Bluebottle bertindak sebagai pengawas permukaan dan sensor sonar tunda (towed-array), Speartooth menjalankan misi pindaian modular, sementara Ghost Shark bertugas membawa dan mengeksekusi payload serangan ofensif berdaya hancur tinggi.
Australia Kendalikan Kapal Selam Tanpa Awak Inggris Berbobot 17 Ton dari Jarak 16.000 Km
Pengembangan kapabilitas ofensif Ghost Shark diumumkan bertepatan dengan digelarnya latihan militer bersama AUKUS Maritime Big Play Pacific yang melibatkan Australia, Amerika Serikat, dan Inggris. Di bawah skema kerjasama AUKUS Pillar II, teknologi payload dan sensor otonom milik Ghost Shark dirancang agar saling kompatibel (interchangeable) untuk diintegrasikan pada platform kendaraan bawah laut milik sekutu, termasuk proyek Orca XLUUV milik Amerika Serikat dan XV Excalibur milik Angkatan Laut Inggris.
Pengadaan ribuan komponen dan sub-sistem Ghost Shark melibatkan lebih dari 40 perusahaan lokal Australia, dipusatkan di fasilitas manufaktur robotik seluas 7.400 meter persegi milik Anduril di Sydney. Kontrak senilai 1,7 miliar dolar Australia yang ditandatangani pada September 2025 memastikan pengiriman armada Ghost Shark pertama untuk Angkatan Laut Australia dimulai sejak awal 2026 dan akan terus berlanjut hingga tahun 2030.
Dengan kombinasi penanaman ranjau bawah laut dan serangan udara drone kamikaze, Ghost Shark membuktikan bahwa inovasi alutsista otonom mampu mengubah peta kekuatan dan doktrin perang bawah laut di kawasan Indo-Pasifik secara drastis. (Bayu Pamungkas)


