Dilema Jet Tempur Stealth Turki: Nasib Proyek KAAN jika Kembali ke Program F-35 Lightning II

Memasuki awal tahun 2026, peta kekuatan udara di kawasan Mediterania Timur berada di ambang perubahan drastis. Laporan diplomatik yang memuncak pada Januari 2026 menunjukkan niat serius Presiden Erdogan untuk mengaktifkan kembali kontrak F-35 Lightning II yang sempat dibekukan oleh Amerika Serikat.
Bagi Recep Tayyip Erdogan kembali ke program F-35 bukan sekadar soal menambah kekuatan udara, melainkan soal martabat politik dan integrasi teknologi dengan NATO yang sempat terputus. Namun, realitas ekonomi memunculkan pertanyaan besar, sanggupkah Turki membiayai dua program jet tempur generasi kelima sekaligus?
Secara finansial, menggarap dua program jet stealth (siluman) secara paralel adalah beban yang sangat berat, bahkan bagi negara dengan anggaran militer besar sekalipun. Proyek KAAN (sebelumnya TF-X) yang dikerjakan oleh Turkish Aerospace Industries (TAI) diperkirakan membutuhkan investasi lebih dari US$20 miliar untuk mencapai tahap produksi massal.
Di sisi lain, membeli kembali slot F-35—ditambah dengan biaya operasional dan logistiknya yang selangit—akan menguras cadangan devisa Turki yang saat ini tengah berjuang melawan inflasi.
https://www.indomiliter.com/terungkap-prototipe-kedua-jet-tempur-kaan-p1-lebih-kecil-ini-alasan-desain-stealth-turki-diubah/
Untuk itu, ada beberapa analisis mengenai nasib KAAN jika F-35 benar-benar mendarat kembali di pangkalan udara Turki:
1. KAAN Sebagai “Asuransi” Kedaulatan Teknologi.
Turki kemungkinan besar tidak akan membatalkan KAAN. Pengalaman pahit didepak dari program F-35 pada tahun 2019 mengajarkan Ankara bahwa ketergantungan penuh pada Washington adalah titik lemah strategis.
KAAN akan tetap dilanjutkan sebagai proyek jangka panjang untuk memastikan Turki memiliki kemandirian persenjataan (indigenous technology). Namun, jika F-35 tersedia, intensitas pengembangan KAAN mungkin akan melambat dan fokusnya bisa bergeser dari jet tempur superioritas udara murni menjadi platform uji coba teknologi atau jet pendukung.
https://www.indomiliter.com/kesepakatan-naik-level-indonesia-resmi-teken-kontrak-pembelian-jet-tempur-stealth-kaan/
2. Spesialisasi Peran (High-Low Mix) Secara taktis.
Turki bisa menerapkan strategi High-Low Mix. F-35, dengan kemampuan sensor dan konektivitas data-link miliknya, akan digunakan sebagai “penyerang siluman” untuk menembus pertahanan udara lawan.
Sementara KAAN, yang didesain dengan dua mesin (lebih besar dari F-35), dapat difokuskan pada peran superioritas udara jarak jauh (Air Dominance). Namun, skenario ini hanya mungkin terjadi jika ekonomi Turki mengalami pertumbuhan pesat yang mampu menopang biaya operasional keduanya.
3. Tantangan Lobi dan “Veto” Regional.
Keinginan Turki kembali ke F-35 tidak akan berjalan mulus. Selain tuntutan AS agar S-400 benar-benar keluar dari tanah Turki, lobi Israel juga menjadi tembok penghalang. Israel sangat berkepentingan menjaga Qualitative Military Edge (QME) di kawasan. Jika Turki—yang sering berseberangan dengan Israel dalam isu Palestina—memiliki armada F-35 dalam jumlah besar, maka dominasi udara Israel di Mediterania Timur akan terancam.
AS Rayu Turki Kirim S-400 ke Ukraina dengan ‘Imbalan’ Bergabung Kembali di Program F-35 Lightning II
Tekanan dari Tel Aviv kepada Kongres AS bisa saja mempersulit syarat kembalinya Turki, atau setidaknya membatasi kemampuan perangkat lunak (software) F-35 yang diberikan ke Ankara.
Seperti dikutip Bloomberg, ada usulan teknis di mana Turki tidak perlu membuang S-400 secara fisik, melainkan menempatkannya di bawah kontrol AS atau NATO di dalam wilayah Turki (tepatnya di Pangkalan Udara Incirlik) agar Turki bisa mendapatkan kembali akses ke F-35.
https://www.indomiliter.com/media-turki-sebut-rusia-ingin-membeli-kembali-sistem-rudal-hanud-s-400-triumph/
4. Realitas Pengadaan.
Jika harus memilih berdasarkan realitas anggaran, Turki kemungkinan akan memprioritaskan F-35 untuk kebutuhan segera karena pesawat tersebut sudah siap tempur (combat proven). KAAN masih membutuhkan waktu satu dekade lagi untuk mencapai kesiapan operasional penuh (FOC).
Ada risiko besar bahwa KAAN akan menjadi proyek yang terus-menerus kekurangan dana jika anggaran militer tersedot untuk membayar kontrak F-35 dan pemeliharaan armada jet tempur lain yang juga baru saja mereka pesan.
Turki saat ini sedang memainkan permainan catur tingkat tinggi. Dorongan untuk kembali ke F-35 adalah solusi jangka pendek untuk menyaingi armada Rafale dan F-35 milik Yunani. Namun, KAAN adalah simbol dari visi “Century of Turkiye”. Jika Ankara gagal menyeimbangkan keduanya, mereka berisiko kehilangan kemajuan teknologi domestik demi sebuah jet tempur yang kuncinya dipegang oleh pihak asing. (Gilang Perdana)
https://www.indomiliter.com/spanyol-lirik-kaan-lagi-lagi-terganjal-isu-mesin-buatan-as/



Besar kemungkinan KAAN bakal di pending atau anggarannya bakal di sunat demi F-35, melihat pergerakan Korea dan Indonesia yang berdenyut lagi untuk masalah KFX
Ah, ngapain juga mau beli KAAN. Mosok mau beli pesawat yang mesinnya saja belum ada.
“Ada risiko besar bahwa KAAN akan menjadi proyek yang terus-menerus kekurangan dana jika anggaran militer tersedot untuk membayar kontrak F-35 dan pemeliharaan armada jet tempur lain yang juga baru saja mereka pesan.”
Demi mesin dan kemandirian mesin nasional sampai segininya ya, daripada kembali ke F-35 sebaiknya minta balikin semua aset-aset pada program JSF yang masih tertahan plus ganti kerugian berbagai vendor Turkiye yang terlibat kala itu, lalu fokus dananya tetap untuk proyek KAAN saja (juga pemeliharaan bagi jet tempur baru yang dibeli) agar tak terkuras habis hanya untuk memaksakan si petir dengan kemampuan standar (di bawah F-35I Adir) walau memakan waktu yang tak sebentar. Gimana soal urusan mesin? Pikirin sendiri dan cari solusinya 🤔😁