Dominasi Drone DJI Bikin AS Dilematis: Di-Blacklist Washington, Diperlukan Skuadron Keamanan Silo Nuklir AS

Di tengah restriksi ketat dan narasi ancaman keamanan nasional yang digaungkan Washington, Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) justru mengambil langkah pragmatis yang memicu sorotan. Skuadron Operasi Keamanan Rudal ke-90 (90th Missile Security Operations Squadron) yang bertugas mengamankan pangkalan rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) Minuteman III di F.E. Warren Air Force Base, Wyoming, mengajukan pengadaan unit drone komersial buatan perusahaan asal Cina, SZ DJI Technology Co., Ltd.
Langkah ini menjadi contoh menarik dari kontradiksi antara kebijakan politik pertahanan AS dan realitas kebutuhan taktis di lapangan. Dalam dokumen pengadaan yang dilaporkan Stars and Stripes, USAF berencana membeli sejumlah unit drone bekas (refurbished) buatan DJI, antara lain dua unit Mavic 2 Pro, dua unit Mini 3 Pro, dan dua sistem FPV Avata 2, lengkap dengan perangkat pemicu pelepas beban (payload-release devices).
Unsur-unsur di atas tidak dialokasikan untuk misi pengawasan aktif atau pengumpulan intelijen militer, melainkan diplot secara khusus sebagai target simulasi realistis (realistic targets). Melalui skenario ini, para personel pengaman situs silo nuklir AS dilatih untuk mendeteksi, menjejak, dan melumpuhkan drone kecil (small Unmanned Aircraft Systems/sUAS) yang berpotensi melakukan penyusupan di sekitar pangkalan pertahanan strategis tersebut.
Keputusan USAF memilih produk DJI secara eksplisit didasari oleh dominasi pasar dan karakteristik teknis yang unik dari produsen asal Shenzhen tersebut. Menguasai sekitar 80 hingga 85 persen pangsa pasar drone komersial global, produk-produk DJI memiliki protokol komunikasi, radio-frequency signatures, serta karakteristik manuver udara yang khas dan sangat sulit direplikasi oleh simulasi komputer maupun drone buatan produsen lain.
Chinese drones 👀
F.E. Warren Air Force Base, Wyoming, home to Minuteman III ICBMs, posted a solicitation on Aug. 14 asking to buy DJI drones by name: Mavics, Minis, Avatas, plus airdrop gear.
The justification: Training.
DJI owns 80-85% of the global drone market, so… pic.twitter.com/LY4ZTj6FDK
— TheAviationFix (@TheAviationFix) August 18, 2026
Mengingat riset USAF mencatat ada lebih dari 350 insiden penyusupan drone di ratusan instalasi militer AS sepanjang tahun 2024, menguji sistem pertahanan menggunakan drone yang paling populer dan paling mungkin ditemui di alam liar merupakan sebuah kebutuhan taktis yang mendesak.
Pengadaan ini memicu kontras yang tajam bila disandingkan dengan retorika politik pertahanan Pentagon. Departemen Pertahanan AS (DoD) secara resmi telah memasukkan SZ DJI Technology Co., Ltd. ke dalam daftar hitam perusahaan militer Cina (Chinese military company list).
Departemen Pertahanan AS dan jajaran legislatif di Washington secara konsisten menyuarakan stigma bahwa drone DJI membawa potensi bahaya espionage atau mata-mata terselubung, di mana data peta, citra visual, dan lokasi geografis sensitif yang direkam oleh sensor drone dikhawatirkan dapat diakses oleh otoritas pemerintah dan intelijen Cina melalui celah perangkat lunak. Stigma ini berujung pada berbagai pembatasan, seperti larangan penggunaan drone Cina di instansi pemerintah hingga pemblokiran izin perangkat baru oleh Federal Communications Commission (FCC) di pasar komersial AS.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa dominasi teknologi dan efisiensi industri DJI membuat AS berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, Washington berupaya keras membendung ekspansi komersial serta penetrasi teknologi Cina atas dasar potensi risiko keamanan.
Di sisi lain, militer AS sendiri mengakui secara tidak langsung bahwa standar teknologi DJI begitu dominan dan sukar tandingi, hingga untuk melatih prajurit dalam menghadapi ancaman serangan drone sipil di situs persenjataan terpenting mereka sekalipun, platform DJI tetap menjadi tolok ukur terbaik yang harus mereka hadapi. (Bayu Pamungkas)
Dukung Operasional di Medan Papua, Prajurit Korps Marinir Dibekali Drone Copter dari DJI Technology
Related Posts
-
Haijing 2901/3901 – Berstatus Kapal Penjaga Pantai, Tongkrongan Kelas Destroyer
50 Comments | Jan 8, 2020
-
Menhan Austria Beri Respon Positif Atas Surat Prabowo, Inilah Dua Opsi Penjualan Eurofighter Typhoon ke Indonesia
2 Comments | Sep 7, 2020
-
‘Hadiah’ dari Ramzan Kadyrov, Pasukan Rusia Mulai Gunakan Tesla Cybertruck di Garis Depan Melawan Ukraina
1 Comment | Sep 21, 2024
-
Aevum Ravn X – Saatnya Drone Sebagai Peluncur Satelit
10 Comments | Dec 8, 2020


