Sandingan Langka Su-57 Single Seat vs Tandem Seat: Ini Detail Rahasia yang Membedakan Keduanya!

Sebuah pemandangan langka dan bersejarah berhasil diabadikan di fasilitas penerbangan dekat Komsomolsk-on-Amur, Rusia Timur Jauh. Menyusul kesuksesan penerbangan perdana (maiden flight) varian berkursi ganda (tandem seat) Sukhoi Su-57 pada 19 Mei 2026, muncul foto dokumentasi dari United Aircraft Corporation (UAC) yang memperlihatkan prototipe bersandi ‘055’ tersebut bersanding sejajar dengan Su-57 varian standar (single seat) bernomor lambung ‘509’.
Foto tersebut memberikan kesempatan emas bagi analis kedirgantaraan untuk membedakan secara visual dan teknis evolusi arsitektur jet tempur siluman generasi kelima Rusia tersebut.
Meskipun sekilas kedua pesawat mempertahankan siluet aerodinamis khas keluarga Felon, pengamatan lebih dekat mengungkap serangkaian modifikasi radikal dan detail sensor yang membedakan versi operasional dengan varian masa depan ini. Berikut adalah analisis komparatif mendalam mengenai perbedaan kedua platform:
1. Desain Kanopi dan Rekayasa Kokpit
Perbedaan paling mencolok berada pada konfigurasi kokpit dan kanopi pesawat. Pada Su-57 single-seat (nomor 509), kanopi didesain ringkas, meluncur ke belakang, dan dioptimalkan untuk memberikan visibilitas penuh bagi seorang pilot tunggal dengan hambatan udara (drag) seminimal mungkin.
Sebaliknya, pada prototipe Su-57 tandem-seat (nomor 055), Sukhoi menerapkan arsitektur elongated canopy (kanopi yang dipanjangkan). Struktur kaca pembungkus kokpit ini dibuat jauh lebih masif dan memanjang ke belakang guna mengakomodasi stasiun kerja kedua untuk personel Weapon Systems Officer (WSO) atau instruktur terbang. Rekayasa ini memaksa adanya penyesuaian pada struktur tulang punggung (spine) pesawat di belakang kokpit agar aliran udara tetap mengalir mulus menuju sirip ekor ganda.

2. Komparasi Sensor: Kehadiran IRST dan Misteri Lenyapnya Turret DIRCM
Jika melihat lebih detail pada area hidung dan punggung kedua pesawat, terdapat kesamaan sekaligus perbedaan mencolok pada sistem proteksi elektro-optik mereka:
Sistem IRST (Infrared Search and Track): Baik versi single-seat ‘509’ maupun tandem-seat ‘055’ terlihat sama-sama tetap dilengkapi dengan bola sensor IRST 101KS-V yang ikonik di depan kaca kokpit utama. Sensor pasif ini sangat krusial bagi kedua varian untuk memburu jet tempur siluman lawan tanpa harus menyalakan radar utama yang bisa membongkar posisi mereka.
Sistem DIRCM (Directional Infrared Countermeasures): Perbedaan drastis justru terlihat pada absennya sistem proteksi aktif penangkal rudal. Pada Su-57 single-seat, terdapat turret sensor 101KS-O (DIRCM) yang menonjol di area punggung belakang kokpit dan di bawah hidung pesawat, yang berfungsi menembakkan sinar laser untuk “memicingkan” sensor pencari panas pada rudal penangkis udara (heat-seeking missiles).
Namun, pada varian tandem-seat ‘055’, turret DIRCM sama sekali tidak terlihat. Absennya DIRCM pada prototipe ‘055’ diduga karena statusnya yang masih berupa purwarupa fokus uji aerodinamika kedirgantaraan, atau ruang internal atasnya telah tersita untuk modifikasi struktur kokpit ganda, sehingga sistem proteksi aktif tersebut kemungkinan baru akan diintegrasikan pada fase produksi massal berikutnya.
HQ versions 1/3 https://t.co/3f7j0jy9aA pic.twitter.com/P9lquWmYRg
— George N. (@GeorgeN28581) May 19, 2026
3. Dimensi Ruang Dalam dan Tanki Bahan Bakar
Hukum fisika dalam desain pesawat tempur mendikte bahwa penambahan kokpit kedua akan selalu mengorbankan ruang internal. Pada versi single-seat, area di belakang kursi pilot digunakan secara maksimal untuk kompartemen avionik tingkat tinggi dan tangki bahan bakar internal yang besar, memberi Su-57 keunggulan jangkauan terbang yang masif.
Pada varian tandem-seat, ruang internal tersebut harus dipangkas untuk ruang kaki dan sistem pendukung kehidupan (life support system) personel di kursi belakang. Konsekuensinya, varian berkursi ganda ini kemungkinan besar memiliki kapasitas bahan bakar internal yang sedikit lebih kecil dibandingkan versi standar, kecuali Rusia melakukan modifikasi minor pada ketebalan sayap atau struktur internal lainnya untuk kompensasi.
4. Pergeseran Peran: Pengendali Udara Tunggal vs Otak Komando Drone
Perbedaan terbesar yang tidak kasat mata terletak pada doktrin operasional keduanya:
Su-57 Single Seat: Didesain murni sebagai jet tempur superioritas udara konvensional. Pilot tunggal memikul beban kerja (workload) penuh mulai dari menerbangkan pesawat, melakukan navigasi, mengoperasikan radar, hingga mengeksekusi target musuh secara mandiri.
Su-57 Tandem Seat (Su-57D): Berperan sebagai pusat komando taktis udara (airborne command post). With adanya personel kedua di kursi belakang, beban kerja dibagi secara efisien. Ketika pilot di depan fokus pada manuver udara dan pertahanan diri, personel di belakang bertindak sebagai “Otak” yang mengendalikan kawanan drone tempur (loyal wingman) seperti S-70 Okhotnik, mengelola perang elektronika, serta memandu rudal jarak jauh ke wilayah pertahanan musuh yang padat.
Bocor di Medsos! Varian Dua Kursi Sukhoi Su-57 Felon Rusia Mulai Uji Darat (Ground Test)
5. Distribusi Bobot dan Aspek Siluman (Stealth)
Penambahan kursi kedua, sistem pembagian instrumen avionik ganda, serta kanopi yang lebih besar secara otomatis menambah bobot kosong (empty weight) dari prototipe ‘055’. Selain pengaruhnya pada thrust-to-weight ratio, struktur kanopi tandem yang lebih besar dan area sambungan kaca yang lebih luas menghadirkan tantangan tersendiri bagi tanda rintangan radar (Radar Cross Section – RCS).
Biro desain Sukhoi harus melapisi kanopi memanjang ini dengan lapisan film khusus berbasis metalik indium-tin-oxide secara lebih presisi agar pantulan gelombang radar dari dalam kokpit kedua tidak merusak karakteristik siluman pesawat.
Sandingan visual antara Su-57 nomor 509 dan 055 membuktikan bahwa Rusia tidak sekadar membuat pesawat latih versi dua kursi biasa. Kehadiran Su-57 tandem seat adalah langkah evolusioner komparatif yang disiapkan untuk memimpin pertempuran udara masa depan berbasis kecerdasan buatan dan integrasi tanpa awak, sementara versi single-seat akan tetap menjadi ujung tombak penempur taktis utama di garis depan. (Haryo Adjie)
Di Aero India 2025, Untuk Pertama Kali Sukhoi Su-57 Felon ‘Bersanding’ dengan F-35A Lightning II


