Satu Lagi Drone Bawah Laut AS Jatuh ke Tangan Iran: MK 18 Mod 2 Kingfish Disita di Selat Hormuz

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps Navy/IRGCN) kembali mengklaim keberhasilannya merebut aset intelijen berharga milik Angkatan Laut AS (US Navy) di Selat Hormuz. Sebuah wahana otonom bawah air (Unmanned Underwater Vehicle/UUV) jenis MK 18 Mod 2 Kingfish disita saat tengah beroperasi memetakan perairan strategis tersebut.

Baca juga: Garda Revolusi Iran Rilis Video Pembakaran USV Intai AS Saildrone Explorer 5838 di Pintu Selat Hormuz

Tangkapan ini menjadi penyitaan drone bawah laut AS kedua oleh militer Iran hanya dalam kurun waktu satu bulan, setelah sebelumnya mereka juga mengamankan drone Anduril Dive-LD yang mengalami kegagalan fungsi teknis.

MK 18 Mod 2 Kingfish merupakan UUV jenis battery-electric spesialis misi perburuan dan pemetaan ranjau (Mine Countermeasures/MCM). Drone bawah laut ini diproduksi oleh Hydroid (anak perusahaan Huntington Ingalls Industries), yang dikembangkan dari basis platform komersial populer REMUS 600.

Memiliki bentuk silinder mirip torpedo dengan panjang sekitar 3,5 meter (dapat diperpanjang hingga 4,3 meter tergantung modul baterai), diameter 32,4 cm, serta bobot berkisar antara 240 hingga 272 kilogram, Kingfish dirancang khusus untuk mampu menyelam hingga kedalaman 600 meter di bawah permukaan laut.

Dari aspek teknis, MK 18 Mod 2 Kingfish tidak diluncurkan dari kapal selam, melainkan dioperasikan dari kapal permukaan. Karena bobotnya yang mencapai lebih dari 240 kg, drone ini membutuhkan sistem penanganan mekanis khusus dan biasanya disebarkan menggunakan perahu karet berhull kaku (Rigid-Hull Inflatable Boat/RHIB) berukuran 11 meter yang dilengkapi perangkat peluncur dan pengangkat (launch-and-recovery equipment).

Selain dari perahu cepat RHIB, Kingfish juga dapat diturunkan menggunakan derek (crane) dari kapal perang permukaan yang lebih besar, seperti kapal perang pesisir (Littoral Combat Ship/LCS) Independence class USS Charleston. Fleksibilitas peluncuran dari kapal permukaan ini memungkinkan kapal induk dan personel operator tetap berada di jarak aman di luar area yang diduga merupakan ladang ranjau.

Iran Klaim Sita Drone Bawah Laut AS Dive-LD Buatan Anduril di Selat Hormuz

Saat berada di air, Kingfish meluncur secara otonom mengikuti titik koordinat (waypoints) yang telah diprogram dengan kecepatan jelajah standar 3 knot dan kecepatan maksimal hingga 5-6 knot. Wahana ini dibekali baterai lithium-ion yang memungkinkannya beroperasi tanpa henti selama puluhan jam dengan jarak jangkauan mencapai ratusan kilometer.

Jantung utama dari perangkat penginderaannya adalah Small Synthetic Aperture Sonar Module (SSASM) serta sonar pemindai samping (side-looking synthetic aperture sonar) presisi tinggi. Perangkat ini sanggup memetakan dasar laut secara detail, mendeteksi, serta mengklasifikasikan berbagai jenis ranjau laut—mulai dari ranjau terapung, melayang, terikat, hingga ranjau yang sengaja dikubur di bawah lapisan lumpur atau pasir laut.

Mengenal ‘Remus 600’: Drone Bawah Laut (AUV) Milik AS yang ‘Diciduk” Houthi

Selain sonar, wahana ini turut dilengkapi kamera bawah air, sensor suhu dan salinitas (CTD), Doppler Velocity Log (DVL), serta sistem navigasi inersia yang dipadukan dengan GPS P-code saat naik ke permukaan.

Bagi Iran, disitanya Kingfish utuh merupakan “harta karun” intelijen teknologi yang sangat bernilai tinggi. Tidak seperti drone pengintai biasa, memori non-volatile pada Kingfish menyimpan timbunan data sensitif, seperti rekaman citra sonar resolusi tinggi, rekaman koordinat dasar laut, sejarah navigasi, hingga pola pemetaan titik ranjau yang telah dipindai militer AS di Selat Hormuz. (Gilang Perdana)

Raytheon Uji Hadalus, Drone Bawah Laut (XLUUV) Murah Berdaya Jelajah Tinggi Pesanan US Navy

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *