Menakar Taji Naval Caracal: Profil Sang Pemburu Kapal Perang yang Ideal untuk KRI Sriwijaya 100

Langkah sinergis ditunjukkan TNI melalui latihan touch and go yang melibatkan helikopter H225M Caracal Skadron Udara 8 TNI Angkatan Udara dengan kapal induk KRI Sriwijaya-100 di Perairan Teluk Jakarta pada 16 Oktober 2026.
Di balik suksesnya latihan yang memperkuat interoperabilitas antarmatra tersebut, timbul sebuah diskursus strategis di kalangan pengamat pertahanan, platform H225M Caracal sejatinya sangat ideal jika dioperasikan di bawah naungan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal), terutama untuk melengkapi kekuatan strategis di atas geladak kapal induk KRI Sriwijaya kelak.
Menariknya, misi pendaratan di kapal perang ini akan menemukan bentuk sempurnanya apabila mengadopsi varian tempur maritim murni (naval combat variant), yang profil, kecanggihan, serta rekam jejak operasionalnya telah dibuktikan secara nyata oleh Angkatan Laut Brasil.
Di tubuh Angkatan Laut Brasil (Marinha do Brasil), varian maritim paling canggih dari keluarga helikopter ini dikenal dengan sebutan AH-15B Super Cougar. Brasil secara keseluruhan mengoperasikan total belasan unit helikopter keluarga H225M melalui proyek pengadaan gabungan H-XBR yang dirakit oleh pabrikan lokal Helibras/Airbus, di mana varian serang maritim penuh AH-15B berjumlah 5 unit yang mulai diterima pengiriman operasionalnya sejak akhir 2021 hingga tuntas diserahkan pada awal tahun 2026.
Instagram🇧🇷MB uses the highly complex anti-ship version of the H225M, Called the AH-15B Super cougar. The missile used is the MBDA Exocet AM39 B2M2, With the main radar for target location being an CarteNav APS143, Apart from other advanced communication systems and countermeasures. https://t.co/0j677OmwnZ
— Gabriel Ribas (@Trotes936897) September 20, 2025
Angkatan Laut Brasil menempatkan armada AH-15B ini di bawah Skuadron HU-2 yang diproyeksikan secara khusus untuk berpangkalan dan beroperasi dari kapal induk helikopter serbaguna NAM Atlântico (A140) serta jajaran kapal kombatan utama dan dok amfibi mereka.
Daya gentar utama AH-15B terletak pada kapasitasnya dalam menggotong dan meluncurkan rudal anti-kapal jarak jauh Exocet AM39 Block 2 Mod 2, menjadikannya platform pemburu permukaan yang sangat ditakuti. Keunggulan tempur ini didukung penuh oleh rangkaian sensor optik dan elektronik kelas atas yang terpasang di bagian hidungnya.
Dari Helikopter H225M Caracal, AL Brasil Sukses Luncurkan Rudal Anti Kapal AM-39 Exocet
Tepat di bawah hidung helikopter ini terdapat kubah sensor Forward-Looking Infrared (FLIR) Star SAFIRE III untuk pengamatan siang/malam, yang dipadukan secara langsung dengan konsol kubah radar di bawahnya, yakni Telephonics APS-143C(V)3 OceanEye. Radar maritim canggih ini berfungsi mendeteksi target permukaan di lautan luas secara 360 derajat, mengunci sasaran, sekaligus memandu penembakan rudal Exocet. Selain itu, helikopter ini juga dilengkapi sistem peperangan elektronik (Electronic Warfare) serta lapisan pelindung anti-korosi khusus lingkungan maritim yang ekstrem.
Kombinasi antara daya gempur rudal Exocet, radar maritim canggih APS-143, serta fleksibilitas pendaratan di kapal kombatan menjadikan varian naval H225M sebagai standar emas helikopter anti-kapal modern.
Latihan interoperabilitas yang digelar di KRI Sriwijaya tidak hanya sukses merajut soliditas matra udara dan laut, tetapi juga membuka proyeksi jangka panjang bagi modernisasi Puspenerbal untuk mengadopsi kekuatan tempur maritim kelas dunia demi menjaga kedaulatan perairan Nusantara. (Gilang Perdana)
NAS 332 Super Puma TNI AL: “Melacak” Jejak Helikopter Pengusung Rudal Anti Kapal



