MV-8 Komodo: Drone Darat Super Berat Garapan Kroasia yang Usung Nama Satwa Ikonik Indonesia

Boleh jadi, desainer atau perancang kendaraan khusus (ransus) asal Kroasia ini memiliki kenangan mendalam atau terinspirasi oleh sosok reptil purba endemik asal Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pasalnya, nama hewan legendaris tersebut kini resmi disematkan pada sebuah wahana tanpa awak mutakhir raksasa.
Baca juga: Komodo KIT 250AT: Rantis Intai Ringan Berpenggerak 2 Roda
Perusahaan pertahanan terkemuka asal Kroasia, DOK-ING, yang selama ini dikenal luas berkat reputasinya dalam memproduksi kendaraan pembersih ranjau mekanis, resmi memperkenalkan platform terbarunya berupa drone darat serbaguna kelas super-berat (super-heavy multipurpose unmanned ground vehicle/UGV) yang diberi nama MV-8 Komodo. Kehadiran wahana tanpa awak berbasis roda rantai (tracked) ini dirancang khusus untuk memenuhi berbagai spektrum misi, baik dalam aplikasi militer maupun pemenuhan tugas sipil di medan yang ekstrem.
Bagi publik pertahanan di Tanah Air, penamaan wahana tanpa awak buatan Kroasia ini menjadi catatan menarik tersendiri. Ini merupakan penamaan ketiga bagi kendaraan militer yang menggunakan nama “Komodo”. Jauh sebelum DOK-ING meluncurkan drone darat ini, industri pertahanan dalam negeri Indonesia melalui PT Pindad sudah lebih dulu mempopulerkan nama tersebut lewat seri kendaraan taktis (rantis) 4×4 Komodo yang hingga kini memperkuat satuan infanteri mekanis dan arhanud TNI AD.
Berbeda dengan versi rantis roda ban taktis buatan Pindad yang diawaki oleh personel secara langsung, Komodo lansiran DOK-ING ini murni merupakan robot darat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa di garis depan pertempuran atau area bencana.

Meskipun cetak biru dan spesifikasi teknis pertamanya yang sempat disinggung pada tahun 2021 belum diungkapkan secara mendetail ke publik, dokumentasi foto yang dirilis oleh media lokal Hrvatski Vojnik memperlihatkan bahwa Komodo mengadopsi sasis roda rantai lima roda (five-wheel tracked chassis). Desain sasis ini tampaknya dirancang khusus (purpose-built) dari awal untuk proyek ini, alih-alih sekadar memodifikasi atau mengadaptasi platform kendaraan pembersih ranjau yang sudah dimiliki DOK-ING sebelumnya.
Kendati demikian, untuk menjaga efisiensi produksi dan keandalan mekanis, besar kemungkinan wahana ini turut mengintegrasikan komponen-komponen industri alat berat komersial yang sudah teruji di pasaran. Jika ditinjau dari dimensi fisik dan perkiraan bobotnya, Komodo diproyeksikan masuk ke dalam jajaran drone darat paling berat dan masif di kelasnya untuk wilayah Eropa saat ini.
Berdasarkan data teknis dari DOK-ING, MV-8 Komodo memiliki berat kosong sekitar 13 ton (atau sekitar 13.000 kg). Bobotnya ini bisa membengkak atau bertambah lebih berat lagi tergantung pada jenis modul misi, ketebalan lapisan proteksi lapis baja (armor), serta peralatan zeni atau persenjataan yang dipasang pada sasisnya. Bobot raksasa inilah yang membuatnya sah masuk dalam kategori super-heavy ground drone di kelasnya.
German company Rheinmetall has presented the MV-8 Komodo UGV in two demining configurations. The systems were developed with Pearson Engineering and feature either the RCV-Pioneer plow arrangement or a ROMP mine plow combined with the Plofadder explosive line charge. #Germany pic.twitter.com/oaBzj7Fw3m
— Drone Wars (@Drone_Wars_) June 10, 2026
Sebagai drone multiguna, UGV MV-8 Komodo dipersiapkan untuk mengemban tiga pilar misi utama di medan laga, yaitu sebagai platform bantuan tembakan (fire support), armada logistik otonom di area berbahaya, serta kendaraan zeni untuk pembersihan rintangan maupun ranjau (engineering clearance).
Untuk mendukung kesadaran situasional operator, robot raksasa ini dilengkapi dengan modul sensor elektro-optik yang dapat berputar pada bagian depan kendaraan. Tepat di dekat sensor tersebut, terdapat rumah pelindung berbentuk persegi panjang yang diyakini kuat sebagai tiang teleskopik (telescopic mast) yang dapat dipanjangkan ke atas guna meningkatkan jarak pandang pemantauan radar atau kamera. Berdasarkan visualisasi stasiun komando (command station), sistem kendali Komodo dilengkapi dengan modul optik utama serta tambahan kamera pengawas (surveillance cameras) di sisi samping dan belakang untuk memberikan pandangan menyeluruh tanpa titik buta.
🇭🇷🇸🇮 – Croatia and Slovenia developed a new combat UGV together named MV-8 Komodo. First deliveries expected next year. pic.twitter.com/6D0CMBqc5m
— Info Connect (@infoconnectnow) November 8, 2025
Croatia’s DOK-ING has reportedly tested its MV-8 Komodo UGV in a remote mine-laying role using the Scorpion 2 system, capable of deploying AT2+ anti-tank mines without exposing operators. #Croatia #UGV #MineWarfare pic.twitter.com/L8K58MyJyf
— Drone Wars (@Drone_Wars_) April 18, 2026
Fleksibilitas kendali menjadi keunggulan lain dari sistem tanpa awak, di mana operator dapat mengoperasikan Komodo menggunakan unit kendali jarak jauh portabel yang ringkas (compact remote control), atau melalui stasiun komando mobile berkapasitas besar yang dibangun di atas sasis truk Volvo.
Proyek pengembangan Komodo ini kian solid setelah adanya perjanjian kerja sama strategis antara DOK-ING dan raksasa pertahanan Jerman, Rheinmetall, yang ditandatangani pada November 2024. Sinergi ini menggabungkan keahlian mendalam DOK-ING yang didirikan sejak 1992 sebagai spesialis teknologi pembersih ranjau swasta terbesar di Eropa Tenggara, dengan jaringan global Rheinmetall. (Bayu Pamungkas)
Sambut MBT Abrams dan Leopard di Ukraina, Rusia Siapkan Robot “Penghancur Tank” Marker UGV
Related Posts
-
Setelah 12 Tahun, Pasukan AS Akhirnya Diizinkan Keluar Pangkalan Udara Incirlik
4 Comments | Jan 26, 2023 -
PTS-4: Rantis Angkut Amfibi Multiguna, Dibangun dari Pengembangan PTS-10
No Comments | Oct 1, 2022 -
KF-21 Boramae Varian Tandem Seat Sukses Terbang Perdana, Dirancang untuk Latih Tempur dan SEAD
7 Comments | Feb 21, 2023 -
ITS Francesco Morosini, OPV Italia yang Singgah di Jakarta, Punya Persenjataan Standar Frigat!
6 Comments | Jul 21, 2023


