Jadi Pembeli Kedua Setelah Pakistan, Uzbekistan Mulai Operasikan Jet Tempur Chengdu J-10CE Buatan Cina

Pemerintah Uzbekistan memanfaatkan perayaan Hari Kemerdekaan ke-35 yang diperingati setiap tanggal 1 September untuk memperlihatkan armada jet tempur terbarunya buatan Cina, J-10CE (varian ekspor), ke hadapan publik. Dalam tayangan televisi negara, enam unit pertama dari total 24 jet tempur multimisi yang dipesan tampak melakukan pendaratan resmi di Pangkalan Udara Karshi-Khanabad.
Kedatangan enam unit awal ini menandai dimulainya proses modernisasi kekuatan udara Uzbekistan untuk menggantikan armada jet tempur era Soviet, MiG-29, yang dinilai sudah berumur.
Langkah Uzbekistan ini menjadikannya sebagai pengguna luar negeri kedua bagi J-10CE setelah Pakistan. Para pengamat militer menyoroti bahwa keputusan Tashkent memilih platform buatan Cina tidak lepas dari rekam jejak impresif yang diraih Pakistan saat mengoperasikan jet tempur tersebut dalam konflik bersenjata melawan India pada tahun 2025. Dalam bentrokan tersebut, J-10CE berhasil membuktikan kemampuannya di udara hingga mendapat julukan sebagai “Rafale slayer” karena keunggulannya menghadapi jet tempur buatan Perancis milik India.
Akuisisi 24 unit J-10CE ini menjadi sinyal kuat terjadinya pergeseran geostrategis di kawasan Asia Tengah, di mana negara-negara di wilayah tersebut mulai mengalihkan ketergantungan militer mereka ke pemasok baru seperti Cina. Meskipun hubungan ekonomi dan pertahanan kedua negara terus menguat, secara geografis Uzbekistan dan Cina sebenarnya tidak berbatasan langsung. Wilayah Uzbekistan di sebelah timur terpisah oleh wilayah negara tetangganya, yaitu Kirgistan dan Tajikistan. Pengadaan ini pun mempertegas komitmen Uzbekistan untuk memperluas diversifikasi alutsista demi menjaga kedaulatan wilayah udaranya di tengah dinamika politik global.
Uzbekistan’s Ministry of Defense has released footage showing six newly delivered Chinese-made J-10CE multirole fighters operating from Karshi-Khanabad Air Base in Kashkadarya Region. pic.twitter.com/iHFBkNE1Uy
— OSINTWarfare (@OSINTWarfare) August 31, 2026
Kehadiran jet tempur bermesin tunggal buatan Chengdu Aircraft Corporation ini sekaligus mengikis dominasi tradisional industri pertahanan Rusia yang selama berdekade-dekade menjadi pemasok utama alutsista bagi negara-negara bekas Uni Soviet. Faktor keterbatasan pasokan alutsista dari Moskow akibat dinamika geopolitik global dinilai mendorong Tashkent untuk mencari alternatif yang lebih tangguh dan siap pakai. J-10CE menawarkan kombinasi radar AESA, sistem avionik modern, serta integrasi rudal udara-ke-udara jarak jauh yang menjadikannya opsi sangat kompetitif di pasar internasional.
Better quality images of Uzbekistan J-10CE.
Looks like total 6 were delivered. https://t.co/ar0rnwGcxS pic.twitter.com/b29krUuYIF
— KASKAIDE-1 (@kaskaide1) August 30, 2026
Bagi industri pertahanan Cina, keberhasilan menembus pasar Asia Tengah menandai tonggak sejarah baru dalam ekspansi ekspor militer mereka di tingkat global. Kesepakatan ini diprediksi akan membuka jalan bagi negara-negara berkembang lainnya untuk mempertimbangkan alutsista buatan Cina sebagai solusi modernisasi angkatan udara yang efektif.
Langkah strategis Uzbekistan ini tidak hanya memperkuat benteng pertahanan udaranya sendiri, tetapi juga mengubah peta konstelasi keamanan dan keseimbangan kekuatan di kawasan Asia Tengah secara signifikan. (Bayu Pamungkas)
Kejutan! Jet Tempur J-10C Pakistan Cetak Skor Kemenangan Telak 9-0 Lawan Eurofighter Typhoon Qatar


