Saab Resmi Luncurkan Unit Perdana Gripen F Tandem Seat Pesanan Angkatan Udara Brasil

Bertempat di fasilitas perakitan utamanya di Linköping, Swedia, Saab pada 2 Juni 2026, secara resmi meluncurkan (rollout) unit pertama jet tempur kursi ganda (two-seat) Gripen F pesanan Angkatan Udara Brasil (Força Aérea Brasileira – FAB). Peluncuran varian terbaru dari keluarga Gripen E/F ini menjadi bukti nyata kedewasaan program transfer teknologi yang telah berjalan sejak kontrak pembelian senilai 36 unit pesawat ditandatangani pada tahun 2014 silam.

Baca juga: Gripen dan Typhoon Siap Unjuk Kebolehan Cockpit Demonstrator di Indo Defence 2014

Kontrak tersebut mencakup pengadaan 28 unit varian kursi tunggal Gripen E (F-39E) dan 8 unit varian kursi ganda Gripen F (F-39F). Hingga pertengahan tahun 2026 ini, Saab telah sukses menyerahkan total 11 unit pesawat kepada Brasil, di mana unit perdana Gripen F berkode manufaktur MSN 708 ini selanjutnya akan langsung digeser ke Saab’s Flight Test Centre di Swedia guna menjalani kampanye uji terbang intensif untuk validasi sistem kokpit ganda sebelum akhirnya dikirim secara resmi ke pangkalan udara tujuan.

Hadirnya Gripen F menjadi jawaban taktis atas dilema klasik yang dihadapi setiap angkatan udara modern dalam melatih penerbang tempur berkinerja tinggi. Umumnya, konversi pilot dari pesawat latih ke jet tempur garda depan menyisakan celah (gap) insting dan adaptasi yang cukup lebar karena perbedaan sistem elektronika dan performa pesawat.

Gripen F memangkas celah tersebut dengan menawarkan kemampuan tempur yang sepenuhnya operasional dan setara dengan varian kursi tunggal, namun dilengkapi dengan kokpit kedua yang independen. Fitur ini memungkinkan instruktur dan siswa penerbang untuk berbagi beban kerja (workload) secara nyata di dalam satu pesawat, di mana keduanya memiliki akses penuh terhadap sensor radar, manajemen persenjataan, serta sistem kendali terbang.

Dalam skenario pertempuran berintensitas tinggi, keberadaan dua pilot berkualifikasi di dalam kokpit Gripen F juga memberikan nilai operasional yang sangat masif di luar fungsi latihan, karena mampu mereduksi tekanan kognitif kru dalam mengambil keputusan taktis yang cepat dan akurat di medan perang.

Secara teknis, Gripen F mewarisi seluruh arsitektur sistem misi berbasis open-architecture, sensor canggih, dan sistem propulsi yang sama dengan varian kursi tunggal Gripen E. Lini jet tempur generasi 4.5 ini mengandalkan mesin turbofan tunggal Volvo Aero RM12—sebuah mesin turunan dari General Electric F404—yang mampu memuntahkan daya dorong hingga 80 kilonewton dengan afterburner, dikombinasikan dengan konfigurasi sayap delta-canard yang memberikan kelincahan legendaris baik di kecepatan rendah maupun tinggi.

Namun, sebagai konsekuensi logis dari penambahan ruang untuk kokpit kedua (tandem seat), terdapat beberapa perbedaan spesifikasi fisik yang sangat signifikan antara Gripen E dan Gripen F. Penambahan panjang bodi pesawat pada Gripen F secara otomatis mereduksi kapasitas tangki bahan bakar internalnya, sehingga varian kursi ganda ini membawa avtur yang lebih sedikit dan memiliki radius tempur mandiri yang sedikit lebih pendek dibandingkan dengan Gripen E, kecuali jika dibantu dengan tangki bahan bakar cadangan eksternal (drop tank) atau pengisian bahan bakar di udara (air-to-air refueling).

Perkuat Langit Ukraina, Swedia Resmi Hibahkan Jet Tempur Gripen C/D dan Sepakati Kontrak Varian Gripen E

Perbedaan spesifikasi yang paling mencolok dan menjadi ciri khas pembeda antara kedua varian ini terletak pada sektor persenjataan organiknya. Demi mengakomodasi ruang kokpit belakang bagi instruktur atau Weapons Systems Officer (WSO), Saab terpaksa menghilangkan komponen kanon internal pada Gripen F.

Jika varian kursi tunggal Gripen E dipersenjatai dengan kanon internal Mauser BK27 kaliber 27 mm yang tertanam di sisi kiri bawah kokpit, maka varian Gripen F sama sekali tidak mengadopsi kanon internal tersebut. Kendati kehilangan senjata mesin organiknya, Gripen F tetap mempertahankan 10 titik keras (hardpoints) persenjataan eksternal yang memungkinkannya menggotong kombinasi rudal udara-ke-udara jarak melampaui cakrawala (BVR) seperti Meteor, rudal pintar udara-ke-permukaan, hingga gun pod eksternal jika misi pertempuran jarak dekat memang diwajibkan.

Keberhasilan proyek bersama ini ditegaskan oleh Lars Tossman selaku Head of Saab’s Business Area Aeronautics, yang menyatakan bahwa Gripen F bukan sekadar jet tempur canggih bagi FAB, melainkan simbol kedaulatan dirgantara dan hasil nyata dari kepercayaan serta ambisi bersama yang dibangun selama bertahun-tahun antara Swedia dan industri pertahanan Brasil.

Menariknya, daya tarik komersial dari varian jet tempur kursi ganda operasional ini tidak hanya memikat Brasil. Saab tercatat telah mengamankan pesanan ekspor untuk Gripen F dari beberapa negara lain, termasuk Thailand yang membutuhkan varian ini untuk melengkapi infrastruktur pelatihan armada Gripen eksisting mereka sejak 2011. (Gilang Perdana)

Angkatan Udara Thailand Pertama Kali Gelar Latihan Take off and Landing Gripen di Jalan Raya

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *