Krisis Tomahawk AS Jadi Berkah, MBDA Tawarkan Rudal Jelajah 1.400 Km ke Eropa

Ketergantungan masif negara-negara Eropa terhadap payung keamanan geopolitik Amerika Serikat kini berada di titik nadir, memicu apa yang disebut sebagai “krisis eksistensial” di kalangan ibu kota Benua Biru. Raksasa manufaktur rudal lintas-negara, MBDA, bergerak cepat memanfaatkan celah emas yang terbuka akibat kelangkaan operasional rudal jelajah strategis BGM-109 Tomahawk milik AS.

Baca juga: Cina Ketar Ketir! AS Sukses Uji Rudal Tomahawk Perdana di Filipina, Jangkau Target Sejauh 630 KM

Laporan eksklusif yang dihimpun dari media Perancis, Les Echos, mengungkapkan bahwa MBDA tengah berada dalam negosiasi intensif dengan beberapa pemerintah negara Eropa untuk mengeksportasi sistem rudal jelajah jarak jauh (deep strike) berkemampuan jangkauan hantam hingga 1.400 kilometer.

Menariknya, sistem rudal murni buatan Eropa dengan spesifikasi sejauh ini hanya diproduksi secara tunggal oleh Perancis—kemungkinan besar merujuk pada varian Missile de Croisière Naval (MdCN) yang biasa diluncurkan dari kapal perang permukaan dan kapal selam.

Peta permainan pengadaan senjata global ini berubah drastis setelah Amerika Serikat terseret ke dalam perang Teluk ketiganya dan terlibat konfrontasi sengit dengan Iran. Intensitas pertempuran yang teramat tinggi memaksa militer AS menguras isi gudang senjata mereka secara ekstrem, di mana lebih dari 1.000 rudal Tomahawk telah ditembakkan dalam waktu singkat.

Angka fantastis tersebut merepresentasikan sepertiga dari total keseluruhan stok cadangan strategis Pentagon saat ini. Akibat menyusutnya cadangan nasional tersebut, Washington terpaksa menahan atau menunda pengiriman pesanan rudal Tomahawk ke sekutu dekatnya, termasuk krisis pengiriman yang kini menimpa Berlin (Jerman). Situasi ini diperparah oleh kepemimpinan Presiden Donald Trump yang kerap bersitegang dengan para pemimpin Eropa, sebuah kondisi yang tanpa sengaja justru membuka jalan lebar bagi industri pertahanan domestik di “Benua Tua” untuk lepas dari bayang-bayang AS.

Kekhawatiran mendalam mengenai kapasitas industri pertahanan Amerika Serikat dalam memenuhi kebutuhan para sekutunya setelah memprioritaskan kebutuhan dalam negeri mereka sendiri dikonfirmasi langsung oleh petinggi MBDA. Paul Houot, selaku Head of Long-Range Strike Business Development di MBDA, menegaskan kepada Les Echos bahwa negara-negara Eropa kini mulai mempertanyakan ketersediaan stok rudal jarak jauh dari mitra transatlantik mereka dan secara aktif mencari alternatif mandiri.

MBDA pun memanfaatkan momentum ini untuk menawarkan opsi rudal serangan dalam (deep strike) 1.400 km yang terbebas dari aturan birokrasi ekspor Washington. Bagi negara-negara Eropa yang terbiasa membeli keamanan secara instan dari seberang Atlantik, krisis Tomahawk ini menjadi tamparan keras sekaligus katalis penting bagi perwujudan otonomi strategis pertahanan Eropa yang lebih mandiri dan tidak mendikte oleh dinamika politik internal Gedung Putih. (Bayu Pamungkas)

Game Changer: Cina Kembangkan Rudal Jelajah Stealth Kompak, ‘Pas’ di Dalam Perut J-20 dan J-35 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *