Tangkis Serangan Drone Murah, Kapal Induk Nuklir Perancis Charles de Gaulle Uji Coba Senjata Laser

Sebagai aset militer berharga tinggi dan alutsista strategis utama, kapal induk tak pelak selalu menjadi ‘magnet’ utama bagi berbagai jenis amunisi lawan. Menghadapi ancaman perang asimetris modern yang kian didominasi oleh penggunaan drone pengintai maupun drone kamikaze berbiaya murah, Angkatan Laut Perancis (Marine Nationale) kini mengupayakan inovasi pertahanan udara berbasis energi terarah (directed-energy weapon).

Baca juga: Charles de Gaulle: Kapal Induk Nuklir Lambang Superioritas Perancis di Samudera

Langkah pionir ini berpotensi menjadikan kapal induk nuklir Charles de Gaulle sebagai salah satu kapal induk pertama di dunia yang mengadopsi sistem proteksi senjata laser untuk melindungi dek penerbangannya dari ancaman armada drone.

Uji coba sistem senjata laser ini berlangsung dalam rangkaian penggelaran operasi La Fayette 26 pada kurun 4 hingga 8 Juni 2026 saat Charles de Gaulle bersandar di pelabuhan. Eksperimen ini diungkapkan secara resmi dalam majalah militer Cols Bleus edisi Oktober 2026, yang melibatkan personel dari Centre d’expertise aérienne militaire (CEAM) Mont-de-Marsan dan Escadron de défense sol-air (EDSA) dari Pangkalan Udara Istres.

Meskipun identitas resminya belum dikonfirmasi secara mutlak oleh otoritas militer, sistem yang terpasang di dek penerbangan kapal induk tersebut mirip dengan demonstrator HELMA-P (High Energy Laser for Multiple Applications – Power) buatan perusahaan pertahanan CILAS. Sistem ini sebelumnya dikenal memiliki daya output berkisar 2 kW dengan jarak jangkau penumpasan drone hingga 1.000 meter.

Pengoperasian senjata laser di lingkungan maritim menyajikan tantangan teknis yang sangat kompleks dibandingkan di daratan. Kepala kubah (turret) laser harus mampu mempertahankan pancaran energi secara presisi pada target yang bergerak cepat di udara, sembari mengompensasi goyangan kapal akibat gelombang laut, tingginya kelembapan, percikan air laut (sea spray), hingga turbulensi atmosfer.

Paket peralatan yang dipasang pada Charles de Gaulle mencakup kubah pengarah laser, kamera elektro-optik, sensor LIDAR (Light Detection and Ranging) untuk pelacakan jarak akurat, unit pendingin, serta stasiun kendali operator. Pengujian ini fokus meneliti ketahanan sistem terhadap guncangan transportasi udara, proses pemindahan dengan kran kapal, serta kinerja operasional dalam kondisi iklim maritim yang ekstrem.

HELMA-P: Senjata Laser Anti Drone untuk Amankan Olimpiade Paris 2024

Dalam doktrin pertahanan armada Perancis, integrasi senjata laser tidak diplot untuk menggantikan peran rudal pertahanan udara jarak menengah Aster 15/30 atau sistem kanon jarak dekat (CIWS) yang telah ada. Keunggulan utama senjata laser terletak pada biaya operasionalnya yang sangat ekonomis dan pasokan amunisi yang tak terbatas selama daya listrik serta sistem pendingin kapal tersedia.

Rafael Advanced Israel Luncurkan Naval Iron Dome – Sistem Hanud Berbasis Laser untuk Kapal Perang Permukaan

Hal ini menjadi solusi berimbang (cost-effective) untuk menumpas ancaman swarm drone murah tanpa perlu menguras stok rudal pencegat bernilai jutaan dolar yang diprioritaskan untuk menghadapi rudal jelajah atau jet tempur lawan.

Pengalaman pengujian di Charles de Gaulle ini sekaligus menjadi pijakan krusial bagi pengembangan kapal induk nuklir generasi masa depan Perancis (PA-Ng) yang dijadwalkan beroperasi pada akhir dekade 2030-an. (Gilang Perdana)

Resmi! Macron Umumkan Produksi Kapal Induk PA-Ng Perancis, Pengganti ‘Charles de Gaulle’

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *