Mirip AURI Era 1960-an, Cina Andalkan Rudal Jelajah KD-63 Turunan P-15 Termit untuk Pembom Xian H-6K

Bagi pengamat pertahanan tanah air, kombinasi antara pesawat pembom strategis dan rudal jelajah stand-off berukuran bongsor membawa memori sejarah tersendiri. Pada dekade 1960-an, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pernah mengoperasikan kekuatan udara paling ditakuti di belahan bumi selatan lewat jet pembom Tupolev Tu-16KS Badger-B yang dipersenjatai rudal jelajah anti-kapal bongsor (seperti keluarga KS-1 Komet).

Baca juga: Hari ini 65 Tahun Lalu, Batch Perdana Pembom Strategis Tupolev Tu-16 Badger Tiba di Indonesia

Menariknya, doktrin penyerangan stand-off berbasis platform pembom Tu-16 tersebut kini dilestarikan dan dimodernisasi oleh Cina lewat armada pembom Xian H-6—yang tak lain adalah lisensi lokal serta kloningan dari Tu-16 Soviet—serta penggunaan rudal jelajah modern KD-63 (dikenal juga sebagai YJ-16).

Di balik kemiripan doktrin udara tersebut, secara silsilah teknis rudal KD-63 ternyata dikembangkan dari basis P-15 Termit, rudal anti-kapal legendaris era 1960-an yang pada masa lalu juga pernah dioperasikan oleh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI/TNI AL) lewat armada kapal cepat rudal Komar class.

Stasiun televisi pemerintah Cina baru-baru ini menayangkan rekaman latihan tempur skala besar yang melibatkan jet pembom Xian H-6 dalam skenario penegakan zona Anti-Access/Area Denial (A2/AD). Tayangan tersebut memperlihatkan integrasi varian terbaru rudal jelajah KD-63.

Varian paling gres dari KD-63 ini mengusung desain kubah hidung (nose section) baru yang telah dirancang ulang serta peningkatan pada sistem pemandu hibrida. Rudal ini kini mengintegrasikan pencari inframerah pencitraan (imaging infrared seeker) serta antena penerima data (data-receiving antenna) untuk pembaruan jalur terbang secara real-time.

KS-1 Komet (AS-1 Kennel): Rudal Jelajah Bongsor “Penakluk” Karel Doorman

Jika disandingkan secara teknis, lompatan evolusi dari rudal P-15 Termit konvensional menuju KD-63 terlihat sangat drastis. P-15 Termit aslinya dirancang sebagai rudal anti-kapal permukaan jarak pendek hingga menengah (~40-80 km) dengan kecepatan subsonik dan pemandu radar aktif atau inframerah sederhana.

Sementara itu, KD-63 hasil modernisasi Cina telah bertransformasi menjadi rudal jelajah stand-off serbaguna berdaya jangkau hingga 200 kilometer. KD-63 mengadopsi navigasi inersia, pembaruan data datalink, serta sensor imaging infrared (IIR) yang membuatnya kebal terhadap jammer radar lawan, sekaligus mampu mengenali target secara otomatis untuk menghantam sasaran dengan hulu ledak seberat 500 kilogram.

Dari aspek sejarah operasionalnya, pengembangan seri KD-63 diawali dari armada pembom Xian H-6H, yakni varian khusus pembawa rudal jelajah yang dirancang tanpa ruang bom internal demi memuat dua rudal berukuran jumbo di bawah gantungan sayapnya. Transformasi ini menunjukkan bagaimana Cina secara cerdik memodernisasi arsitektur alutsista era Perang Dingin agar tetap memiliki daya hancur presisi di medan tempur modern.

Xian H-6K Mampu Lepas Landas dari Woody Island, Kini Seluruh Asia Tenggara dalam Jangkauan

Menariknya, dalam latihan A2/AD di kawasan Pasifik tersebut, PLAAF tidak hanya mendemonstrasikan varian baru KD-63. Varian pembom yang lebih modern, yakni Xian H-6K, juga terlihat mengerahkan rudal balistik diluncurkan dari udara (Air-Launched Ballistic Missile/ALBM) berjuluk KD-21 (atau 2PZD-21).

Rudal KD-21 ini disebut-sebut sebagai jawaban Cina atas rudal hipersonik Kh-47M2 Kinzhal milik Rusia. Penggelaran kombinasi rudal KD-63 yang telah dimodernisasi bersama rudal hipersonik KD-21 membuktikan bahwa meski mengandalkan platform airframe gaek berbasis Tu-16, Cina berhasil menyulap armada Xian H-6 menjadi truk pengangkut rudal stand-off yang amat menakutkan bagi armada kapal perang maupun pangkalan militer lawan di kawasan. (Gilang Perdana)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *