Saat Silicon Valley Kejar AI Raksasa, Pentagon Justru Berburu Komputer ‘Primitif’ yang Bisa Berpikir Tanpa Daya

Di tengah perlombaan raksasa teknologi dunia membangun pusat data kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang haus listrik hingga skala gigawatt, Pentagon justru mengambil langkah ekstrem yang sepenuhnya berlawanan. Badan riset pertahanan Amerika Serikat, DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), resmi merilis dokumen Request for Information (RFI) bertajuk Low Resource Computing untuk berburu konsep komputasi radikal.
Proyek ambisius ini bertujuan menciptakan sistem mikroelektronika militer generasi baru yang mampu berpikir dalam kondisi gelap gulita, beroperasi dengan konsumsi daya hampir nol, dan tetap bekerja optimal meskipun komponen perangkat kerasnya hancur atau mengalami degradasi fungsi di medan perang. DARPA membuka peluang bagi para peneliti, universitas, dan penemu individu untuk menyetorkan proposal ide paling lambat hingga 17 Juli 2026, yang nantinya akan ditindaklanjuti dalam sebuah lokakarya tertutup di Hanover, New Hampshire, pada Agustus mendatang.
Langkah berani ini dipicu oleh kesenjangan teknologi yang semakin melebar antara kebutuhan taktis di garis depan dan arah industri komersial saat ini. Perang modern menuntut kemampuan pemrosesan data yang tinggi langsung di tactical edge—seperti pada rompi prajurit, hulu ledak rudal, drone otonom, dan kendaraan tempur—yang beroperasi di wilayah terpencil tanpa pasokan listrik stabil, tanpa koneksi satelit yang andal, serta mustahil mengoperasikan komputasi awan.
DARPA memberikan perbandingan historis yang menohok; komputer legendaris ENIAC pada tahun 1945 membutuhkan daya 150 kilowatt dengan bobot 30 ton hanya untuk memproses hitungan kilobyte, sementara hari ini chip kartu seharga recehan yang ditenagai baterai koin kecil mampu melampaui performa tersebut dengan fraksi miliwatt saja. Namun, industri komersial dianggap belum pernah mengeksplorasi secara sengaja seberapa jauh efisiensi ekstrem ini bisa didorong untuk kebutuhan militer jika dilepaskan dari standar rekayasa konvensional.
TACA Center: ‘Otak Strategis’ Komando Operasi TNI AD yang Terintegrasi dari Kotama hingga Mabesad
Oleh karena itu, DARPA secara tegas menolak pembaruan yang sifatnya tanggung atau sekadar penurunan standar ukuran dan berat (SWaP) yang moderat, melainkan menuntut konsep disruptif yang dibagi ke dalam tantangan fisik dan logis. Pada aspek fisik, Pentagon mencari komputer berskala daya nanowatt yang mampu memanen energi mandiri dari lingkungan sekitar, beroperasi hanya dengan memori hitungan byte, serta tetap andal di tengah derau elektro-magnetik tinggi.
Lebih provokatif lagi, DARPA tertarik pada metode ekstraksi komputasi dari ekosistem teknologi primitif dan proses manufaktur warisan (legacy), seperti memanfaatkan mekanik pemutar CD, array antena biologis, hingga teknik origami pada sirkuit guna memutus ketergantungan AS pada rantai pasok semikonduktor canggih luar negeri. (Gilamg Perdana)
Thales Upgrade Pod Penargetan TALIOS dengan Kecerdasan Buatan, Bikin Rafale Makin Canggih


