ITS Garibaldi Bawa Peluncur Mk29, Mengapa Rudal Aspide Tak Lagi Relevan untuk KRI Gajah Mada?

Mk 29 octuple launcher (seaforce.otg)

Pengalihan kapal induk ringan ITS Garibaldi dari Angkatan Laut Italia (Marina Militare) menjadi KRI Gajah Mada menandai era baru dalam sejarah armada maritim TNI AL. Di tengah kekaguman atas hadirnya kapal markas berkapasitas dek raksasa ini, pengamat alutsista disuguhkan pemandangan menarik: wadah peluncur delapan sel Mk 29 octuple launcher masih menempel kokoh di atas geladak kapal.

Baca juga: KRI Gajah Mada Resmi Berlayar ke Indonesia: Bedah Biaya Modernisasi dan Tantangan Teknis Eks Kapal Induk Italia Garibaldi 

Kehadiran peluncur ikonik khas NATO tersebut memicu spekulasi mengenai nasib sistem pertahanan udara jarak pendek (point defense missile system) berbasis rudal Selenia Aspide yang diusungnya. Meskipun rudal Aspide masih dioperasikan oleh sejumlah negara di dunia, untuk konteks integrasi dan misi masa depan KRI Gajah Mada di TNI AL, sistem rudal ini sudah tidak lagi relevan.

Secara teknis, keberadaan peluncur Mk 29 pada ITS Garibaldi merupakan warisan dari sistem Albatros SAM System buatan Selenia (kini MBDA Italia). Meskipun rancangan fisik peluncur Mk 29 buatan Amerika Serikat pada awalnya diciptakan untuk menembakkan rudal RIM-7 Sea Sparrow, Angkatan Laut Italia memodifikasi antarmuka elektronik dan rel sel peluncurnya agar kompatibel dengan rudal buatan dalam negeri mereka, yaitu Selenia Aspide. Italia tidak pernah menyematkan Sea Sparrow pada Garibaldi, melainkan murni mengandalkan Aspide sebagai perisai pertahanan udara utama kapal induk tersebut sejak era Perang Dingin.

Rudal Aspide sendiri dikembangkan dari basis geometri Sparrow dengan mengadopsi pendorong roket bahan bakar padat yang lebih bertenaga serta pemandu radar semi-aktif (semi-active radar homing). Memiliki panjang 3,7 meter, diameter 0,2 meter, dan bobot peluncuran 220 kilogram, Aspide sanggup melesat hingga kecepatan Mach 2.5 dengan jangkauan tembak efektif 15 hingga 20 kilometer serta batas ketinggian sasaran 8.000 meter.

 

View this post on Instagram

 

Berbekal hulu ledak high-explosive fragmentation seberat 33 kilogram, Aspide pada era 1980-an hingga 1990-an terhitung ampuh untuk mencegat pesawat tempur maupun rudal jelajah sea-skimming yang datang mengancam kapal.

Alasan utama mengapa Aspide tidak lagi menjadi pilihan ideal untuk KRI Gajah Mada terletak pada terbatasnya rantai pasokan (supply chain) serta usangnya doktrin pemanduan radar semi-aktif di lingkungan maritim modern. Pihak pabrikan MBDA Italia telah lama menghentikan dukungan produksi untuk varian maritim sistem Albatros seiring migrasi armada Eropa ke sistem peluncuran vertikal (VLS) berbasis rudal Aster dan CAMM-ER.

Dilengkapi Rudal Aster 15, Kapal Induk Italia ITS Cavour Punya Proteksi Pertahanan Udara Setara Frigat

Selain itu, sistem pemandu Aspide mewajibkan radar illuminator di atas kapal untuk terus mengunci satu sasaran hingga rudal menghantam target—metode yang sangat berisiko saat menghadapi ancaman serangan jenuh (saturation attack) berupa gelombang rudal anti-kapal modern.

Saat ITS Garibaldi ditransfer ke Indonesia, sistem persenjataan Aspide telah berada dalam status demilitarized atau dipretensi total. Pihak Italia telah melepas amunisi aktif, radar pemandu tembak RTN-30X Dardo, serta mengunci modul penembakan rudal pada sistem manajemen tempur (Combat Management System) SADOC-3.

Otak Komando KRI Gajah Mada: Mengenal CMS SADOC Pada Kapal Induk Eks ITS Garibaldi

Sedangkan kehadiran fisik peluncur Mk 29 yang masih dibiarkan menempel murni disebabkan oleh pertimbangan efisiensi galangan. Pembongkaran peluncur berbobot 5,5 ton tersebut membutuhkan pengerjaan struktural yang rumit karena fondasinya tertambat pada pedestal yang menembus hingga ke kompartemen di bawah geladak untuk menyalurkan beban, kabel data, dan unit daya hidrolik.

Bagi TNI AL, berupaya mengadakan atau mengintegrasikan kembali rudal Aspide pada KRI Gajah Mada jelas bukan langkah operasional yang efisien. Keberadaan wadah Mk 29 di atas geladak KRI Gajah Mada kini sekadar menjadi landasan mekanis kosong.

Di masa depan, kompartemen peluncur tua tersebut berpeluang dibongkar total oleh PT PAL Indonesia saat menjalani pemeliharaan berkala, atau dialihfungsikan untuk mengintegrasikan sistem persenjataan peluncuran vertikal (VLS) modern yang selaras dengan doktrin pertahanan udara terpadu TNI AL. (Gilang Perdana)

Kapal Induk Italia eks ITS Giuseppe Garibaldi Bawa Teknologi Propulsi COGAG, Ini Plus Minusnya!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *