Yang namanya sedang berbunyi, maka beragam persenjataan wajar digunakan untuk menungtaskan misi yang diemban. Seperti dalam laga Perang Ukraina, Rusia diwartakan juga telah mengerahkan senjata berupa drone kamikaze (loitering munition) ke suatu sasaran di kota Kiev. Dari hasil identifikasi pada foto, kuat dugaan bahwa drone kamikaze yang digunakan Rusia adalah KUB-UAV buatan Zala Aero, anak perusahaan Kalashnikov Group. (more…)
Mendapat tekanan dan sanksi berat dari beberapa negara, menjadikan setiap langkah yang diambil militer Rusia harus dihitung secara cermat, pasalnya Rusia punya aset militer yang besar dan strategis di beberapa wilayah, yang notabene mampu membuat ‘sesuatu’ yang signifikan pada lawan-lawannya bila Vladimir Putin memerintahkan. (more…)
Rusia telah mengerahkan arsenal kekuatan daratnya secara maksimal dalam operasi militernya di Ukraina. Lantaran bermain total, maka seabreg alutsista mulai dari yang lekat ditelinga sampai yang asing didengar, telah dimunculkan dalam meladeni peperangan merebut kota-kota penting di Ukraina. (more…)
Meski tak lagi menjadi kekuatan udara nomer satu di kawasan Asia Tenggara, TNI AU untuk urusan pengalaman tempur, khususnya yang menyangkut bantuan tembakan udara adalah kekuatan yang amat diperhitungkan. Walau toh hingga kini masih mengandalkan dumb bomb, dalam catatan TNI AU punya pengalaman dalam menggunakan bom cluster (bom tandan), atau ada yang menyebut sebagai bom curah. Karena punya daya rusak yang besar, bahkan tak jarang menimbulkan collateral damage, penggunaan bom cluster telah dilarang dalam hukum Humaniter Internasional. (more…)
Dari segi update teknologi, boleh jadi torpedo ini sudah agak ketinggalan saat ini. Tapi harus diakui bahwa torpedo SUT (Surface and Underwater Target) 533 mm yang pernah diproduksi PT Dirgantara Indonesia (d/h PT IPTN) adalah pencapaian penting dalam ranah perkembangan alutsista di dalam negeri. Pasalnya kali itulah, Indonesia mampu memproduksi torpedo secara lisensi dari AEG (Allgemeine Elektrizitäts-Gesellschaft), Telefunken, Jerman. Ini tak lain buah dari kebijakan strategis untuk menangani aspek peperangan bawah laut.
Dengan latar kerinduan menggebu pada kejayaan militer Indonesia di dekade 60-an, di mana saat itu Indonesia tak terbantahkan menyandang sebagai negara dengan militer terkuat di belahan Asia Selatan, membuat banyak kalangan di Tanah Air bekalangan eforia pada peralatan militer buatan Eropa Timur, khususnya asal Rusia. Segala yang ‘berbau’ Rusia begitu diagungkan. Tidak ada yang keliru dengan perspektif tersebut, pasalnya memang banyak produk alutsista besutan Rusia yang memang mumpuni, bandel dan mampu memberi efek getar. (more…)
Su-35 paling di favoritkan oleh masyarakat sebagai pengganti F-5E/F TNI AU.
Gara-gara sering disebut pelit untuk urusan ToT (transfer of technology), membuat pemerintah Rusia harus mengambil strategi lain agar pemasaran produk alutsista yang ditawarkan ke Indonesia bisa terus mulus, tak tergerus oleh kompetisi keras dari pemasok asal Korea Selatan, Eropa Barat dan AS yang rajin menawarkan skema ToT ke Indonesia. ToT menjadi isu yang krusial, mengingat pemerintah Indonesia telah mensyaratkan harus adanya ToT dalam tiap produk alutsista yang di impor. (more…)
Mengikuti jejak TNI AL, TNI AU juga melirik Ukraina sebagai salah satu negara pemasok untuk alutsista. Sayangnya akibat konflik yang berkecamuk, TNI AL lewat Kementerian Pertahanan kemudian membatalkan pesanan panser amfibi BTR-4. Tapi mungkin karena situasi kian kondusif, kini TNI AU tengah melirik berbagai produk militer dari Ukraina. Kabar ini datang dari Ukroboronprom, perusahaan plat merah di Ukraina yang bergerak di bidang pertahanan. (more…)
Terkait tugasnya di wilayah lautan, bila selama ini TNI AU baru sebatas melakukan peran intai maritim tanpa dapat melakukan penindakan, maka terkait tren pemberantasan illegal fishing yang sedang dicanangkan pemerintah, TNI AU pun ingin mengambil peran yang lebih strategis. Salah satu wujudnya dengan keinginan dari pihak TNI AU untuk bisa mengoperasikan pesawat amfibi multipurpose buatan Rusia, Beriev Be-200 Altair. Pesawat ini dapat langsung mendarat di laut dan kemudian menerjunkan pasukan untuk melakukan inspeksi ke kapal-kapal yang mencurigakan. (more…)
Menutup program MEF (Minimum Essential Force) Tahap I yang berakhir tahun 2014, lewat beberapa kali kedatangan, akhirnya kini Korps Marinir telah genap memiliki 54 unit ranpur amfibi IFV (Infantry Fighting Vehicle) BMP-3F buatan Rusia. Bahkan, guna melengkapi rencana jangka panjang pengembangan postur Marinir TNI AL, pemerintah berencana untuk menambah BMP-3F hingga berjumlah total 81 unit, berikut pengadaan 10 unit BMP-3FK, dan 4 unit BREM-L. (more…)