Dari Sacheon Menuju Kuantan: Pengiriman Perdana Dua Jet Tempur FA-50M Pesanan Malaysia Dimulai

Proses pengiriman jet tempur ringan (Light Combat Aircraft/LCA) FA-50M pesanan Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) resmi dimulai dari Korea Selatan. Dua unit pertama FA-50M dengan nomor ekor M58-01 dan M58-02 telah bertolak dari fasilitas Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon dan mendarat untuk transit di Bandara Internasional Jeju pada 28 Oktober 2026.
Baca juga: Mengudara Bersama FA-50: Rudal Cheonryong dan Ambisi Serangan Presisi Korea Selatan
Penerbangan feri jarak jauh (ferry flight) ini menandai fase krusial dalam realisasi kontrak pengadaan alutsista udara Malaysia, setelah Menteri Pertahanan Malaysia mengumumkan di parlemen bahwa penerimaan resmi armada perdana ini dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober 2026 di Pangkalan Udara Kuantan.
Perjalanan penerbangan feri menuju Malaysia menempuh rute bertahap menyeberangi Laut Cina Selatan. Setelah melakukan persinggahan singkat di Jeju, kedua pesawat dijadwalkan mendarat di Laoag, Filipina, sebelum melanjutkan penerbangan menuju Pangkalan Udara Labuan di Sabah, dan berakhir di Pangkalan Udara Kuantan, Pahang.
Untuk mendukung jarak tempuh yang panjang tanpa dukungan tanker udara, kedua jet tempur FA-50M melakukan penerbangan feri dengan membawa kombinasi tangki bahan bakar cadangan (external fuel tanks) berkapasitas 275 galon dan 300 galon. Penggunaan tangki tambahan berkapasitas lebih besar ini menjadi salah satu keunggulan teknis baru yang diperkenalkan pada varian terbaru tersebut.
Two Royal Malaysian Air Force FA-50M (LCA)—tail numbers M58-01 and M58-02departed from Sacheon to Jeju Island this morning
The two FA-50M aircraft are expected to land in Laoag, tomorrow, followed by an arrival at Labuan they are scheduled to land at Kuantan on the 30th https://t.co/9d9qH6Cd8B
— Malaysia Military Review (@JohnMYSreview) October 28, 2026
Secara visual, salah satu fitur pembeda utama pada FA-50M yang dikirim ke Malaysia adalah hadirnya sistem retractable aerial refueling probe (probe pengisian bahan bakar di udara model lipat) yang terpasang rapi di sisi kanan kokpit. Sistem probe-and-drogue yang dapat dilipat masuk ke dalam badan pesawat (fuselage) ini memungkinkan FA-50M melakukan pengisian bahan bakar di udara dari pesawat tanker tanpa mengorbankan aerodinamis atau meningkatkan jejak radar (radar cross-section) saat tidak digunakan.
Dikombinasikan dengan penggunaan tangki eksternal baru berkapasitas 300 galon—meningkat drastis dari kapasitas 150 galon pada varian terdahulu—jangkauan operasional dan radius tempur jet ini meningkat secara signifikan.
Congratulations to ROK and Malaysia! First batch of RMAF FA-50M Block70 left KAI factory, heading to their home this morning.
Both of them carrying 275gal and 300gal fuel tanks from F-5E/F-16 for long range ferry flight.
Please check the link of the report.🔗 https://t.co/bGOhDcrHXZ
— Wang Shao-Hsiang (@hsiangwang324) October 28, 2026
Meskipun menyandang nama dasar FA-50, varian FA-50M Block 20 untuk Malaysia membawa lompatan teknologi yang sangat signifikan dibandingkan varian standar (Block 10) yang dioperasikan oleh Korea Selatan, Filipina, Thailand, maupun Irak.
Perubahan paling fundamental terletak pada integrasi radar Active Electronically Scanned Array (AESA) RTX PhantomStrike berbasis semikonduktor Gallium Nitride (GaN) dari Amerika Serikat, yang menggantikan radar mekanis Elta EL/M-2032. Radar AESA ini memberikan peningkatan jarak deteksi hingga puluhan persen lebih jauh, kemampuan melacak banyak sasaran secara bersamaan, serta ketahanan tinggi terhadap gangguan peperangan elektronik (jamming).
Raytheon Technologies Pasok Radar AESA PhantomStrike untuk FA-50 Fighting Eagle
Selain radar AESA, FA-50M dilengkapi dengan pod penjejak sasaran Lockheed Martin Sniper Advanced Targeting Pod (ATP) dan sistem komunikasi data Link 16. Kompatibilitas Sniper Pod ini juga memberikan efisiensi logistik bagi TUDM karena memiliki kesamaan (commonality) dengan perangkat pod yang digunakan pada armada F/A-18D Hornet milik Malaysia.
Dari segi persenjataan udara-ke-udara, FA-50M mampu mengusung rudal jarak pendek modern AIM-9X Super Sidewinder yang tahan terhadap decoy dan memiliki manuverabilitas tinggi, dilengkapi sistem Identification Friend or Foe (IFF) canggih di bagian hidung. Sementara untuk misi serangan darat, jet tempur ini siap mengusung bom berpemandu presisi GBU-12 laser-guided bombs, GBU-38 JDAM, serta rudal AGM-65 Maverick, dengan opsi pengadaan rudal jarak jauh AIM-120 AMRAAM di masa depan.
Menhan Malaysia: “Kami Beli Block 20, Versi Terbaru Jet Tempur FA-50 Fighting Eagle”
Kontrak pengadaan bernilai sekitar US$920 juta yang ditandatangani pada Mei 2023 ini mencakup 18 unit FA-50M pada Tahap 1, dengan 16 unit sisanya akan dikirimkan secara bertahap hingga Maret 2028. Sebagai persiapan operasional dan pemeliharaan, TUDM telah menandatangani kontrak Intermediate Maintenance (ILM) dengan KAI serta telah mengirimkan 6 penerbang dan 56 teknisi ke Korea Selatan untuk menjalani pelatihan intensif.
Penempatan armada FA-50M akan difokuskan di Pangkalan Udara Kuantan dan Pangkalan Udara Labuan guna menjaga ruang udara Malaysia yang terpisah oleh Laut Cina Selatan, sekaligus menjadi pijakan bagi rencana penambahan 18 unit FA-50M tambahan pada Tahap 2 program FLIT-LCA mendatang. (Gilang Perdana)
Tanpa Radar AESA dan Rudal BVR: Skadron FA-50GF Polandia Kini Telah Berstatus Combat Ready


