Perusahaan Asal Hawaii Uji Coba Drone Berbahan Batuan Vulkanik di Latihan Angkatan Laut RIMPAC 2026

Penggunaan material komposit dalam manufaktur drone (unmanned systems) memasuki babak baru yang memanfaatkan kekayaan alam bumi. Voltage Vessels, sebuah perusahaan teknologi asal Maui, Hawaii, berhasil menguji coba drone fixed-wing dan drone permukaan air yang dicetak 3D (3D printed) menggunakan bahan komposit berbasis batuan vulkanik pada latihan militer multinasional Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026.
Baca juga: Mengenal LPD BAP Pisco: Varian Makassar Class Andalan Peru yang Unjuk Gigi di RIMPAC 2026
Material inovatif yang diberi nama Eclipse X9 ini dibuat dengan menggabungkan serat yang dipintal langsung dari batuan basal vulkanik dengan termoplastik poliester PETG. Pendiri dan CEO Voltage Vessels, Sam Young, mengklaim bahwa komposit ini memiliki ketahanan mekanis yang jauh lebih unggul ketimbang serat karbon (carbon fiber) maupun fiberglass yang selama ini mendominasi industri kapal dan pesawat tanpa awak.
Proses pembuatan material berbasis batuan vulkanik ini terhitung sangat unik dan ramah lingkungan karena bebas dari aditif kimia sintetis. Batu basal dihaluskan dan dilelehkan pada suhu ekstrem mencapai 1.500 derajat Fahrenheit (815 derajat Celcius), lalu diekstrak menjadi filamen kontinu yang dipintal menjadi benang komposit.
Pengujian oleh Advanced Structures and Composites Center di University of Maine membuktikan ketangguhan material ini, di mana nilai tensile strength (kuat tarik) Eclipse X9 mencatatkan angka 108 Megapascal (MPa) pada arah pencetakan. Perolehan ini mencapai lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan material standar industri kapal pencetak 3D, HDPro, yang hanya berada di angka 49,2 MPa.
[Video] Visual Close Up Kawah Gunung Agung dari Drone “Tawon 1.8”
Selain kekuatan struktur yang sangat masif, penggunaan komposit batuan vulkanik memberikan keuntungan taktis yang signifikan dalam operasi militer maritim modern. Material Eclipse X9 bersifat non-konduktif dan non-magnetik, sehingga wahana yang dibuat dari bahan ini secara alami mampu meminimalisir jejak magnetik dari ancaman rantai deteksi Magnetic Anomaly Detection (MAD) maupun sensor ranjau laut lawan. Komposit ini juga memiliki ketahanan tinggi terhadap paparan radiasi sinar ultraviolet laut lepas, tahan terhadap suhu panas ekstrem, serta dapat didaur ulang (recyclable) dengan mudah untuk mendukung prinsip kelestarian manufaktur.
Puncak Musim Panas, Rusia Manfaatkan Drone Intai FPV dengan Tenaga dari Panel Surya
Eksperimen yang melibatkan teknologi ini pada RIMPAC 2026 bertepatan dengan kebijakan anyar Pentagon yang baru saja membentuk posisi “Drone Czar” demi mempercepat pengadaan wahana otonom murah serta berdaya tahan tinggi. Selain drone mikro, Voltage Vessels juga telah menyerahkan lambung kapal bot karet berdinding keras (Rigid Hull Inflatable Boat/RHIB) sepanjang 6 meter hasil cetakan printer 3D format besar CEAD kepada militer AS untuk dievaluasi. Langkah ini membuktikan bahwa pencetakan aditif berskala besar menggunakan batuan vulkanik siap diaplikasikan pada wahana taktis yang lebih besar.
Melimpahnya cadangan batuan basal di berbagai negara kepulauan kawasan Pasifik membuka potensi pergeseran radikal dalam peta logistik militer. Dengan memanfaatkan printer 3D format besar dan material batuan vulkanik lokal, kekuatan militer dapat menerapkan doktrin expeditionary manufacturing atau manufaktur lapangan di garis depan. (Bayu Pamungkas)
Drone Intai Legendaris Rusia Orlan-10E Mengudara di Langit Jakarta untuk Uji Coba Kemhan RI


