Pertahanan Buritan KRI I Gusti Ngurah Rai 332: Rahasia Di Balik Layout Persenjataan Fregat SIGMA 10514 TNI AL

(@weiqi_xiulang)

Sorotan kamera para antusias maritim (shipspotter) Jepang saat KRI I Gusti Ngurah Rai 332 berlabuh di Pelabuhan Yokosuka menyisakan diskusi menarik mengenai tata letak persenjataan fregat Martadinata class (SIGMA 10514) ini. Dari sudut pandang visual di sektor buritan, kapal perang andalan TNI AL tersebut tampak begitu “bersih” tanpa adanya kanon permanen atau sistem Close-In Weapon System (CIWS) kinetik yang mengarah langsung ke belakang.

Baca juga: Untuk Pertama Kali, Rudal Anti Kapal Exocet MM40 Block 3 Meluncur dari Frigat KRI I Gusti Ngurah Rai 332

Kondisi tersebut secara intuitif memicu pertanyaan mengenai sejauh mana efektivitas skema pertahanan KRI I Gusti Ngurah Rai 332 dalam menghadapi ancaman perang asimetris, seperti perahu cepat (Fast Attack Craft) atau Unmanned Surface Vessel (USV) drone laut yang melaju dari titik mati (dead stern).

Jika ditinjau secara arsitektur dan filosofi desain, persenjataan pada fregat SIGMA 10514 memang sangat terkonsentrasi di sektor haluan hingga tengah kapal (forward-heavy layout). Meriam utama OTO Melara 76 mm Super Rapid, sistem CIWS Rheinmetall Oerlikon Millennium 35 mm, hingga peluncur vertikal (Vertical Launching System) rudal anti-udara VL MICA semuanya diposisikan di area depan.

Sementara itu, posisi kanon penangkis serangan udara dan ancaman permukaan jarak dekat Vektor G12 (Denel GI-2 20 mm) dipasang pada dudukan flying bridge di belakang anjungan. Penempatan Vektor G12 tersebut efektif untuk mengover sektor kiri dan kanan (port/starboard), namun terhalang oleh struktur cerobong asap (funnel) dan hanggar, sehingga tidak memiliki jalur tembak langsung (direct line of sight) ke titik 0 derajat di belakang geladak.

Menariknya, kompromi desain ini memiliki komparasi langsung pada “saudara kembar” SIGMA 10514 yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Meksiko (Semar), yaitu ARM Benito Juárez (POLA-101). Menggunakan basis platform lambung yang identik buatan Damen, AL Meksiko memilih pendekatan proteksi sektor belakang yang sedikit berbeda.

Di atas struktur hanggar helikopter, ARM Benito Juárez membekali diri dengan peluncur rudal pertahanan titik RIM-116 RAM (Rolling Airframe Missile). Keberadaan peluncur RAM di area buritan ini secara efektif menghapus blind spot atas ancaman udara dan rudal anti-kapal dari sudut belakang.

POLA Class, Frigat ‘Kembaran’ RE Martadinata Class Baru Akan Dipasangi Rudal Hanud VLS RIM-162 ESSM

Kendati demikian, untuk urusan ancaman permukaan jarak dekat (surface threats) di geladak air, baik KRI 332 maupun POLA-101 sama-sama menghadapi batasan fisik yang sama akibat keberadaan helideck, di mana ARM Benito Juárez mengandalkan kanon kanon 25 mm BAE Systems Mk 38 Mod 2/3 di sektor tengah.

Konsentrasi persenjataan kinetik utama di bagian depan pada KRI I Gusti Ngurah Rai 332 bukanlah celah fatal, melainkan bentuk efisiensi operasional guna menjaga keleluasaan fungsi helideck dan hanggar bagi helikopter AKS (Anti-Kapal Selam) AS565 MBe Panther. Dalam doktrin pertempuran laut, kapal perang berlayar dengan asumsi ancaman utama datang dari busur depan atau samping saat bermanuver.

Oerlikon Millennium 35mm: Perisai Reaksi Cepat Andalan Fregat Martadinata Class TNI AL

Jika ancaman asimetris mencoba mendekati area titik buta (blind spot) buritan, skema pertahanan tidak mengandalkan senjata statis di belakang, melainkan pada fleksibilitas manuver kapal (turning curve) untuk membawa sasaran ke dalam busur tembak (arcs of fire) meriam utama maupun kanon 20 mm di anjungan.

Untuk penanganan ancaman jarak sangat dekat saat kapal berlabuh atau bergerak pelan, pertahanan buritan dialihkan pada sistem non-permanen yang fleksibel. Tim pertahanan kapal (Force Protection) dapat menyiagakan Senapan Mesin Berat (SMB) 12,7 mm pada mounting point manual di sekitar geladak helikopter.

Selain itu, kesadaran situasi (situational awareness) tetap terjaga secara 360 derajat melalui integrasi radar 3D SMART-S Mk2 dan sensor optronik Thales STIR, memungkinkan komando kapal mendeteksi dan merespons pergerakan bahaya di sektor belakang sebelum sasaran mencapai jarak kritis. (Gilang Perdana)

Langka! Intip Presisinya Helikopter AS565 MBe Panther di Hanggar KRI I Gusti Ngurah Rai 332

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *