Catatan Mantan KKM TNI AL: KRI Sriwijaya 100 dan Tantangan Biaya BBM Empat Turbin Gas Eks ITS Garibaldi

Peresmian kapal induk eks Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, menjadi KRI Sriwijaya 100 pada 24 September 2026 menandai babak baru dalam sejarah armada TNI AL. Namun, di balik seremonial berdirinya kapal induk pertama Indonesia ini, terdapat analisis teknis dan finansial yang sangat krusial dari purnawirawan perwira tinggi TNI AL, Laksda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto.

Baca juga: Refleksi HUT TNI Ke-81: Mengapa KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi) Berisiko Menjadi ‘Dilema Strategis’ di Laut Indonesia

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI yang memiliki rekam jejak sebagai Kepala Kamar Mesin (KKM) di KRI Badik dan KRI Keris ini menyoroti secara tajam konsekuensi teknis dari pengoperasian sistem permesinan kapal tersebut. Meskipun hibah badan kapal berukuran panjang sekitar 180 meter ini diterima tanpa biaya akuisisi, beban anggaran sesungguhnya terletak pada biaya operasional dan pemeliharaan empat unit turbin gas tua General Electric-Fiat LM2500 yang menjadi penggerak utamanya.

Kapal induk Giuseppe Garibaldi dirancang pada akhir 1970-an dan dioperasikan sejak pertengahan 1980-an. Sistem propulsinya mengusung konfigurasi Combined Gas and Gas (COGAG) dengan empat turbin LM2500 yang menggerakkan dua poros propeler via dua reduction gear, menghasilkan total daya 60.400 kilowatt.

Artinya, Indonesia tidak hanya menerima mesin yang telah berusia empat dekade, tetapi juga seluruh instalasi pendukung yang mengalami keusangan teknologi. Dokumen resmi Angkatan Laut Italia pada tahun 2022 bahkan telah menegaskan dibutuhkannya intervensi korektif, bantuan rekayasa, serta suku cadang khusus untuk mengatasi masalah kerawanan sistem kontrol, instalasi pipa, sistem pendingin, hingga gear jaringan pendorong pada kapal tersebut.

General Electric LM2500 (foto: istimewa)

Penggunaan mesin turbin gas LM2500 sejatinya bukan hal baru bagi TNI AL. Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, Indonesia pernah mengoperasikan empat Kapal Cepat Rudal (KCR-PSK) Mandau class, yaitu KRI Mandau 621, KRI Rencong 622, KRI Badik 623, dan KRI Keris 624.

Masing-masing kapal tersebut mengusung satu turbin gas LM2500 yang dipadukan dengan dua mesin diesel MTU dalam sistem Combined Diesel or Gas (CODOG). Dalam skema CODOG, mesin diesel digunakan untuk pelayaran patroli rutin, sementara turbin gas hanya diaktifkan saat membutuhkan kecepatan tinggi.

Mandau Class: Generasi KCR TNI AL Warisan Orde Baru

Pengalaman teknis pada KRI Badik dan KRI Keris membuktikan bahwa turbin gas LM2500 sangat jarang dioperasikan karena konsumsi bahan bakar yang sangat boros, biaya perawatan tinggi, kebutuhan suku cadang serta teknisi khusus, hingga tingginya risiko kerusakan jika mendiamkan mesin terlalu lama.

Risiko operasional instalasi turbin gas tua juga tercatat dalam sejarah kelam tenggelamnya KRI Rencong-622 pada 11 September 2018 di perairan Sorong. Musibah kebakaran tersebut bersumber dari ruang turbin gas akibat gangguan pada proses pemanasan mesin. Peristiwa ini menggarisbawahi ketatnya prosedur, perlunya teknisi terlatih, serta disiplin pemeliharaan yang sangat tinggi dalam mengoperasikan instalasi turbin tua. Jika pada KCR Mandau class potensi gangguan hanya terkonsentrasi pada satu unit turbin gas per kapal, maka pada KRI Sriwijaya 100 kompleksitas risiko meningkat empat kali lipat karena mengoperasikan empat turbin tua sekaligus.

Kapal Cepat Rudal KRI Rencong 622 Terbakar dan Tenggelam di Perairan Sorong

Perbedaan paling mendasar dan krusial antara KCR Mandau class dengan KRI Sriwijaya 100 terletak pada fleksibilitas sistem pendorongnya. Pada kapal KCR, armada masih dapat berlayar hemat menggunakan mesin diesel jika turbin gas disimpan atau mengalami masalah.

Sebaliknya, KRI Sriwijaya 100 tidak memiliki opsi mesin diesel pelayar hemat. Empat unit LM2500 merupakan penggerak tunggal dan utama. Hal ini berarti teknologi yang dahulu sangat dihemat dan jarang dinyalakan pada kapal cepat TNI AL, justru kini dipaksa menyala terus-menerus sebagai jantung penggerak kapal induk. Langkah pengoperasian ini dinilai bukan sebagai lompatan teknologi maju, melainkan kembali mengadopsi teknologi lama dalam skala yang jauh lebih besar, rumit, dan mahal.

Dari sudut pandang transfer teknologi (Transfer of Technology/ToT), keberadaan kapal induk ini dianggap tidak memberikan nilai tambah strategis bagi kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Indonesia telah mengenal karakteristik LM2500 selama lebih dari empat dekade.

Dilema Mesin COGAG KRI Sriwijaya: Menakar Opsi Konversi Diesel Demi Pangkas Biaya Operasional Kapal Induk Pertama Indonesia

Tanpa dibarengi hak atau kemampuan untuk memproduksi komponen, memperbaiki ruang bakar dan sudu turbin, mengatasi komponen usang yang stop produksi, hingga melakukan overhaul penuh secara mandiri, penerimaan kapal ini hanya sekadar transfer teknologi tua (Transfer of Old Technology) yang melimpahkan masalah lama dan beban tagihan baru (Transfer of Old Problems and New Bills). Awak dan teknisi TNI AL harus kembali dilatih hanya untuk mengoperasikan serta merawat sistem dari era 1980-an.

Beban finansial dari pengoperasian KRI Sriwijaya 100 dihitung berdasarkan kebutuhan bahan bakar. Mengingat sistem lama kapal tidak kompatibel jika langsung menggunakan bahan bakar nabati B50 akibat risiko kerusakan pompa, filter, dan ruang bakar, penggunaan Pertamina Dex (asumsi Rp20.000 per liter) menjadi opsi yang paling memungkinkan.

Dengan simulasi pola operasi 39 minggu di laut (6.552 jam berlayar per tahun), pada kecepatan jelajah sedang 15 knot saja, kapal diperkirakan mengonsumsi sekitar 2.890 liter bahan bakar per jam. Ini menyedot biaya sekitar Rp1,39 miliar per hari hanya untuk propulsi, atau mencapai Rp400,55 miliar hingga Rp422,39 miliar per tahun setelah memperhitungkan operasional generator di dermaga.

Pengeluaran bahan bakar tersebut akan membengkak secara eksponensial seiring peningkatan kecepatan. Pada kecepatan 18 knot, biaya BBM per tahun mencapai Rp676,25 miliar hingga Rp698,09 miliar. Pada kecepatan 20 knot, angkanya melonjak ke Rp919,52 miliar hingga Rp941,36 miliar. Sementara jika dipaksa melaju pada kecepatan tinggi 25 knot, konsumsi Pertamina Dex dapat menembus Rp1,775 triliun hingga Rp1,797 triliun per tahun.

Kecepatan Kapal Jadi Dilema di Satuan Kapal Cepat TNI AL

Dalam jangka waktu sepuluh tahun, total pengeluaran BBM saja berada di kisaran Rp4 triliun hingga Rp17,9 triliun, belum memperhitungkan biaya minyak pelumas, suku cadang, docking, perbaikan reduction gear, pasokan amunisi, gaji awak, serta operasional kapal pengawal dan helikopter.

Secara doktrin militer modern, keberadaan kapal berukuran raksasa tidak secara otomatis menciptakan efek gentar (deterrence) jika tidak didukung oleh kesiapan teknis dan proteksi yang memadai. Kapal induk tua yang menguras anggaran bahan bakar, rentan mengalami kerusakan teknis, serta sering menganggur di dermaga justru berisiko menjadi sasaran bernilai tinggi (high-value target) bagi doktrin tempur lawan.

Pengoperasian KRI Sriwijaya 100 kini resmi membawa konsekuensi anggaran triliunan rupiah yang harus ditanggung oleh APBN, menjadikannya sebuah alutsista yang sangat mahal untuk diparkir dan jauh lebih mahal lagi untuk dijalankan. –  oleh Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto (Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis/KABAIS TNI).

Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *