Setelah Tiga Brigade Kalah, Houthi Rebut Radar dan Sensor Pesisir Tercanggih Buatan AS, Israel, dan Perancis

Rentetan kekalahan taktis pasukan koalisi di Laut Merah yang berujung pada penyitaan ratusan kendaraan tempur dan kendaraan taktis (rantis) kini berlanjut ke krisis yang jauh lebih strategis di domain intelijen maritim. Kelompok Houthi secara resmi mengumumkan keberhasilan merebut jejaring sistem pengawasan pesisir (coastal surveillance systems) tingkat tinggi yang disokong oleh Amerika Serikat, Israel, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: Krisis Moril, Tiga Brigade Koalisi Saudi Menyerah di Jalur Laut Merah, Ratusan Alutsista ‘Brand New’ Dirampas Houthi

Perampasan fisik atas perangkat keras pemantau maritim paling modern ini menjadi pukulan telak bagi intelijen Barat, mengingat alutsista tersebut memuat teknologi sensor sensitif yang sangat diburu oleh negara riset pertahanan seperti Cina, Rusia, hingga Iran untuk kepentingan reverse engineering (rekayasa balik).

Salah satu tangkapan paling berharga dalam operasi penyitaan tersebut adalah sistem radar pemantau pantai Thales CoastWatcher 100 buatan Perancis. Radar pantai berbasis pemrosesan sinyal Artificial Intelligence (AI) ini dirancang khusus untuk memetakan navigasi permukaan hingga jarak lebih dari 150 mil laut (sekitar 277 km).

Menggunakan pemrosesan sinyal canggih berbasis algoritma cerdas, CoastWatcher 100 memiliki keunggulan dalam mendeteksi dan mengonfirmasi target berukuran amat kecil di tengah gangguan gelombang laut (clutter) yang ekstrem. Penyitaan radar ini memberi akses langsung bagi pakar perang elektronik lawan untuk mempelajari frekuensi operasi serta algoritma pemrosesan data maritim buatan Perancis secara utuh.

Korps Marinir Lakukan Uji Fungsi Radar Kelvin Hughes SharpEye di Bukit Hambalang

Lini pertahanan elektronik yang berhasil dikuasai Houthi juga mencakup radar pertahanan pantai portabel SPEXER buatan Hensoldt (Jerman) serta sistem pindaian maritim SharpEye. Radar SPEXER dikenal luas karena memanfaatkan teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) yang sanggup melacak target bergerak di darat maupun perairan dalam kondisi cuaca buruk dan badai laut sekalipun.

Menambah daftar panjang temuan tersebut, Houthi turut mengamankan radar taktis bergerak ELM-2226 ACSR (Advanced Coastal Surveillance Radar) pasokan IAI Elta dari Israel. Radar ELM-2226 dilengkapi fitur Low Probability of Intercept (LPI) berbasis pemancar daya rendah yang keunggulannya terletak pada ketahanan tinggi terhadap perang elektronik (jamming) sekaligus sulit dideteksi oleh sistem penerima intelijen sinyal (ESM/ELINT) musuh.

Mirip Radar Giraffe, Inilah Prototipe Coastal Radar Produksi Dalam Negeri

Tak berhenti pada sensor permukaan, perangkat intelijen yang disita mencakup sensor (Unmanned Underwater Vehicle/UUV) BlueWhale serta kamera elektro-optik/inframerah (EO/IR thermal) berresolusi tinggi untuk identifikasi kapal di malam hari. Sensor submersible BlueWhale memiliki keunggulan akustik untuk melacak pergerakan wahana bawah air, sementara modul kamera EO/IR memberikan pencitraan termal presisi tinggi guna memantau aktivitas infiltrasi di pesisir.

Taiwan Optimalkan Radar Pertahanan Pantai yang Dipasang pada Kendaraan Sipil

Peristiwa ini menyusul rentetan akuisisi berharga sebelumnya ketika militer Iran berhasil mengamankan bom udara presisi tinggi buatan AS, berbagai jenis rudal guided, serta wahana permukaan nirawak (Unmanned Surface Vessel/USV) milik Angkatan Laut AS yang kandas. Jatuhnya perangkat elektronik berteknologi tinggi ini ke tangan poros Teheran-Moskow-Beijing dipastikan akan mempercepat pengembangan taktik penangkal (countermeasures) terhadap sistem sensor standar NATO dan Israel di masa depan. (Gilang Perdana)

Incar Pasar Australia, IAI Israel Tawarkan Drone Bawah Laut ‘BlueWhale’ untuk Intai Koridor Utara dan Laut Cina Selatan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *