Pascakonflik Perbatasan: Kamboja Terima Batch Perdana MBT ‘Oldskul’ T-59D Besutan Cina

Komposisi kekuatan lapis baja Angkatan Darat Kamboja dipastikan bakal semakin menebal. Berdasarkan laporan media lokal The Phnom Penh Post serta rekaman video yang beredar luas di berbagai platform media sosial, Kamboja dilaporkan telah menerima pengiriman batch pertama tank tempur utama (Main Battle Tank/MBT) T-59D dari Cina.
Baca juga: Kapal Perang Cina Mulai Berlabuh di Pangkalan Angkatan Laut Kamboja ‘Yang Didanai Beijing
Pengiriman alutsista pemukul darat ini merupakan realisasi dari kontrak pembelian yang ditandatangani sebelum pecahnya konflik perbatasan intensitas rendah antara Kamboja dan Thailand pada tahun 2025 lalu.
Kementerian Pertahanan Thailand, melalui jaringan media pemerintahnya, turut mengonfirmasi pergerakan taktis ini dengan menyebutkan bahwa sebanyak 39 unit T-59D dari total 93 unit yang dipesan telah mendarat dengan aman di Kamboja. Menariknya, laporan internal dari pihak militer Kamboja sendiri mengindikasikan bahwa jumlah total pengadaan ini nantinya bisa membengkak hingga melebihi 100 unit tank secara bertahap. Seluruh armada yang datang ini merupakan versi rekondisi (refurbished) dan modernisasi masif dari platform legendaris T-59 besutan Norinco, Cina, guna mendongkrak taji detasemen kavaleri Kamboja.
Jejak genetika dari T-59 (Type 59) sejatinya tidak bisa dilepaskan dari era Perang Dingin, di mana desain dasarnya diderivasi langsung dari tank medium legendaris Uni Soviet, T-54/T-55, yang dikembangkan pada akhir dekade 1940-an. Cina kemudian memproduksi massal versi lisensinya sejak dekade 1950-an melalui pabrikan Norinco untuk memenuhi kebutuhan domestik dan pasar ekspor.
Cambodia has received an initial batch of 100 T‑59D main battle tanks (MBTs) from China.Cambodian media, including The Phnom Penh Post, confirmed the delivery, reporting on 11 June that the tanks were ordered before the 2025 conflict with Thailand. pic.twitter.com/u6NEhMsLAX
— Valhalla (@ELMObrokenWings) June 12, 2026
Meskipun fondasi luarnya merupakan arsitektur tank tua generasi pertama, varian T-59D (Type 59D) merupakan hasil modifikasi modern yang dirancang khusus untuk memperpanjang usia operasional (service life) tank dengan menyuntikkan teknologi modern pada aspek daya pukul, sistem optik, dan proteksi zirah.
Keunggulan utama dari varian T-59D ini terletak pada perombakan senjata utamanya, di mana meriam ulir (rifled gun) orisinal berkaliber 100 mm dilepas dan digantikan oleh meriam Type 83A kaliber 105 mm standar NATO yang sanggup menembakkan amunisi APFSDS untuk menembus zirah berat lawan.
It would seem that 3 pictures have surfaced on Facebook, where it is said by Thai sources, that their Chinese sources have published pictures of what are supposed to be the Type 59D main battle tanks that China has exported to Cambodia.
These images must be taken with… pic.twitter.com/frTcg303jT
— T-55AM1 (@T_55AM1_) June 10, 2026
Below is footage showing 15 tanks arriving in Cambodia, via the port city of Sihanoukville on the 6th of June 2026 (06/06/26).
Initially, they were believed to be basic Type 59 MBTs.
— T-55AM1 (@T_55AM1_) June 9, 2026
Kemampuan ofensif ini dipadukan dengan Fire Control System (FCS) berbasis komputer digital, lengkap dengan pengukur jarak laser serta alat bidik malam dan sensor pencitraan termal (thermal imaging) untuk bertempur dalam kondisi gelap gulita. Dari sektor pertahanan, tubuh dan kubah (turret) T-59D telah ditempeli oleh kotak-kotak zirah reaktif ERA (Explosive Reactive Armour) untuk menepis hantaman rudal anti-tank dan roket RPG, serta dilengkapi sistem pemadam kebakaran otomatis di dalam kompartemen kru.
Sebagai salah satu tank yang paling banyak diproduksi di dunia, keluarga besar Type 59/T-59 telah diekspor oleh Cina ke berbagai belahan dunia, khususnya negara-negara berkembang yang membutuhkan kendaraan tempur andal berbiaya operasional rendah.
Pengguna utama dari tank ini—baik versi standar maupun varian modernisasi seperti varian ‘D’—meliputi Pakistan yang memodifikasinya menjadi varian Al-Zarrar, Bangladesh, Myanmar, Korea Utara, Iran, Sudan, serta beberapa negara di kawasan Afrika seperti Tanzania dan Zambia. Hadirnya T-59D di Kamboja menambah panjang daftar negara Asia Tenggara yang mempercayakan lini kavaleri mereka pada platform legendaris ini.
Berusia 60 Tahun, MBT T-54/T-55 ‘Turun Gunung’ di Perang Ukraina, Inilah Plus Minusnya
Keputusan Kamboja untuk mendatangkan T-59D rekondisi, dan bukan MBT modern generasi ketiga seperti VT-4, didasari oleh pertimbangan strategis, anggaran, dan kondisi geografis lokal yang sangat pragmatis. Dengan memilih T-59D, Kamboja bisa mendapatkan kuantitas MBT yang masif dalam waktu singkat dengan harga yang jauh lebih murah, sekaligus memudahkan logistik karena kru mereka sudah akrab dengan karakteristik kendaraan tempur silsilah Soviet.
Selain itu, bobot T-59D yang berkisar di angka 37 ton dinilai sangat ideal untuk bermanuver di infrastruktur jembatan serta medan basah atau berawa khas Asia Tenggara jika dibandingkan dengan tank modern Barat yang beratnya bisa menembus 60 ton. Langkah pengadaan ini menjadi jawaban instan bagi Phnom Penh untuk memperkuat efek gentar (deterrence effect) di lini perbatasan pascakonflik tahun lalu. (Gilang Perdana)
Angkatan Darat Thailand Terima 12 Unit MBT Norinco VT4 dari Cina


