Bak Bakar Uang! AS Kuras 70 Rudal Patriot dan THAAD dalam Semalam Demi Tangkis 20 Rudal Balistik Iran

Hujan amunisi pertahanan udara melintasi langit Yordania pada minggu kedua September 2026, ketika militer Amerika Serikat (AS) merilis gelombang tembakan rudal interceptor skala besar demi mengamankan Pangkalan Udara Muwaffaq Salti.
Serangan yang dilancarkan Iran dengan mengerahkan sekitar 20 rudal balistik ini memicu salah satu operasi penangkisan udara paling intensif sekaligus menguras kantong dalam sejarah konflik Timur Tengah modern.
Dalam kurun waktu satu malam saja, pasukan AS dipaksa menguras persediaan rudal interceptor tingkat tinggi—termasuk 60 hingga 70 unit rudal Patriot dan lebih dari selusin amunisi THAAD (Terminal High Altitude Area Defense)—sebuah jumlah pemakaian fantastis yang biasanya dialokasikan untuk tempo operasi pertempuran selama satu minggu penuh.
Secara kalkulasi finansial, peristiwa ini menyingkap ketimpangan ekonomi yang sangat kontradiktif dalam pertempuran modern. Satu unit amunisi pencegat Patriot MIM-104 diperkirakan menelan biaya sekitar US$4 juta, sementara satu rudal pencegat THAAD dapat menembus harga US$12,6 juta per unitnya.
US forces fired roughly 60-70 Patriot and more than 12 THAAD interceptors during Iran’s missile attack on Jordan last week -US officials to the WSJ
Iran’s salvo included roughly 20 ballistic missiles. pic.twitter.com/qsHwiXkc64
— OSINTtechnical (@Osinttechnical) September 16, 2026
Artinya, untuk menangkal gempuran rudal balistik Iran malam itu, Pentagon harus mengorbankan alokasi anggaran bernilai triliunan rupiah hanya dalam kurun beberapa jam. Ketidakseimbangan biaya ini menempatkan pihak bertahan pada posisi yang sangat tidak menguntungkan secara matematis, mengingat biaya memproduksi atau membeli rudal balistik relatif jauh lebih murah dibandingkan harga unit rudal pencegat canggih yang digunakan untuk merontokkannya.
Situasi kian kritis lantaran skenario pengeluaran biaya raksasa tersebut tidak sepenuhnya menjamin ruang udara steril dari kerusakan. Meski mayoritas rudal Iran berhasil dicegat di udara, taktik Iran yang terus berkembang—dengan mengusung hulu ledak komposit kompleks yang mampu melepaskan submunition atau proyeksil ganda menjelang sasaran—terbukti sanggup menembus barikade pertahanan udara termahal milik AS.
Beberapa tembakan rudal musuh dilaporkan tetap lolos dan menghantam sejumlah jet tempur yang terparkir di pangkalan, termasuk jet serang A-10 Thunderbolt II dan pesawat tempur F-15E.
Meskipun pejabat Pentagon berulang kali membantah klaim bahwa cadangan amunisi mereka mulai terkuras habis, laporan internal Inspektorat Jenderal Kementerian Pertahanan AS justru menunjukkan realita berbeda. Laporan tersebut menyoroti munculnya defisit inventaris strategis dan hambatan manufaktur (industrial-base bottlenecks) dalam memasok kembali alutsista presisi tinggi tersebut.
Penggunaan agresif yang telah mencatatkan akumulasi pelepasan ribuan Patriot, ratusan THAAD, serta ratusan rudal Standard Missile armada angkatan laut di kawasan tersebut menegaskan bahwa strategi penangkisan berbasis biaya tinggi ini tidak akan berkelanjutan (not sustainable) dalam menghadapi perang konsumtif jangka panjang. (Bayu Pamungkas)


