Menengok CN-235 100 MPA Angkatan Laut Turki: Pemburu Kapal Selam ‘Sejati’ yang Dilengkapi Torpedo di Sayap

Bagi publik Indonesia, nama CN-235 selalu memicu kebanggaan mendalam. Pesawat legendaris hasil kerja sama jenius antara IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia) dan CASA Spanyol (kini Airbus Defense and Space) ini telah menjelma menjadi salah satu platform angkutan taktis dan pengintai paling sukses di dunia.
Baca juga: PTDI Tuntaskan Program Restorasi CN-235 100M A-2305 TNI AU: Siap Beroperasi di Papua
Namun, jika kita berbicara tentang varian intai maritim atau Maritime Patrol Aircraft (MPA) dengan kemampuan serang paling mematikan, takhta tertinggi saat ini secara de facto dipegang oleh armada milik Angkatan Laut (Türk Deniz Kuvvetleri) Turki.
Melalui program modernisasi yang radikal, Angkatan Laut Turki berhasil mengubah pesawat yang awalnya merupakan alat angkut taktis ini menjadi sebuah platform tempur laut terintegrasi yang mampu meluncurkan senjata pemukul langsung dari kedua sayap utamanya.
Jejak modifikasi monster maritim ini dimulai ketika Pemerintah Turki mencanangkan mega proyek bertajuk MELTEM pada akhir tahun 1990-an. Turki menyadari posisi geopolitiknya yang dikelilingi tiga laut strategis (Laut Hitam, Laut Aegea, dan Mediterania) menuntut kehadiran pengawal udara yang tangguh untuk mendeteksi ancaman di atas permukaan dan bawah air.

Sebagai platform dasar, Turki memilih seri CN-235-100. Untuk memenuhi kebutuhan lokal, armada pesawat ini dirakit secara berlisensi oleh TAI (Turkish Aerospace Industries) di fasilitas mereka di Ankara menggunakan komponen yang disuplai oleh CASA Spanyol. Dari total pengadaan, sebanyak 6 unit dialokasikan secara khusus untuk dikonversi menjadi pesawat pemburu kapal selam kelas berat.
Program konversi masif ini secara resmi berjalan di bawah proyek MELTEM II yang ditandatangani pada tahun 2002 dengan menggandeng raksasa teknologi pertahanan Perancis, Thales, sebagai integrator sistem utama, dibantu oleh industri pertahanan domestik Turki seperti Aselsan. Setelah melalui fase integrasi sistem avionik dan uji terbang yang rumit, unit CN-235 100 MPA pertama resmi diserahterimakan kepada Angkatan Laut Turki pada tahun 2012, dan seluruh unit tuntas dikirimkan pada pertengahan 2014.
Meskipun secara visual luar pesawat ini masih menggunakan basis bodi standar klasik seri 100 tanpa winglet (berbeda dengan varian CN-235 220 terbaru Indonesia yang memiliki winglet di ujung sayap), isi dalam kabin varian Turki ini adalah salah satu yang tercanggih di kelasnya. Jantung dari pesawat ini terletak pada sistem manajemen tempur AMASCOS (Airborne Maritime Situation Control System) buatan Thales. Sistem canggih ini mengintegrasikan seluruh instrumen sensor taktis berkemampuan tinggi, meliputi:
Radar Maritim Ocean Master: Mampu melacak ratusan target di permukaan laut secara simultan dari jarak jauh, bahkan dalam kondisi cuaca buruk.
FLIR (Forward Looking Infrared): Dudukan kubah kamera elektro-optik di bawah hidung pesawat untuk identifikasi visual resolusi tinggi siang dan malam.
MAD (Magnetic Anomaly Detector): Perangkat berbentuk tabung/ekor memanjang di buritan pesawat yang berfungsi mendeteksi distorsi medan magnet bumi akibat keberadaan kapal selam yang menyelam di kedalaman laut.
Sistem Peluncur Sonobuoy: Berfungsi menjatuhkan sensor sonar akustik ke air untuk memetakan koordinat presisi objek bawah air.
Ana Yüklenici Thales’in bu süre zarfında da sorunları çözememesi üzerine Haziran ayı sonunda sona eren Stand Still mutabakatının süresi Ağustos sonuna uzatılmış ve yoğun görüşmeler sonunda taraflar 2010 yılının son çeyreğinde bir orta yol üzerinde anlaşmaya varmıştı.
Buna göre… pic.twitter.com/dKuJoJ3K4W
— kaan_fox3✈️ 🇹🇷 (@kaan_fox3) April 12, 2025
Turkish Naval Forces CN-235 Sea Patrol Plane
MK-46 Mod 5 Torpedo Shooting
Turkish Naval Forces Sea Wolf 2017 Exercise📸https://t.co/JArDVDvHXr pic.twitter.com/1ePm7Ld1DP
— 𝓑𝓾𝓻𝓪𝓴 Ö𝓩𝓒𝓐𝓝 (@burakozcan3330) March 14, 2019
Hal utama yang membuat CN-235-100 MPA milik Turki ini begitu superior adalah kemampuan Anti-Submarine Warfare (ASW) penuh. Berbeda dengan mayoritas CN-235 maritim dunia yang umumnya hanya difungsikan sebagai pesawat intai atau batas patroli pantai (surveillance), armada Turki dibekali cakar pemukul yang mematikan.
Di bawah kedua sayap utamanya, terdapat hardpoint eksternal yang telah diperkuat secara struktural dan terhubung langsung ke sistem manajemen senjata di kokpit. Melalui cantelan ini, CN-235 AL Turki mampu membawa dan meluncurkan Torpedo Ringan Mk-46 atau Mk-54 buatan Amerika Serikat.
Begitu sensor MAD atau Sonobuoy mendeteksi adanya kapal selam penyusup, pilot dapat langsung melepaskan torpedo dari udara untuk melumpuhkan target seketika. Kemampuan ofensif bawaan sayap inilah yang hingga kini masih menjadi harapan dan target jangka panjang bagi pengembangan armada CN-235 MPA domestik di Indonesia.
Debut Operasi di Wilayah Panas
Sejak resmi memperkuat Skadron Udara ke-301 Angkatan Laut Turki yang berbasis di Pangkalan Udara Angkatan Laut Cengiz Topel, armada CN-235 ASW ini langsung menjadi tulang punggung pertahanan udara-ke-laut Turki.
Pesawat ini mencatatkan debut operasional yang sangat intens di kawasan Mediterania Timur dan Laut Aegea—wilayah yang kerap menjadi ajang ketegangan sengketa batas wilayah air. Dengan durasi ketahanan terbang (endurance) mencapai 6 hingga 8 jam, armada ini secara aktif melakukan patroli pengamanan, membayangi pergerakan kapal perang asing, mengendus keberadaan kapal selam tak dikenal, hingga menjalankan misi Search and Rescue (SAR) lintas negara. Keberhasilan Turki membuktikan bahwa airframe dasar rancangan Indonesia-Spanyol ini memiliki fleksibilitas luar biasa untuk bertransformasi menjadi platform militer kelas berat. (Abdi Waluyo)
Rahasia Operasi Absolute Resolve: Pesawat Intai CN-235 USAFSOC Jadi ‘Mata-mata’ Penentu di Venezuela



Tukang Ngitung : 20 unit × 2 torpedo = 40 torpedo
Mungkin yang jadi berat adalah manajemen tempur AMASCOS (Airborne Maritime Situation Control System)
Padahal CN235-220M made in Diegantara diatas kertas lebih bagus dari milik Turki (CN-235-100)
Tapi hingga saat ini, PT DI fungsionalnya mentok di Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne hasil kolaborasi PTDI dengan Scytalys, perusahaan pengembang perangkat lunak dan integrasi sistem berbasis Yunani
Dengan berbagai sensor, radar pengawasan maritim, sistem pengelolaan misi terintegrasi, serta sistem pertahanan diri berupa chaff dan flare, yang artinya mentok di misi patroli dan misi khusus lainnya tanpa bisa menghancurkan
Kapan ya CN-235 kita ada yang dedicated ASW.
20 biji aja