Terganjal Upgrade Block 4, Korps Marinir AS Terpaksa Terima Jet Tempur F-35B Tanpa Radar

Militer Amerika Serikat secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima setidaknya enam unit jet tempur F-35 Lightning II untuk Korps Marinir AS (USMC) dalam kondisi tanpa radar. Kondisi yang terdengar ironis untuk jet tempur siluman generasi kelima ini merupakan imbas langsung dari keterlambatan pengembangan radar generasi terbaru, AN/APG-85, yang menjadi bagian dari rentetan masalah teknis di dalam program modernisasi jet tempur tersebut.
Baca juga: Program Block 4, F-35 Lightning II Terbang dengan Komputer Generasi Terbaru
Kepala F-35 Joint Program Office (JPO), Letjen Marinir Gregory Masiello, membenarkan penerimaan enam unit F-35 varian Short Takeoff and Vertical Landing (F-35B) tanpa radar tersebut dalam sebuah sidang di hadapan anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat AS. Radar canggih AN/APG-85 yang dijadwalkan menjadi komponen kunci dalam paket peningkatan (upgrade) Block 4 yang masif, diproyeksikan baru akan masuk jalur produksi dan siap dikirim pada April 2028. Keterlambatan ini menjadi pukulan telak mengingat program Block 4 sendiri sudah berjalan lima tahun di belakang jadwal dari target awal pengiriman.
Langkah menerima pesawat “kosong” tanpa radar ini sengaja diambil oleh Kementerian Pertahanan AS demi efisiensi waktu dan anggaran jangka panjang. Otoritas pertahanan memilih risiko untuk tetap memproduksi fisik jet tempur agar siap menampung teknologi Block 4 di kemudian hari.
Jika mereka memaksakan diri untuk terus memasang radar standar lama, AN/APG-81, pesawat-pesawat tersebut nantinya harus dibongkar total dan menjalani proses retrofit perangkat keras yang membutuhkan waktu bertahun-tahun serta biaya besar. Masalahnya, struktur dudukan mekanis untuk radar baru AN/APG-85 tidak kompatibel mundur (backward compatible) dengan radar lama, sehingga jet-jet baru yang keluar dari pabrik Lockheed Martin saat ini terpaksa diserahkan tanpa hidung radar yang terisi.
The U.S. military has officially confirmed that at least six F-35B fighters have been delivered without onboard radar systems due to delays in the next-generation AN/APG-85 AESA radar program.
The aircraft are expected to receive the new radar once production begins, while… pic.twitter.com/EdVjPlTtsU
— Ababeel (@AbabeelMilitary) June 27, 2026
Absennya komponen utama ini jelas melumpuhkan sebagian besar kapabilitas tempur F-35B milik Marinir AS tersebut. Letjen Masiello mengakui bahwa pesawat-pesawat tanpa radar ini tidak dapat dikategorikan sebagai pesawat berstatus Fully Mission Capable (FMC) atau siap mengemban misi tempur penuh. Ketiadaan radar tidak hanya membuat jet ini buta secara mandiri, tetapi juga memangkas sistem pertahanan perang elektronika (electronic warfare) miliknya yang sangat bergantung pada pancaran energi radar untuk meluncurkan serangan elektromagnetik ke arah musuh.
Meskipun kapabilitasnya menurun drastis, pesawat-pesawat radarless ini dinilai tidak sepenuhnya tidak berguna jika terpaksa dikirim ke medan laga dalam situasi darurat. Selama terbang dalam satu formasi dengan F-35 lain yang memiliki radar, jet ini dapat memanfaatkan data radar yang dibagikan secara bersama melalui Multifunction Advanced Data Link (MADL). Di samping itu, pilot masih bisa mengandalkan deretan sensor pasif bawaan serta pasokan data eksternal dari platform pertahanan lain lewat jaringan Link 16, walau tak ada satu pun dari sensor pasif tersebut yang bisa menggantikan peran utama radar.
Cina Berlakukan Kontrol Ekspor Galium, Produksi Radar AESA untuk F-35 Lightning II Terancam
Tantangan program F-35 tidak berhenti sampai di situ, karena kemunculan radar AN/APG-85 kelak juga membawa krisis baru dalam hal manajemen suhu (thermal management). Radar baru berbasis Gallium Nitride (GaN) beserta perangkat elektronik penunjang Block 4 membutuhkan sistem pendingin yang jauh lebih besar.
Saat ini, sistem pendingin F-35 hanya mampu menghasilkan daya sekitar 30 hingga 32 kilowatt, padahal radar APG-85 memerlukan kapasitas antara 62 hingga 80 kilowatt untuk beroperasi penuh. Akibat tidak adanya margin ruang pendinginan ini, Pentagon harus menunggu pembaruan sistem daya dan suhu (PTMS) lewat program Engine Core Upgrade dari Pratt & Whitney yang diperkirakan baru siap pada tahun 2031, memastikan skandal teknis alutsista termahal ini masih akan berlanjut lama. (Gilang Perdana)
Untuk Pertama Kali, Jet Tempur Stealth F-35B Terbang dengan Membawa Rudal Meteor


