Ambisi Tank Masa Depan Kandas: Jerman dan Perancis Pangkas Proyek Awal MGCS Jadi Sekadar Kerja Sama Teknologi

Keretakan hubungan pertahanan antara Jerman dan Perancis tampaknya tidak hanya terjadi di segmen jet tempur generasi keenam (Future Combat Air System – FCAS). Harapan untuk melihat bersatunya dua kekuatan besar Eropa ini dalam melahirkan sebuah Main Battle Tank (MBT) generasi baru yang terpadu kini harus gigit jari.
Berdasarkan hasil Dewan Menteri Perancis-Jerman ke-26 yang digelar pada 17 Juli 2026 di Schloss Augustusburg dan Pangkalan Udara Nörvenich, program ambisius Main Ground Combat System (MGCS) resmi dipangkas secara masif.
Alih-alih membangun satu platform tank bersama untuk menggantikan Main Battle Tank (MBT) Leopard 2 Jerman dan Leclerc Perancis mulai tahun 2040, kedua negara kini mempersempit kerja sama mereka menjadi sekadar pengembangan “platform-independent technology” (teknologi yang tidak terikat pada satu platform kendaraan khusus).
Analis pertahanan dari media Jerman hartpunkt menilai bahwa bahasa diplomatis yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Jerman tersebut merupakan penegasan halus bahwa proyek tank bersama MGCS sebenarnya telah “mati” secara substansi, kecuali namanya saja. Pola ini dinilai sangat mirip dengan apa yang terjadi pada proyek jet tempur FCAS, di mana kerja sama kedua negara akhirnya menyusut hanya sebatas pengembangan lapisan jaringan Combat Cloud bersama, menyusul konfirmasi Kanselir Friedrich Merz bahwa Jerman dan Perancis tidak akan mengembangkan jet tempur fisik bersama-sama.
Sejak diluncurkan pada tahun 2017, proyek MGCS diproyeksikan sebagai sebuah ekosistem kendaraan lapis baja modern yang dibangun di atas satu sasis tunggal yang sama. Proyek ini awalnya digarap oleh KNDS (holding bersama Krauss-Maffei Wegmann Jerman dan Nexter Systems Perancis), sebelum akhirnya Rheinmetall masuk pada tahun 2019 dan memperumit pembagian porsi kerja industrial. Keretakan proyek ini sebenarnya sudah terlihat sejak nota kesepahaman (MoU) ditandatangani pada April 2024. Saat itu, kedua belah pihak gagal menyepakati desain kubah (turret) utama pada Pilar Dua (sistem meriam dan amunisi), sehingga masing-masing negara memilih mengembangkan senjatanya sendiri terlebih dahulu.
Enggan tersandera oleh ketidakpastian birokrasi dan perbedaan visi dengan Berlin, Perancis memilih bergerak cepat secara mandiri. Paris kini tengah mengembangkan proyek tank interim (interim tank) dengan target produksi sekitar 200 unit kendaraan. Menurut laporan internal, Perancis mengambil jalan tengah dengan mengintegrasikan kubah meriam buatan dalam negeri—kemungkinan besar sistem meriam ASCALON buatan KNDS France (Nexter) berkaliber 120 mm atau 140 mm—untuk dipasangkan di atas sasis kendaraan buatan Jerman.
Mengupas CAPINT: MBT Hibrida Jerman-Perancis Penyelamat Kekosongan Kapabilitas Tempur Eropa
Langkah lindung nilai (hedging) sengaja diambil oleh Paris agar mereka memiliki landasan kokoh untuk membangun generasi tank baru yang bisa sepenuhnya menjadi milik Perancis jika kerja sama dengan Jerman benar-benar mandek total.
Meskipun proyek tank bersama ini layu sebelum berkembang, kemitraan pertahanan antara Berlin dan Paris tidak sepenuhnya runtuh. Pertemuan tingkat tinggi tersebut masih menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis di sektor lain. Jerman dan Perancis sepakat untuk memperdalam kerja sama nuklir, yang ditandai secara simbolis lewat jet tempur Rafale Perancis berkemampuan nuklir dan Eurofighter Jerman yang melakukan pengisian bahan bakar di udara bersama untuk pertama kalinya.
Selain itu, kedua negara berkomitmen melanjutkan inisiatif peringatan dini JEWEL untuk pelacakan rudal, serta menggelar diskusi intensif bersama Inggris terkait pengembangan senjata presisi jarak jauh (long-range precision strike) dengan jangkauan melebihi 2.000 kilometer. (Gilang Perdana)
Minus Inggris, Komunitas Negara Eropa Luncurkan MARTE – Konsorsium Main Battle Tank Next Generation


