Akhiri Dekade Defensif, Jerman Borong Rudal Jelajah Tomahawk dari AS untuk Ditempatkan di Dalam Negeri

Dalam pergeseran strategi militer Eropa paling masif selama beberapa dekade terakhir, Jerman secara resmi telah mencapai kesepakatan mercusuar dengan Amerika Serikat untuk membeli dan menempatkan rudal jelajah jarak jauh legendaris, Tomahawk, di wilayah domestiknya.
Baca juga: Angkatan Darat AS Gunakan Rudal Jelajah Tomahawk untuk Serangan Presisi Jarak Jauh
Kesepakatan yang dicapai di sela-sela KTT NATO di Ankara ini membekali Berlin dengan kapabilitas serangan dalam berbasis darat (ground-launched deep-strike capability) pertamanya. Langkah berani ini diambil guna menutup celah strategis (strategic gap) pertahanan udara Eropa Barat yang terekspos nyata pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Melalui pengumuman resmi yang disampaikan oleh Kanselir Jerman, Friedrich Merz, kesepakatan ini tidak hanya mencakup pembelian rudal subsonik Tomahawk, melainkan juga paket sistem peluncur berbasis darat, Typhon (Typhon launchers). Kehadiran sistem Typhon darat ini secara radikal mengubah konseptualisasi pertahanan di Benua Biru. Pasalnya, saat ini Eropa tidak memiliki kapabilitas serangan dalam berbasis darat yang setara. Inggris memang mengoperasikan Tomahawk, namun terbatas ditembakkan dari kapal selam, sementara Perancis memiliki rudal jelajah laut sendiri dan baru mulai merintis pengembangan varian berbasis darat mereka.
Rudal Tomahawk yang diboyong Jerman dikenal memiliki daya jangkau operasional ekstrem melampaui 1.600 kilometer. Jarak sejauh ini memungkinkan Angkatan Bersenjata Jerman (Bundeswehr) untuk menghantam target-target militer bernilai tinggi jauh di dalam teritori musuh dengan tingkat akurasi yang luar biasa tinggi.
BREAKING:
Merz announces that the U.S. has agreed to sell Tomahawk long-range cruise missile to Germany.
They will come with Typhon launchers, making the systems ground-based. Europe currently has no such capabilities. The UK has Tomahawks it can fire from submarines and France… pic.twitter.com/iCvr7JTUNj
— Visegrád 24 (@visegrad24) July 9, 2026
Selama beberapa dasawarsa sejak berakhirnya Perang Dingin, doktrin militer Jerman selalu berpusat pada pertahanan pasif. Melalui akuisisi Tomahawk ini, Berlin secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk memiliki elemen penangkal serangan jarak jauh (long-range strike capability) demi memperkuat deteren kolektif NATO.
Negosiasi pengadaan ini sendiri sejatinya mengalami evolusi yang dinamis. Rencana awal penempatan rudal jarak jauh ini semula digagas di bawah pemerintahan Joe Biden sebagai penempatan aset milik AS, namun skema tersebut bergeser di bawah kepemimpinan Donald Trump menjadi skema pembelian langsung oleh Jerman di tengah keterbatasan pasokan global.
Sembari menanti kedatangan armada Tomahawk ini, Jerman juga dilaporkan terus mematangkan proyek rudal jarak jauh mandiri Eropa Barat, seperti program ELSA (European Long-Range Strike Approach), yang ditargetkan siap beroperasi pada dekade 2030-an.
Langkah taktis Berlin ini menuai pujian luas dari para pakar dan pengamat militer NATO yang menyebutnya sebagai kemajuan konkret yang memperkuat arsitektur keamanan Eropa. Sebaliknya, Moskow mengecam keras keputusan ini dan menudingnya sebagai bentuk militerisme agresif yang sengaja memanaskan situasi perbatasan.
Krisis Tomahawk AS Jadi Berkah, MBDA Tawarkan Rudal Jelajah 1.400 Km ke Eropa
Kendati memicu reaksi keras dari Rusia, Jerman bergeming dan menegaskan bahwa integrasi rudal legendaris Amerika Serikat ke dalam sistem pertahanan darat mereka merupakan bagian dari komitmen Jerman untuk meningkatkan belanja pertahanan nasional sekaligus mempercepat perimbangan kekuatan militer di kawasan Eropa. (Gilang Perdana)
Cina Ketar Ketir! AS Sukses Uji Rudal Tomahawk Perdana di Filipina, Jangkau Target Sejauh 630 KM


