Stok Rudal Patriot Anjlok 65% Pasca konflik Iran, AS Kucurkan Kontrak Jumbo US$58,6 Miliar ke Lockheed Martin

Perang skala besar dan konfrontasi sengit di Timur Tengah, khususnya pasca-eskalasi dengan Iran, memberikan pukulan telak bagi persediaan sistem pertahanan udara Amerika Serikat. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa stok rudal pencegat (interceptor) Patriot milik Angkatan Darat AS mengalami penurunan tajam hingga 65 persen.

Baca juga: Lockheed Martin Perkenalkan PAC-3 ACE: Inovasi Rudal Hanud Patriot dengan Biaya yang Lebih Ekonomis

Keterbatasan logistik amunisi yang kian menipis ini dinilai menjadi salah satu faktor kunci yang memicu keraguan Presiden Donald Trump untuk terlibat dalam perang terbuka secara menyeluruh (total war) melawan Teheran.

Berdasarkan kalkulasi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), stok rudal pencegat Patriot AS kini menyusut hingga menyisakan sekitar 759 unit saja sejak 28 Februari lalu. Tidak hanya Patriot, stok rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara kawasan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) juga dilaporkan merosot hingga 50 persen akibat penggunaan aktif selama fase pertempuran intensif tersebut. Kondisi ini memperlihatkan betapa tingginya tingkat konsumsi amunisi berpresisi tinggi dalam menghadapi ancaman serangan rudal balistik dan drone Iran.

Secara teknis, celah logistik ini memicu kekhawatiran mendalam terkait kesiapan tempur jangka panjang militer AS karena laju kapasitas produksi saat ini tidak sebanding dengan tingkat pemakaian di lapangan. Industri pertahanan AS saat ini tercatat hanya mampu memproduksi sekitar 183 unit rudal Patriot per tahun, sementara waktu tunggu (lead time) untuk pengiriman unit baru dari pabrik hingga siap operasi mencapai 3,5 tahun.

Lonjakan Permintaan dari Eropa, Boeing Lipat Gandakan Produksi Seeker Rudal Patriot PAC-3

Kerentanan pada rantai pasok inilah yang memaksa Gedung Putih di bawah kepemimpinan Donald Trump kalkulatif dalam mengeskalasi konflik, menyadari bahwa perang total dengan Iran akan menguras habis sisa perisai udara AS di wilayah lain.

Menanggapi krisis persediaan yang krusial tersebut, Angkatan Darat AS (US Army) bergerak cepat dengan memberi kontrak rekor bernilai fantastis kepada raksasa pertahanan Lockheed Martin. Nilai kontrak tersebut mencapai US$58,6 miliar yang mencakup peningkatan kapasitas serta percepatan produksi rudal Patriot untuk Tahun Anggaran (Fiscal Year) 2026 hingga 2032. Langkah ini diambil guna memulihkan kembali postur pertahanan udara AS yang sempat rapuh, sekaligus membangun kembali daya gentar (deterrence) di panggung internasional. (Gilang Perdana)

Mengapa Indent Rudal Patriot Sangat Lama? Mengupas Kerumitan dan Waktu Produksi Varian PAC-3 MSE

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *