Belajar dari Perang Ukraina, Jerman Bangun “Starlink” Versi Militer Lewat Ambisi 1.200 Satelit

Angkatan Bersenjata Jerman (Bundeswehr) bersiap menjadi salah satu pemilik jaringan satelit terbesar di planet ini, tepat di bawah posisi Starlink milik Elon Musk. Berlin menargetkan peluncuran hingga 1.200 satelit ke orbit rendah bumi (Low Earth Orbit/LEO) pada tahun 2030.

Baca juga: Bukan Matikan Total, EW Volna Kupol Garant Rusia Punya Teknik “Bikin Pingsan” Satelit Starlink Secara Spesifik!

Strategi masif ini didasari oleh keyakinan baru bahwa mandala perang masa depan akan dimenangkan atau kalah berdasarkan siapa yang menguasai dan mengendalikan ruang komunikasi serta pengintaian dari luar angkasa.

Keputusan mendadak Jerman untuk membangun megakonstelasi mandiri ini tidak lepas dari pelajaran berharga yang dipetik dari perang di Ukraina. Sistem satelit internet komersial Starlink milik SpaceX telah terbukti menjadi tulang punggung komunikasi paling krusial bagi pasukan Ukraina dalam mengoordinasikan serangan drone dan berbagi intelijen medan tempur.

Namun, ketergantungan Ukraina pada pihak swasta asing terbukti rentan ketika akses jaringan dibatasi pada saat-saat kritis pertempuran. Guna menghindari kerentanan serupa, Jerman merancang proyek SATCOMBw Stufe 4, sebuah jaringan komunikasi satelit domestik terenkripsi yang dibangun khusus untuk menghubungkan tank, kapal perang, pesawat tempur, dan infanteri di mana pun di seluruh belahan dunia tanpa bergantung pada infrastruktur atau kebaikan hati negara lain.

Secara teknis, cetak biru ruang angkasa Jerman ini dibagi menjadi dua pilar utama. Pilar pertama adalah SATCOMBw Stufe 4 yang membutuhkan sekitar 200 satelit komunikasi. Proyek ini menggeser doktrin lama pertahanan Jerman yang sebelumnya bersandar pada sistem SATCOMBw Stufe 3—yang hanya mengandalkan dua satelit geostasioner raksasa di ketinggian 36.000 km hasil garapan Airbus senilai 2,4 miliar dolar AS pada tahun 2024.

Dengan beralih ke konstelasi LEO pada ketinggian beberapa ratus hingga 1.200 km, Bundeswehr akan mendapatkan keunggulan latensi yang jauh lebih rendah dan cakupan global yang lebih rapat. Guna memperebutkan kontrak raksasa ini, tiga raksasa industri pertahanan Eropa—Airbus Defence and Space, OHB, dan Rheinmetall (produsen tank ternama yang kini merambah sektor antariksa)—telah membentuk konsorsium bersama untuk menawarkan solusi end-to-end mulai dari pengembangan satelit hingga keamanan siber.

Rivalitas di Luar Angkasa: Satelit Cina Paksa 4.400 Satelit Starlink Turun Ketinggian

Pilar kedua, yang jauh lebih masif dari segi jumlah, adalah proyek pengintaian SPOCK 2 (Spacesystem for Persistent Operational Tracking). Sistem ini memproyeksikan peluncuran hingga 1.000 satelit intai yang dilengkapi teknologi radar canggih serta kamera berspesialisasi tinggi. SPOCK 2 merupakan kelanjutan dari proyek SPOCK 1 senilai 1,94 miliar dolar AS yang dikembangkan Rheinmetall bersama operator satelit Finlandia, Iceye. Kehadiran seribu satelit intai LEO ini dirancang untuk memberikan gambaran waktu nyata (near real-time) yang persisten kepada komandan militer Jerman mengenai pergerakan pasukan musuh, formasi tank, dan target militer di belahan bumi mana pun. Skala masif ini dinilai sangat realistis karena pelacakan target dinamis di era modern membutuhkan kehadiran konstelasi satelit yang konstan di atas ruang udara sasaran.

Konsekuensi dari ambisi ruang angkasa ini tentu membutuhkan biaya yang sangat fantastis. Kementerian Pertahanan Jerman dilaporkan telah mengalokasikan anggaran sedikitnya 40 miliar dolar AS untuk kapabilitas militer ruang angkasanya. Selain modal awal, Jerman juga harus bersiap menghadapi biaya operasional tahunan yang diperkirakan mencapai 1,14 miliar dolar AS setelah konstelasi ini aktif sepenuhnya.

Biaya berkala yang tinggi ini dipicu oleh karakteristik satelit LEO yang memiliki usia operasional pendek, sehingga menuntut Bundeswehr untuk melakukan peluncuran satelit pengganti secara rutin setiap pekannya demi menjaga keutuhan jaringan dari satelit-satelit tua yang deorbit dan terbakar di atmosfer. Kontrak final SATCOMBw Stufe 4 sendiri ditargetkan meluncur pada pergantian tahun 2027, dengan kemampuan operasional awal 40 satelit pada 2029 sebelum mencapai status operasional penuh pada awal dekade berikutnya. (Gilang Perdana)

Tandingi Dominasi Starlink, Cina Siap Kirim 13.000 Satelit ke Orbit Rendah Bumi

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *