Kejutan! Jet Tempur J-10C Pakistan Cetak Skor Kemenangan Telak 9-0 Lawan Eurofighter Typhoon Qatar

Sebuah laporan mengejutkan datang dari latihan udara bersama bersandi “Zilzal-II” yang digelar di Qatar pada tahun 2024 lalu. Jet tempur generasi 4.5 buatan Chengdu Aircraft Corporation, J-10C (varian ekspor J-10CE) milik Angkatan Udara Pakistan (PAF), dilaporkan berhasil menorehkan kemenangan mutlak atas jet tempur Eurofighter Typhoon dari Qatar Emiri Air Force (QEAF).
Baca juga: Heboh Chengdu J-10C Pakistan di Atas Pasar Hewan: Bukan Bawa Rudal, Tapi Komponen Ini!
Berdasarkan bocoran data dari berbagai sumber militer di kawasan Teluk dan Pakistan, dalam serangkaian simulasi pertempuran udara intensif yang mempertemukan kedua pesawat, armada J-10C Pakistan sukses menyapu bersih keunggulan dengan mencetak rasio kemenangan tak terbantahkan, yakni 9-0 tanpa satu pun kekalahan (zero losses) di pihak jet tempur tirai bambu tersebut.
Kemenangan telak ini mencakup empat keunggulan dalam simulasi pertempuran udara jarak jauh (Beyond Visual Range/BVR) dan lima kemenangan dalam duel udara jarak dekat (dogfight). Keberhasilan di Qatar ini menjadi indikasi awal yang sangat kuat mengenai kedigdayaan jet tempur canggih generasi ‘4+’ Tiongkok, tepat setahun sebelum J-10C menjalani uji pertempuran intensitas tinggi pertamanya dan mencetak hasil luar biasa melawan Angkatan Udara India pada Mei 2025.
Hasil latihan bersama ini menjadi sangat menarik perhatian para pengamat militer global karena spesifikasi pesawat Eurofighter Typhoon milik Qatar bukanlah varian biasa. Doha mengoperasikan varian Typhoon Tranche 3A yang mulai dikirim sejak tahun 2022, di mana varian ini tergolong jauh lebih modern dibandingkan versi standar yang dioperasikan oleh negara-negara Eropa pembuatnya karena telah mengintegrasikan radar AESA baru Captor-E.

Pengadaan 24 unit Eurofighter oleh Qatar pada masa lalu secara luas dinilai lebih bermotif politik demi memperkuat hubungan strategis dengan negara-negara Eropa saat menghadapi blokade yang dipimpin Arab Saudi pada 2017. Namun, hanya berselang tiga tahun setelah pengiriman dimulai, pada akhir 2025 Qatar dikonfirmasi berencana mempensiunkan seluruh armada Eurofighter militer mereka. Pembicaraan bahkan telah digelar untuk menjual jet tempur tersebut ke Turki, yang saat ini tengah kesulitan memodernisasi armadanya akibat didepak dari program F-35 oleh Amerika Serikat dan adanya pembatasan penjualan F-16.
Langkah Qatar ini sejalan dengan rontoknya reputasi Eurofighter di tingkat global, di mana para negara operator utamanya—termasuk negara-negara pengembangnya sendiri—tengah berusaha keras mengurangi ketergantungan pada pesawat tersebut. Inggris, sebagai salah satu mitra pengembang utama, telah mengonfirmasi pembatalan permanen rencana pembelian jet tempur Eurofighter tambahan, dan memilih untuk terus mempensiunkan armada yang ada demi beralih memesan jet siluman F-35A dari Amerika Serikat.
🇨🇳 Central Military News:
🇵🇰 PAF J-10C scored a 9-0 clean sweep against 🇶🇦 QEAF Typhoon during a joint aerial exercise Zilzal-II in 2024 https://t.co/lKl812NSOJ
— David Wang (@DavidWangPLA) May 16, 2026
Meskipun simulasi pertempuran udara di atas kertas selalu dipengaruhi oleh faktor tingkat pelatihan pilot serta dukungan pesawat peringatan dini (AWACS) yang dikerahkan, keberhasilan J-10C menumbangkan Typhoon dalam kondisi latihan yang setara memberikan indikasi kuat mengenai melebarnya jurang kemampuan industri pertahanan antara Cina dan Eropa. Eurofighter merupakan satu-satunya jet tempur pasca-Perang Dingin yang berhasil dikembangkan oleh konsorsium Eropa, sementara J-10C hanyalah varian paling ringan dan berada di kelas low-end dari berbagai jenis jet tempur generasi ‘4+’ dan generasi kelima yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Cina (PLAAF).
Ketertinggalan Eropa kian nyata seiring fakta bahwa industri penerbangan tempur Cina kini memimpin dunia bersama Amerika Serikat. Cina telah meluncurkan dua prototipe jet tempur generasi keenam pada Desember 2024 dan mencatat progres signifikan dalam uji terbang operasionalnya, membuat program generasi kelima mereka berada di liga tersendiri bersama F-35 AS.
Sebaliknya, Eropa semakin tertinggal jauh tanpa memiliki jet tempur pasca-generasi keempat bahkan di tahap uji terbang sekalipun. Bagi industri pertahanan Cina, fakta bahwa J-10C sanggup mencukur habis Eurofighter Typhoon diprediksi akan mengubah peta persaingan pasar jet tempur global, di mana beberapa negara mulai mengevaluasi jet tempur berjuluk Vigorous Dragon ini sebagai alternatif yang jauh lebih mematikan dan efisien dibandingkan jet tempur buatan Barat. (Bayu Pamungkas)



Adu simulasi perang lawan TNI AU pke Rafale boleh tuh, dijamin menang… Pakistan. Kan Indonesia punya 50 AWACS siluman. Beda dengan Pakistan yang cuma punya 10 AWACS biasa.
ini tidak lebih dari skill pilot Pakistan level paman” berkacama, pertempuran adalah perang suci bagi mereka dan lawannya pun pilot” Qatar keturunan prindavan.. makin semangat pilot Pakistan tuk fathu hindi
Kekuatan finansial keuangan faktor utama..
Secara teknologi sebenarnya gak tertinggal, cuman karena benua Eropa terbagi jadi banyak negara kecil kecil dengan kepentingan masing-masing : prancis dengan rafale, Swedia dengan gripen, konsorsium dengan Eurofighter
Selama itu pula Eropa akan dibawah china dan Amerika
Apalagi program generasi ke 6 terbagi jadi beberapa kubu/blok di Eropa, ya tetap akan kalah dengan cina dan Amerika
Padahal jika Eropa bersatu, mereka bisa mengalahkan raksasa dunia kaya Amerika.
Perusahaan airbus bisa mengimbangi boeing karena gabungan finansial+ teknologi dari berbagai anggota konsorsium
Mungkin ini lebih kepada masalah pilot daripada pespur. Pilot Qatar lebih biasa mengandalkan alat daripada kemampuannya sendiri dan mereka tidak pernah terlibat perang dengan intensitas penuh seperti Pakistan yg harus bersiaga melawan Su-30MKI dan Rafale India.
Buktinya Gripen yg secara karakteristik dan spesifikasi dibawah Typhoon bisa mengalahkan J-11 yg notabene lebih baik daripada J-10C dalam pertempuran BVR diatas 88% dari jarak lebih dari 30 km. Itu menunjukkan gambaran kasar walaupun simulasi bukan menunjukkan kemampuan dan kekuatan sesungguhnya tetap saat Gripen bisa melakukannya itu menunjukkan ada yg salah dengan pengalaman tempur pilot-pilot Qatar.
Karena selama ini Eropa terlalu bergantung dengan pihak luar (Amerika)
Saat ini bukan hanya pihak Eropa yang kena prank oleh kebijakan politik Amerika yang merambat berpengaruh hingga dunia militer dan alusista
Mungkin Eropa membutuhkan 1 – 3 dekade untuk mengejar ketertinggalan dari Amerika dan China
Makin yakin dengan si “Juliet” 👍😅