Deteksi Kapal Selam Cina dan Pakistan, India Gelar Jaringan Kabel Sensor Bawah Laut UFOSS di Samudra Hindia

Peta persaingan perang bawah air (underwater warfare) di kawasan Samudra Hindia memasuki babak baru yang krusial. Guna mengantisipasi lonjakan kehadiran kapal selam Angkatan Laut Cina dan Pakistan, India mengambil langkah strategis dengan menanam “mata dan telinga” elektronik di dasar laut.

Baca juga: Pantau Pergerakan Kapal Selam Asing, TNI AL Berniat Adopsi “SOSUS” di ALKI

Lembaga riset pertahanan India, Defence Research and Development Organisation (DRDO), melalui laboratorium peperangan bawah air utamanya, Naval Physical and Oceanographic Laboratory (NPOL), resmi meluncurkan proyek ambisius bernama Underwater Fiber Optic Sensing System (UFOSS). Jaringan sensor bawah laut berbasis kabel serat optik ini dirancang untuk memonitor, mendeteksi, dan menganalisis setiap pergerakan wahana bawah air asing secara nonstop selama 24 jam penuh.

Langkah agresif New Delhi ini merupakan respons langsung terhadap dinamika ancaman yang kian nyata di halaman belakang mereka. Bulan lalu, Pakistan baru saja menerima kapal selam Hangor class pertama buatan Cina yang dilengkapi teknologi Air-Independent Propulsion (AIP)—sebuah kemampuan senyap yang memungkinkan kapal selam bertahan di dalam air selama berminggu-minggu, kemampuan yang ironisnya belum dimiliki oleh armada kapal selam konvensional India saat ini.

Di sisi lain, kapal selam nuklir maupun konvensional Angkatan Laut Cina (PLAN) secara berkala terus berpatroli di Samudra Hindia, disokong oleh kapal-kapal riset mereka yang secara sistematis memetakan kontur hidrografis dasar laut guna mengumpulkan data batimetri yang sangat berharga bagi operasi kapal selam masa depan.

Setelah dari Malaysia, Kapal Selam Baru Pakistan PNS Hangor Sambangi Jakarta

Bagi India, proyek UFOSS adalah solusi cerdas sekaligus jalan pintas untuk menutupi kesenjangan (capability gap) modernisasi armada bawah airnya yang mengalami penundaan bertahun-tahun. Saat ini, Angkatan Laut India tidak mengoperasikan satu pun kapal selam serang bertenaga nuklir (SSN) setelah sewa kapal selam Akula class (Chakra III) dari Rusia tertunda lebih dari tiga tahun.

Sementara itu, program domestik untuk membangun dua unit SSN yang baru disetujui pada Oktober 2024 diproyeksikan memakan waktu lebih dari satu dekade untuk beroperasi, dan proyek pengadaan enam kapal selam konvensional canggih (Project-75I) juga masih menunggu persetujuan akhir. Mengingat kapal selam adalah platform Anti-Submarine Warfare (ASW) terbaik untuk memburu kapal selam lainnya, kekosongan armada ini memaksa India memaksimalkan aset udara seperti pesawat patroli maritim P-8I Poseidon dan helikopter MH-60R Seahawk, yang kini akan diperkuat oleh jaringan sensor tetap UFOSS di dasar laut.

Punya P-8I Poseidon, AL India Resmi Pensiunkan Pesawat Intai Maritim Jarak Jauh Ilyushin Il-38 Sea Dragon

Secara taktis, sistem UFOSS mengadopsi konsep legendaris yang terbukti ampuh sejak era Perang Dingin. Konsep ini serupa dengan jaringan Sound Surveillance System (SOSUS) milik Amerika Serikat yang digunakan untuk melacak kapal selam Uni Soviet, atau proyek “Tembok Besar Bawah Laut” (Underwater Great Wall) yang digelar Cina di Laut Cina Selatan.

Berbeda dengan kapal perang atau pesawat patroli yang hanya melintas secara periodik, sensor hidrofon pada UFOSS akan tertanam permanen di dasar laut, mendeteksi sinyal akustik sekecil apa pun, dan langsung mengirimkan data secara real-time via kabel optik ke stasiun pemantau di darat. Begitu kontak mencurigakan teridentifikasi, stasiun darat akan langsung memandu armada jet P-8I atau kapal perang terdekat untuk melakukan penindakan (ASW cueing), menjadikan wilayah laut India perimeter yang mematikan bagi penyusup.

‘Standby’ di Bandara Kertajati, Ini Kemampuan Khusus P-8I Poseidon, Pesawat Intai Maritim Angkatan Laut India

Berdasarkan dokumen Expression of Interest (EOI) yang dirilis, megaproyek ini ditargetkan rampung dalam waktu 48 bulan dengan usia operasional sistem mencapai 20 tahun. Jaringan UFOSS ini akan terdiri dari komponen wet-plant mutakhir, mulai dari susunan sensor bawah air, kotak sambungan (junction boxes), unit pencabangan (branching units), hingga kabel serat optik lapis baja yang tangguh.

Saat ini, DRDO tengah memburu mitra industri utama (Lead System Integrator) yang memiliki kemampuan menyeluruh, mulai dari manufaktur kabel, survei kelautan, hingga kepemilikan kapal khusus peletak kabel (cable-laying ships) dan wahana robot bawah laut (ROV). Proposal dari berbagai konsorsium pertahanan ditargetkan terkumpul pada 1 September untuk segera memulai cetak biru benteng bawah laut India ini. (Bayu Pamungkas)

Kontainer AKS: Sea Tracker Ultra Maritime, Ubah Kapal Biasa Jadi Pemburu Kapal Selam Kelas Fregat

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *