Super Etendard: Ketika Jet Tempur Perancis Menggebrak Samudra dan Mengukir Sejarah Global

Tepat pada 28 Oktober 1974, dunia penerbangan militer internasional mencatatkan momen penting berupa penerbangan perdana (maiden flight) jet tempur serang Dassault Super Etendard. Uji terbang perdana pesawat yang dikembangkan oleh pabrikan dirgantara asal Perancis, Dassault Aviation, ini dilakukan di fasilitas uji terbang Istres, Perancis.
Di bawah kendali pilot uji utama Dassault, Jacques Jesberger, purwarupa pertama Super Etendard (yang juga dikenal sebagai Etendard 68) berhasil mengangkasa dengan mulus untuk menguji performa mesin serta kelayakan sistem aerodinamika dasarnya.
Secara historis, pengembangan Super Etendard lahir sebagai respons atas kebutuhan Angkatan Laut Perancis (Marine Nationale) akan pesawat tempur modern berbasis kapal induk yang dapat menggantikan peran Etendard IV yang mulai uzur. Dassault merancang pesawat ini dengan memanfaatkan kerangka dasar dari keluarga Etendard IV, namun melakukan perombakan total pada sektor avionik, sistem senjata, serta mengadopsi mesin yang jauh lebih bertenaga.
Sebagai pesawat tempur serang ringan bermesin tunggal dengan struktur logam penuh (all-metal), Super Etendard dirancang kompak untuk memaksimalkan ruang penyimpanan di dek kapal induk yang terbatas.
Masih Eksis di Argentina, Super Etendard Ternyata Pernah Ditawarkan Serius ke Indonesia
Dari segi spesifikasi teknis, Super Etendard ditenagai oleh satu buah mesin turbojet SNECMA Atar 8K-50 tanpa afterburner yang mampu menghasilkan daya dorong hingga 49 kN. Pesawat ini sanggup melesat hingga kecepatan maksimal Mach 1,2 (sekitar 1.180 hingga 1.205 km/jam) di ketinggian optimal, dengan radius tempur mencapai 850 km dalam profil misi hi-lo-hi serta jangkauan feri hingga 1.820 km.
Keunggulan utama pesawat ini terletak pada sistem avionik canggih pada masanya, termasuk radar pencari permukaan Agave dan komputer navigasi digital UAT-40 yang terintegrasi penuh dengan persenjataan anti-kapal. Pengujian operasional pertamanya di atas kapal induk dilakukan tidak lama setelah masa pengembangannya, di mana pesawat ini dirancang khusus dengan kait ekor (tailhook) serta roda pendarat kokoh untuk mendukung operasi pendaratan ekstrem di atas kapal induk Clemenceau milik Perancis.
Karakter khasnya sebagai naval aviation fighter terlihat dari kelincahan manuver tingkat tinggi pada kecepatan rendah, stabilitas saat terbang rendah di atas permukaan laut (sea-skimming), serta kemampuan memproyeksikan serangan presisi tinggi secara mandiri dari tengah lautan.
Sepanjang siklus hidupnya, Super Etendard dioperasikan oleh sejumlah negara di dunia. Selain Angkatan Laut Perancis sebagai pengguna utama, pesawat ini juga dibeli oleh Angkatan Laut Argentina (Armada de la República Argentina) serta sempat disewakan kepada Angkatan Udara Irak pada dekade 1980-an.
On October 28, 1974, the #Dassault-Breguet Super Étendard attack fighter aircraft flew for the first time. https://t.co/ftQZmWl8cX
— PAF Falcons (@PAFFalconsPK) October 28, 2015
Nama Super Etendard melonjak menjadi legenda militer global berkat aksi fenomenalnya dalam Perang Malvinas (Falklands War) pada tahun 1982. Meskipun saat itu Argentina hanya mengoperasikan segelintir unit yang baru dikirim, kombinasi maut antara jet Super Etendard dan rudal anti-kapal jarak jauh AM39 Exocet sukses menggemparkan dunia internasional setelah berhasil menenggelamkan kapal perusak canggih Inggris, HMS Sheffield, serta kapal logistik massal Atlantic Conveyor.
Menariknya, pada dekade 1980-an, jet tempur andal ini sempat ditawarkan kepada Indonesia sebagai bagian dari opsi modernisasi armada TNI AU maupun penjajakan strategis industri pertahanan, kendati akhirnya tidak pernah diakuisisi secara resmi oleh Jakarta.
Memasuki era modern, kiprah panjang Super Etendard mendekati garis akhir. Varian pamungkasnya, yakni Super Etendard Modernisé (SEM) yang telah mendapat upgrade kokpit HOTAS, radar Anemone, serta kompatibilitas senjata pintar, menjadi tulang punggung serangan terakhir Perancis di bawah bendera operasi militer di Afghanistan, Libya, hingga Irak.
Operasi penerbangan militer terakhir dari atas kapal induk Charles de Gaulle dilakukan pada Maret 2016, sebelum akhirnya Perancis resmi mempensiunkan secara total armada Super Etendard pada Juli 2016 seiring kedatangan jet tempur gen-4.5 berbasis kapal induk yang lebih modern, Dassault Rafale-M.
Saat ini, secara praktis sudah tidak ada lagi unit Super Etendard yang aktif beroperasi di dunia, menyusul langkah Argentina yang secara resmi mengumumkan penarikan penuh armada terakhirnya pada Mei 2023 akibat kendala suku cadang. Sepanjang jalur produksinya dari tahun 1974 hingga 1983, tercatat sebanyak 85 unit Super Etendard telah berhasil dibangun dan dikirimkan ke berbagai negara pengguna. (Haryo Adjie)


