Revolusi Bofors 40 Mk4: BAE Systems Rilis Varian CIWS Otonom dan Meriam Modular Kontainer

Produsen alutsista terkemuka BAE Systems Bofors secara resmi meluncurkan keluarga baru sistem persenjataan meriam kapal (naval gun system) berbasis Bofors 40 Mk4 dalam ajang pameran pertahanan maritim Euronaval 2026 di Paris.
Baca juga: Bofors 40 MK4: Generasi Canggih Meriam Kaliber Sedang TNI AL
Inovasi mutakhir ini menghadirkan evolusi radikal yang merentang mulai dari kubah meriam mandiri berpemandu electro-optical di atas kontainer peti kemas (containerised mount), hingga varian Close-In Weapon System (CIWS) berorientasi sistem radar modern yang diproyeksikan untuk melengkapi atau menggantikan posisi kanon Phalanx pada armada kapal perang utama Angkatan Laut Inggris (Royal Navy).
Secara histori pengembangan, keluarga baru ini dibangun dari fondasi sukses kubah Bofors 40 Mk4 standar yang telah dipasarkan selama satu dekade dan dioperasikan oleh sedikitnya sembilan negara. Di lingkungan Royal Navy, sepuluh unit Bofors 40 Mk4 telah dipesan sejak 2020 untuk memperkuat lima unit frigate Type 31 (dua kubah per kapal) bersama meriam utama Bofors 57 Mk3.
Dalam konfigurasi dasarnya, meriam otomatis ini sanggup menyalak hingga 300 putaran per menit (rounds per minute) dengan kapasitas magasin internal 100 amunisi. Dipadukan dengan amunisi pintar dapat diprogram Bofors 3P, sistem ini mampu melumpuhkan berbagai ancaman taktis—mulai dari jet tempur, helikopter, rudal anti-kapal, loitering munitions, kawanan drone ukuran kecil hingga sedang, hingga menghantam kapal permukaan tanpa awak (Uncrewed Surface Vessels/USV).
BAE Systems Luncurkan Tridon MK2: Meriam Bofors 40 MK4 Naval Gun yang Dipasang pada Platform Truk
Menariknya, lahirnya sistem persenjataan laut baru ini merupakan hasil dari konsep siklus tertutup (closing the circle). BAE Systems awalnya melihat peluang pertahanan udara berbasis darat (land-based air defence) dan penangkal drone, sehingga mengadaptasi kubah meriam kapal menjadi sistem darat bergerak bertajuk Tridon Mk2 yang dipasang di atas truk logistik militer.
Setelah Tridon Mk2 sukses diluncurkan pada Juni 2024 dan resmi dibeli oleh Swedia pada April 2026, sejumlah operator Angkatan Laut mendorong BAE untuk membawa kembali konsep mandiri tersebut ke atas geladak kapal perang (Sea Tridon) serta melahirkan varian CIWS murni (Sea Trinity). Karena seluruhnya berbasis pada inti Bofors 40 Mk4, terdapat kesamaan total (100% commonality) untuk suku cadang maupun kompatibilitas amunisi 3P di semua lini platform.

Guna memenuhi spektrum kebutuhan operasi maritim modern, BAE Systems membagi keluarga baru ini ke dalam dua konfigurasi utama:
Sea Tridon (Untuk Kapal Kecil dan Kontainerisasi Modular)
Dirancang sebagai sistem meriam mandiri yang terintegrasi dengan penjejak electro-optical (EO). Varian ini sangat ideal untuk kapal patroli kecil yang tidak memiliki Combat Management System (CMS) kompleks. Menariknya, BAE merancang Sea Tridon versi kontainer di atas modul ISO 20 kaki.
Di dalam kontainer tersebut, dipasang sistem pengisian bawah geladak (below-deck loading system) yang mampu mendongkrak kapasitas magasin dari 100 ronde menjadi 300 hingga 500 ronde amunisi 3P, lengkap dengan sistem kontrol komando (C2) dan unit penyimpanan daya mandiri. Konsep plug-and-play ini memungkinkan meriam dipindah-pasangkan dengan cepat ke atas kapal logistik, kapal pemandu drone, maupun kapal dagang yang melintasi zona berbahaya.
Sea Trinity (Sistem CIWS Otonom Berbasis Radar)
Menghidupkan kembali nama legendaris “Trinity” dari dekade 1990-an, varian ini menjelma menjadi CIWS otonom kelas berat untuk menandingi atau melampaui keandalan Phalanx. Sea Trinity menggabungkan kubah 40mm dengan radar penjejak dan pencari target (target detection & tracking radar) secara langsung pada kupel bahan serat karbon (carbon fibre cupola) yang telah diperkuat.
Seluruh rantai eksekusi detect-to-engage loop diproses secara mandiri di dalam kubah tanpa perlu bergantung pada pemrosesan data sistem utama kapal. Karakteristik ini membuat Sea Trinity sangat ideal untuk perlindungan terminal jarak pendek terhadap serangan rudal cepat, serta sangat cocok dipasang pada kapal induk besar (seperti kelas Queen Elizabeth) maupun kapal tempur tanpa awak (medium-large USVs) karena membutuhkan perawatan teknis yang minimal.
Langkah BAE Systems mengembalikan meriam Bofors 40mm ke dalam arsitektur CIWS otonom berbasis radar dan sistem modular kontainer menandai babak baru dalam pertempuran maritim asimetris. Dengan jangkauan tembak yang lebih jauh dibanding sistem kanon 20mm atau 30mm konvensional serta dukungan amunisi serpih 3P yang sangat presisi, keluarga Bofors 40 Mk4 generasi baru ini siap menjadi benteng pertahanan utama armada maritim dunia dalam menghadapi ancaman kawanan drone dan rudal modern. (Haryo Adjie)
Tandingi Tridon MK2: KNDS Tawarkan Sistem Hanud RapidFire 8×8 dengan Prinsip Gelar Kontainer


