Pernah Dilirik Indonesia, Eurofighter Typhoon Austria Dua Kali Cegat Pesawat Intelijen AS dalam Status Siaga Tertinggi

Dinamika keamanan di langit Eropa mencapai titik krusial setelah Angkatan Udara Austria mengonfirmasi tindakan pencegatan (scramble) jet tempur Eurofighter Typhoon terhadap armada militer Amerika Serikat selama dua hari berturut-turut pada pekan kedua Mei 2026.
Baca juga: Saat F-35 Jatuh dan Pilot Selamat, Jadi Prestasi Bagi Martin Baker MK16
Juru bicara Kementerian Pertahanan Austria, Michael Bauer, melalui pernyataan resminya pada Rabu (13/5/2026), mengungkapkan bahwa insiden pertama terjadi pada hari Minggu, 10 Mei 2026, sekitar pukul 12:31 waktu setempat. Saat itu, dua unit Eurofighter Typhoon dikerahkan dalam status “Prioritas A”—tingkat urgensi tertinggi dalam protokol pertahanan udara Austria—untuk melakukan identifikasi visual terhadap dua pesawat U-28A Draco (PC-12) milik Angkatan Udara AS yang masuk ke wilayah udara Totes Gebirge tanpa izin diplomatik yang sah.
Ketegangan ternyata belum berakhir, karena pada hari berikutnya, Senin, 11 Mei 2026, skenario serupa kembali terulang. Dua pesawat intelijen AS dengan tipe yang sama kembali terdeteksi melanggar batas udara Austria, yang memaksa armada Typhoon Wina kembali melakukan prosedur scramble kedua.
Pesawat U-28A Draco yang terlibat bukanlah platform angkut biasa, melainkan pesawat spesialis intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) yang dioperasikan oleh Komando Operasi Khusus Angkatan Udara AS (AFSOC). Dengan profilnya yang senyap dan mampu beroperasi di landasan pendek, kehadiran pesawat intelijen di wilayah terpencil Pegunungan Alpen ini memicu kewaspadaan tinggi bagi otoritas Austria. Setelah diintersepsi, pesawat-pesawat Amerika tersebut segera diperintahkan keluar dari ruang udara kedaulatan dan kembali menuju pangkalan mereka di Munich, Jerman.

Aksi tegas ini merupakan bentuk nyata dari posisi konstitusional Austria sebagai negara netral permanen. Sebagai negara yang bukan anggota NATO, Austria memegang teguh kedaulatan wilayah udaranya tanpa pengecualian, termasuk terhadap negara sekutu Barat sekalipun.
Hal ini menjadi pembeda jelas dengan negara tetangganya, Swiss, yang melaporkan bahwa pada periode yang sama (9-12 Mei 2026), terdapat sembilan penerbangan militer AS yang melintas namun semuanya telah mengikuti prosedur izin diplomatik yang benar. Michael Bauer menegaskan bahwa pelanggaran prosedur oleh militer AS di langit Austria ini kini sedang ditangani dan diselesaikan melalui jalur diplomatik antar pemerintah.
Bagi publik pertahanan di Indonesia, drama pengejaran di langit Alpen ini membawa kenangan pada tahun 2020, saat Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto melayangkan tawaran resmi untuk mengakuisisi seluruh armada Eurofighter Typhoon Tranche 1 milik Austria. Saat itu, Prabowo bahkan terbang langsung ke Wina untuk bernegosiasi guna memperkuat skadron udara TNI AU secara instan.
Meski pada akhirnya kesepakatan tersebut batal dan Indonesia beralih ke jet tempur Rafale, fakta bahwa armada Typhoon Austria tetap menjadi instrumen vital dalam menjaga kedaulatan negara netral hingga berani mencegat armada operasi khusus AS, membuktikan bahwa jet tempur ini tetap memiliki peran strategis yang sangat tinggi. (Gilang Perdana)
Guncang Asia Selatan! Pakistan Dilaporkan Siap Borong 4 Skadron Jet Stealth Shenyang J-35


