Tepat di Selatan Indonesia! Kapal Selam Nuklir USS Colorado (Virginia Class) Resmi Bermarkas di Perth

Geopolitik dan pertahanan kawasan kembali bergejolak setelah aliansi pertahanan AUKUS secara resmi mengumumkan penunjukan kapal selam serbu cepat nuklir Virginia class, USS Colorado (SSN 788), sebagai kapal selam perdana yang akan ditempatkan di bawah kerangka Submarine Rotational Force-West (SRF-West).
Berdasarkan siaran pers gabungan yang dirilis oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, serta Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting pada 26 Oktober 2026, USS Colorado dijadwalkan mulai mengawali rotasi penempatannya di pangkalan militer HMAS Stirling, Perth, Australia, pada akhir tahun 2027.
Yang membuat perkembangan ini sangat krusial bagi Indonesia adalah posisi geografis Perth yang terletak di pesisir barat daya Australia—berada tepat di sisi selatan wilayah kedaulatan dan perairan Indonesia, serta menjadi bagian dari pengerahan hingga empat kapal selam nuklir AS dan satu kapal selam nuklir Inggris secara bergilir di masa mendatang.
USS Colorado (SSN 788) merupakan kapal selam serbu cepat berteknologi nuklir Virginia class (Block III) yang dibangun oleh galangan kapal Huntington Ingalls Industries dan mulai bertugas aktif di Angkatan Laut AS sejak tahun 2018. Dengan bobot benam mencapai sekitar 7.800 ton saat menyelam dan panjang lambung 115 meter, kapal selam ini ditenagai oleh reaktor nuklir S9G yang memungkinkannya beroperasi tanpa batas waktu pengisian bahan bakar serta melaju di bawah air dengan kecepatan melebihi 25 knot.
Keunggulan utama USS Colorado terletak pada kesenyapan akustiknya yang luar biasa, sistem persenjataan mematikan berupa tabung peluncur vertikal (VLS) untuk rudal jelajah Tomahawk, serta torpedo berat Mk-48. Sementara itu, pangkalan tempatnya bersandar nanti, yaitu HMAS Stirling di Pulau Garden (dekat wilayah Perth), dipersiapkan sebagai hub logistik dan pemeliharaan strategis yang akan mempercepat kemampuan Australia dalam mengoperasikan dan merawat kapal selam bertenaga nuklir secara mandiri di kawasan Indo-Pasifik.
Meskipun skema penempatan di Perth ini berstatus rotasi (rotational basis) dengan durasi penugasan berkala dan melibatkan dukungan personel gabungan dari AS, Inggris, dan Australia, kedekatan jarak geografisnya dengan teritori Indonesia patut dicermati secara seksama.
Intip HMAS Stirling (Fleet Base West): Pangkalan Angkatan Laut Terbesar Australia di Samudra Hindia
Jarak udara dari kawasan Perth ke wilayah paling selatan teritorial perairan Indonesia (seperti di sekitar Samudra Hindia atau gugusan pulau di Nusa Tenggara Timur) terbentang sekitar 2.400 hingga 2.800 kilometer—jarak yang relatif sangat dekat bagi pergerakan kapal selam siluman bertenaga nuklir.
Kehadiran aset strategis ini menghadirkan dinamika keamanan tersendiri. Di satu sisi, program SRF-West ini dirancang untuk berjalan secara transparan sesuai komitmen hukum internasional, termasuk kepatuhan penuh terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan Traktat Zona Bebas Senjata Nuklir Pasifik Selatan (Traktat Rarotonga).
Namun di sisi lain, bagi Indonesia sebagai negara non-blok yang menjunjung tinggi politik luar negeri bebas aktif, kehadiran pangkalan kapal selam nuklir adidaya di halaman belakang perairan nasional menuntut peningkatan kesiapsiagaan doktrin pertahanan maritim, pemantauan bawah air (anti-submarine warfare), serta penguatan diplomasi pertahanan guna menjaga stabilitas kawasan dari risiko eskalasi persaingan kekuatan besar di Indo-Pasifik. (Bayu Pamungkas)
Australia Suntik Tambahan A$4,6 Miliar Guna Pembangunan Galangan Kapal Selam Nuklir AUKUS di Osborne


