‘Bangkit dari Kubur’, 4 Pesawat Tanker KC-10A Extender Eks USAF Siap Diregenerasi, Rumor Kuat Mengarah ke Mesir

Air Force Life Cycle Management Center (AFLCMC) secara resmi menerbitkan pemberitahuan kontrak (contracting notice) untuk mengidentifikasi mitra industri yang mampu melakukan pemulihan dan regenerasi empat unit pesawat tanker raksasa KC-10A Extender dari tempat penyimpanan purnatugas (boneyard).
Baca juga: KC-10 Extender: Serba Serbi Pesawat Tanker ‘Pendukung’ Ferry Flight F-16 TNI AU
Meskipun dokumen resmi AS hanya menyebutkan pesawat akan ditransfer ke negara mitra di Afrika Utara melalui skema Excess Defense Articles (EDA), berbagai sumber intelijen militer tak resmi dan klaim pihak Israel mengarah kuat pada Mesir sebagai calon penerima utama armada tanker raksasa tersebut.
Penunjukan tidak resmi Mesir sebagai calon operator terbilang sangat masuk akal dalam peta kekuatan udara Teluk dan Afrika Utara. Angkatan Udara Mesir saat ini belum memiliki pesawat tanker dedicated khusus flying boom untuk melayani armada F-16 Fighting Falcon milik mereka.
Lebih dari itu, KC-10A Extender dibekali sistem pengisian bahan bakar ganda—yaitu boom sekaligus probe-and-drogue—sehingga sanggup melayani fleksibilitas armada tempur heterogen Mesir yang mencakup Dassault Rafale, MiG-29M/M2, hingga Mirage 2000. Kehadiran Extender akan memberikan kemampuan serangan udara jarak jauh (long-range strike capability) yang secara drastis memperluas radius tempur Angkatan Udara Mesir di kawasan.
BREAKING: According to Israeli military sources, the U.S. government has approved the sale to Egypt of four retired KC-10A Extender heavy tanker-transport aircraft previously operated by the U.S. Air Force.
The aircraft will enter service with the Egyptian Air Force, providing it with a long-range strike capability.
— Babak Taghvaee – The Crisis Watch (@BabakTaghvaee1) October 8, 2026
Di sisi lain, proyek pemulihan ini memicu pertanyaan mengenai ketersediaan dan kondisi fisik populasi KC-10A yang tersisa di boneyard pangkalan Davis-Monthan Air Force Base, Arizona. Dari total 60 unit KC-10 yang pernah diproduksi McDonnell Douglas untuk USAF (satu unit hancur akibat insiden pada 1987), sebanyak 10 unit telah dilelang dalam kondisi terbalut kanibalisasi tanpa mesin dan tanpa boom kepada penyedia layanan refueling swasta, Omega Air.
Dan kini menyisakan 49 unit KC-10A Extender di lokasi penyimpanan. Sesuai mandat Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) AS Tahun Anggaran 2026, ke-49 unit pesawat tersebut diwajibkan untuk tetap dipertahankan (preserved) dalam kondisi penyimpanan terakhirnya per 30 September 2025.
Setelah 40 Tahun Mengudara, Armada Pesawat Tanker KC-10A Mulai Dipensiunkan
Meskipun terdapat 49 unit yang masih utuh di boneyard, regenerasi empat unit terpilih tetap menjadi tantangan logistik yang sangat kompleks dan berbiaya tinggi. Platform dasar KC-10 dikembangkan dari pesawat komersial tri-jet McDonnell Douglas DC-10 yang lini produksinya telah ditutup total sejak 1989.
Kelangkaan suku cadang (spare parts) untuk mesin General Electric CF6-50C2 serta komponen avionik berbasis DC-10 di pasar global menjadi kerawanan utama. Oleh karena itu, skema hibah atau akuisisi berbiaya murah via EDA ini mewajibkan Mesir menanggung biaya restorasi, depot-level return to service, pengiriman (ferry delivery), hingga kontrak dukungan logistik (Contractor Logistics Support – CLS) jangka panjang agar sang Extender dapat terbang kembali secara aman. (Bayu Pamungkas)
Pensiun Bertahap Sejak 2020, Pesawat Tanker KC-10A Extender Resmi Jalani Misi Tempur Terakhirnya


