Buntut Perang Lawan Iran: Armada UCAV MQ-9 Reaper AS Banyak Rontok, Pentagon Kelabakan Cari Pengganti

Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) kini sedang berada dalam posisi terjepit dan bergerak cepat untuk menyelamatkan armada drone tempur mereka menyusul rontoknya puluhan unit UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) andalan, MQ-9 Reaper.

Baca juga: Analisis Citra Satelit Ungkap Kehancuran Masif Pangkalan AS Akibat Serangan Presisi Iran, F-35 Turut Menjadi Korban?

Berdasarkan laporan dari The War Zone (TWZ), Pentagon mengalami pukulan telak setelah kehilangan hampir 30 unit Reaper dalam rangkaian operasi militer intensif melawan Iran, yang diperparah oleh rontoknya sejumlah unit tambahan saat menjalankan misi berisiko tinggi menghadapi kelompok Houthi di Yaman.

Angka kehilangan yang begitu masif ini langsung memicu alarm bahaya di internal militer AS, mengingat jalannya peperangan modern saat ini sangat bergantung pada kehadiran drone untuk mengikis kekuatan lawan tanpa harus mengorbankan nyawa pilot manusia.

Anjloknya populasi Reaper secara drastis ini sebagian besar terjadi dalam palagan sengit bersandi Operasi Epic Fury, sebuah kampanye serangan udara besar-besaran AS yang diluncurkan untuk melumpuhkan jaringan militer Iran. Dalam operasi tersebut, MQ-9 Reaper sebenarnya dinobatkan oleh Kepala Staf Angkatan Udara AS sebagai “Pemain Terbaik” (Most Valuable Player) karena kegigihannya dalam memburu target-target dinamis seperti peluncur rudal bergerak dan radar musuh di wilayah udara yang sangat diperebutkan.

Namun, prestasi tersebut harus dibayar sangat mahal karena lambungnya yang besar dan kecepatan terbangnya yang lambat membuat Reaper menjadi sasaran empuk sistem pertahanan udara Iran yang berlapis, hingga menyebabkan sekitar 24 unit hancur tertembak jatuh di udara maupun hancur akibat serangan rudal balistik saat drone-drone ini sedang terparkir di pangkalan aju regional.

Situasi kian kritis bagi Pentagon karena varian yang banyak rontok tersebut, yakni MQ-9A, saat ini statusnya sudah tidak lagi diproduksi oleh sang pabrikan, General Atomics. Sebagai langkah darurat untuk menambal lubang menganga di skuadron tempur mereka, Angkatan Udara AS berencana memborong sisa-sisa pesawat yang belum terjual di gudang General Atomics, namun sayangnya laporan internal menyebutkan bahwa unit yang tersedia secara global saat ini jumlahnya sangat terbatas dan tidak sampai 10 unit.

Krisis inventaris ini terlihat sangat nyata pada buku data militer mereka, di mana jumlah armada siap tempur MQ-9 Reaper milik USAF tercatat merosot tajam dari 165 pesawat pada awal tahun fiskal 2026 menjadi hanya tersisa sekitar 135 unit saja yang aktif saat ini, sebuah angka yang berada jauh di bawah ambang batas minimal operasional yang ditetapkan aman oleh kongres.

Padahal, jika menengok rekam jejak spesifikasi teknisnya, MQ-9 Reaper merupakan drone pengintai dan penyerang yang memiliki reputasi luar biasa di dunia penerbangan tanpa awak. Dikembangkan sebagai penerus drone MQ-1 Predator, UCAV MALE (Medium Altitude Long Endurance) bertubuh bongsor ini ditenagai mesin turboprop Honeywell TPE331 yang memungkinkannya terbang mengudara terus-menerus selama lebih dari 24 jam non-stop pada ketinggian hingga 50.000 kaki.

“Flying Ginsu” Versi Turki: Mengenal Nester, Rudal Ninja Tanpa Hulu Ledak Penghancur Target Senyap

Keunggulan utama Reaper terletak pada fleksibilitas sensor fusion tingkat tinggi melalui sistem penargetan multi-spektral serta kapasitas angkut persenjataannya yang mencapai 1,7 ton, membuat drone ini mampu menggendong kombinasi maut berupa rudal anti-tank AGM-114 Hellfire dan bom pintar berpandu laser GBU-12 Paveway II.

Kehilangan massal dalam Operasi Epic Fury ini pun kini memaksa para pemikir strategi di Pentagon untuk mengevaluasi total doktrin perang drone mereka, serta mempercepat transisi menuju platform baru yang lebih kebal (survivable) di hadapan sistem pertahanan udara modern. (Gilang Perdana)

Drone Tempur (UCAV) Shahed-149 “Gaza” Terbang Perdana dengan Konfigurasi Senjata Lengkap

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *