Otak Komando KRI Gajah Mada: Mengenal CMS SADOC Pada Kapal Induk Eks ITS Garibaldi

Langkah modernisasi kekuatan TNI AL memasuki babak baru seiring kepastian akuisisi kapal induk eks-Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (C551). Kapal yang bakal mengusung nama baru sebagai KRI Gajah Mada ini membawa kapabilitas komando terintegrasi yang krusial bagi doktrin pertahanan maritim Indonesia.

Baca juga: KRI Gajah Mada Resmi Berlayar ke Indonesia: Bedah Biaya Modernisasi dan Tantangan Teknis Eks Kapal Induk Italia Garibaldi 

Di balik kemampuan operasi penerbangan helikopter dan proyeksi kekuatan jarak jauhnya, otak utama yang mengendalikan seluruh sensor, sistem pertahanan, dan senjata pada kapal induk ini terletak pada Combat Management System (CMS) berbasis SADOC (Sistema Dirigibile Addestramento Operativo di Combattimento) buatan pabrikan pertahanan Italia, Selenia (sekarang bagian dari konsorsium Leonardo).

CMS SADOC pada KRI Gajah Mada dirancang secara spesifik sebagai sistem pemrosesan data tempur tingkat taktis dan strategis untuk memimpin sebuah gugus tugas armada (flagship C4I). Keunggulan utama sistem ini terletak pada kemampuannya mengonsolidasikan puluhan input sensor radar udara, radar permukaan, sonar, serta sistem peperangan elektronika (EW) secara real-time ke dalam satu gambaran situasi taktis (tactical picture) yang komprehensif.

Selain itu, sistem SADOC-3 yang terpasang pada Garibaldi telah terintegrasi dengan jaringan Tactical Data Link standar NATO seperti Link 11 dan Link 16, yang memungkinkan kapal ini tidak hanya memandu pertahanan dirinya sendiri, tetapi juga membagikan data sasaran dan mengoordinasikan serangan secara presisi kepada kapal-kapal eskort di sekelilingnya.

Tinggalkan Port Said Menuju Indonesia: Mengukur Biaya Operasional dan Karakter Mesin COGAC KRI Gajah Mada (ITS Garibaldi)

Kendati memiliki keunggulan besar dalam memimpin gugus tugas laut, CMS SADOC pada KRI Gajah Mada pada dasarnya merupakan sistem yang dikembangkan dengan arsitektur komputasi terpusat (centralized legacy system) yang telah mengalami beberapa kali peningkatan (Mid-Life Update). Hal ini menghadirkan perbandingan yang sangat menarik jika disandingkan dengan kapal perang generasi terbaru buatan Italia. Meski berasal dari silsilah produsen pertahanan yang sama, teknologi CMS modern saat ini telah melompat jauh hingga dua generasi di atas sistem SADOC-3.

Lompatan teknologi ini dapat dilihat langsung pada dua kapal perang fregat/PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) terbaru milik TNI AL eks-Italia, yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321. Kedua kapal tempur utama ini telah dibekali generasi CMS mutakhir berupa Leonardo SADOC Mk4 (ATHENA Mk4) yang mengusung arsitektur sistem terbuka (Open System Architecture) dengan pemrosesan data terdistribusi yang jauh lebih cepat, responsif, dan redundan.

Berbeda dengan arsitektur terpusat era SADOC-3 pada KRI Gajah Mada, SADOC Mk4 pada KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi mampu mengolah ribuan jejak sasaran secara simultan dari sensor radar modern AESA Dual Band Radar (DBR), memandu penembakan rudal pertahanan udara Aster 30 secara otomatis, serta menampilkan seluruh kontrol taktis kapal melalui antarmuka Naval Cockpit yang sangat futuristik. (Gilang Perdana)

Bangkit dari ‘Ngendon’, Kapal Induk Thailand HTMS Chakri Naruebet Mendapatkan Upgrade dari Thales

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *