Refleksi HUT TNI Ke-81: Mengapa KRI Sriwijaya (eks ITS Garibaldi) Berisiko Menjadi ‘Dilema Strategis’ di Laut Indonesia

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI Ke-81 tahun 2026 diwarnai oleh diskursus menarik mengenai arah penataan postur kekuatan laut Indonesia. Salah satu sorotan tajam datang dari tulisan kritis mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (KABAIS) TNI, Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto, yang mengulas secara mendalam kehadiran KRI Sriwijaya 100 —kapal induk eks ITS Giuseppe Garibaldi asal Italia.
Baca juga: Awal Era Kapal Induk Indonesia: Implikasi Strategis ITS Giuseppe Garibaldi Bagi TNI AL
Melalui pendekatan uji kelayakan dan analisis doktrin pertahanan, analisis tersebut membedah apakah akuisisi kapal berbobot 14.000 ton ini relevan dengan takdir geografi Indonesia yang didominasi jalur selat strategis.
Dalam kerangka kebijakan pengadaan dan perpanjangan umur aset pertahanan, setiap alutsista berukuran besar wajib melewati uji lima kriteria utama. Hasilnya, KRI Sriwijaya dinilai tidak lolos pada hampir seluruh kriteria dasar sebagai alutsista penjelajah selat. Kapal ini bukan platform pengintaian maupun penyangkalan (sea denial) yang lincah, di mana mobilitas taktisnya kalah fleksibel dibandingkan armada Landing Platform Dock (LPD).
KRI Sriwijaya juga tidak mampu beroperasi secara mandiri dan selalu membutuhkan pengawalan ketat dari satu hingga dua kapal perang jenis fregat. Dari segi efisiensi, operasional kapal ini menelan biaya sekitar Rp0,89 triliun per tahun pakai—setara delapan kali lipat pengoperasian LPD baru—dengan konsumsi BBM mencapai Rp95,8 juta per jam layar.
Dengan bobot 14.000 ton dan pertahanan diri era 1980-an, platform ini sangat rentan di wilayah selat terbatas dari ancaman rudal pantai dan drone lawan, serta memberikan pengaruh doktrin yang negatif karena memaksa anggaran, latihan, dan karier berputar hanya untuk melindunginya.
Ketidaklolosan dalam uji kelayakan tersebut berkaitan erat dengan geografi laut Indonesia yang tidak pernah berubah sejak era Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1025, di mana kunci kendali tetap berada di selat-selat vital seperti Selat Malaka, Sunda, Lombok, Makassar, dan Ombai-Wetar.
Apabila krisis militer terjadi, penempatan KRI Sriwijaya justru menciptakan dilema operasional bagi komando tempur. Jika kapal pengawal difokuskan mengitari KRI Sriwijaya, selat-selat strategis akan kekurangan penjaga sehingga armada lawan mudah menerobos masuk.
Sebaliknya, jika kapal pengawal ditarik untuk mengamankan selat, KRI Sriwijaya yang uzur akan tertinggal tanpa pengawalan dan menjadi sasaran empuk rudal atau drone anti-kapal—sebuah skenario yang mengingatkan pada nasib musnahnya kapal penjelajah Moskva pada tahun 2022. Kedua pilihan tersebut sama-sama membawa kekalahan, membuktikan bahwa kekuatan yang terikat pada satu pusat tidak bisa sekaligus menjaga seluruh pintu masuk Nusantara.
Resmi Bernama KRI Sriwijaya 100, PT PAL Siapkan Modernisasi Kapal Induk Eks Giuseppe Garibaldi
Kritik tajam juga menyoroti pemanfaatan operasional KRI Sriwijaya yang sejauh ini dinilai lebih sering berfungsi sebagai panggung ketimbang armada pemukul. Upacara penyerahan dan pelantikan komandan pada 24 September 2026 digelar saat kapal bersandar di Dermaga 107 Tanjung Priok, bahkan aksi sailing pass perdananya pada parade HUT ke-81 TNI dibatalkan karena kapal masih menunggu penyelesaian proses retrofit.
Guna menghindari jebakan doktrin “lapangan upacara mengapung”, kesiapan setiap kapal perang utama seyogianya diukur berdasarkan kriteria laut yang nyata, mulai dari jumlah hari layar dalam setahun, tingkat kesiapan tempur dalam tempo 72 jam, efektivitas penyelesaian misi mandiri, hingga jumlah jam terbang operasional helikopter di atas geladaknya.
Kapal perang yang tidak mampu memenuhi indikator operasional tersebut dalam dua tahun pertama sudah sepatutnya masuk dalam kajian evaluasi status operasional atau dipensiunkan demi efisiensi postur pertahanan laut nasional. – oleh Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto (Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis/KABAIS TNI).
Pernah Gelar Turnamen Padel dan Konser Simfoni, Inilah Sisi ‘Glamor’ Geladak ITS Garibaldi


